| 1 |
2026-09-23 |
Firman Tuhan Adalah Pegangan Teruji |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 23 September 2026. Firman Tuhan Adalah Pegangan Teruji (Amsal 30:5-9). 30:5 Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya. 30:6 Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta. 30:7 Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: 30:8 Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. 30:9 Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Amsal 30:5-9: |
Firman Tuhan adalah Pegangan Teruji. Amsal menegaskan bahwa setiap firman Allah adalah murni dan menjadi perisai bagi mereka yang berlindung kepada-Nya. Di tengah banyaknya suara, pendapat, dan kebenaran yang kita dengar setiap hari, kita mudah mengandalkan pikiran sendiri. Namun, iman mengajak kita kembali kepada firman Tuhan sebagai dasar untuk menilai, memilih, dan menjalani hidup. Sabda Allah bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk menjadi tempat kita berlindung dan menuntun langkah kita. Sabda-Mu adalah pelita bagi langkahku |
Belajar Mencukupkan Diri di Hadapan Tuhan. Penulis Kitab Amsal berdoa agar tidak diberi kemiskinan ataupun kekayaan, melainkan makanan yang menjadi bagiannya. Doa ini mengajarkan bahwa hati manusia mudah tersesat ketika kekurangan maupun ketika berkelimpahan. Kekurangan dapat membuat kita putus asa, sedangkan kelimpahan dapat membuat kita merasa tidak membutuhkan Tuhan. Karena itu, hidup beriman bukan pertama-tama tentang memiliki lebih banyak, melainkan tentang memiliki hati yang tahu bersyukur, merasa cukup, dan tetap mengandalkan Tuhan dalam keadaan apa pun. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 2 |
2026-09-24 |
Hidup Yang Bermakna |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 24 September 2026. Hidup Yang Bermakna (Pengkotbah 1:2-11). 1:2 Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. 1:3 Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? 1:4 Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada. 1:5 Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. 1:6 Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali. 1:7 Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu. 1:8 Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar. 1:9 Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. 1:10 Adakah sesuatu yang dapat dikatakan: Lihatlah, ini baru!? Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada. 1:11 Kenang-kenangan dari masa lampau tidak ada, dan dari masa depan yang masih akan datangpun tidak akan ada kenang-kenangan pada mereka yang hidup sesudahnya. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Pengkhotbah 1:2-11: |
Jangan Mencari Kepenuhan Hidup Hanya dalam Kesibukan Dunia. Pengkhotbah mengingatkan bahwa segala sesuatu adalah kesia-siaan: manusia bekerja, berjerih payah, tetapi dunia terus berjalan seperti biasa. Kita sering mengukur hidup dari banyaknya pekerjaan, pencapaian, dan kesibukan yang kita miliki. Namun, semua itu tidak dengan sendirinya memberi makna yang sejati. Bacaan ini mengajak kita bertanya: apakah di tengah kesibukan, kita sungguh sedang hidup bersama Tuhan, atau hanya sedang mengejar sesuatu yang akhirnya berlalu? |
Hidup Menjadi Bermakna Ketika Diarahkan kepada Yang Kekal. Pengkhotbah melihat bahwa generasi datang dan pergi, matahari terbit dan terbenam, dan segala sesuatu berputar dalam siklus yang sama. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang sungguh baru atau dapat kita genggam selamanya. Karena itu, hati manusia tidak boleh berhenti pada apa yang sementara. Kita dipanggil untuk menemukan makna hidup bukan dalam meninggalkan jejak nama kita sendiri, melainkan dalam kesetiaan kepada Tuhan, sebab hanya Dia yang memberikan arah dan makna melampaui kefanaan hidup. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 3 |
2026-09-25 |
Segala Sesuatu Ada Waktunya |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Jumat, 25 September 2026. Segala Sesuatu Ada Waktunya (Pengkotbah 3:1-11). 3:1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. 3:2 Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam 3:3 ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun 3:4 ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa ada waktu untuk meratap ada waktu untuk menari 3:5 ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk 3:6 ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang 3:7 ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara 3:8 ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai. 3:9 Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah? 3:10 Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya. 3:11 Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Pengkhotbah 3:1-11: |
Setiap Peristiwa Memiliki Waktu dalam Penyelenggaraan Tuhan. Pengkhotbah mengingatkan bahwa segala sesuatu ada waktunya: ada waktu untuk lahir dan meninggal, menangis dan tertawa, mencari dan kehilangan. Kita sering gelisah karena ingin segala sesuatu terjadi menurut waktu dan rencana kita sendiri. Namun, iman mengajarkan kita untuk belajar percaya bahwa hidup tidak selalu harus kita kendalikan. Ada saatnya kita bertindak, tetapi ada pula saatnya kita menunggu dengan sabar, karena Tuhan bekerja dalam waktu-Nya sendiri. |
Tuhan Menanamkan Kerinduan akan Keabadian dalam Hati Manusia. Pengkhotbah mengatakan bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya dan menaruh kekekalan dalam hati manusia. Ini menunjukkan bahwa hati manusia tidak pernah benar-benar puas hanya dengan apa yang sementara. Kita boleh menikmati sukacita, pekerjaan, relasi, dan berbagai berkat kehidupan, tetapi semuanya tidak dapat menjadi tujuan terakhir. Di balik setiap kerinduan manusia, ada kerinduan yang lebih dalam kepada Tuhan sendiri, sebab hanya Dia yang mampu memenuhi hati manusia dengan kepenuhan yang tidak dapat diberikan oleh dunia. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 4 |
2026-09-26 |
Ingat Sang Pencipta |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Sabtu, 26 September 2026. Ingat Sang Pencipta (Pengkotbah 11:9-12:8). 11:9 Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! 11:10 Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu, karena kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan. 12:1 Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!, 12:2 sebelum matahari dan terang, bulan dan bintang-bintang menjadi gelap, dan awan-awan datang kembali sesudah hujan, 12:3 pada waktu penjaga-penjaga rumah gemetar, dan orang-orang kuat membungkuk, dan perempuan-perempuan penggiling berhenti karena berkurang jumlahnya, dan yang melihat dari jendela semuanya menjadi kabur, 12:4 dan pintu-pintu di tepi jalan tertutup, dan bunyi penggilingan menjadi lemah, dan suara menjadi seperti kicauan burung, dan semua penyanyi perempuan tunduk, 12:5 juga orang menjadi takut tinggi, dan ketakutan ada di jalan, pohon badam berbunga, belalang menyeret dirinya dengan susah payah dan nafsu makan tak dapat dibangkitkan lagi--karena manusia pergi ke rumahnya yang kekal dan peratap-peratap berkeliaran di jalan, 12:6 sebelum rantai perak diputuskan dan pelita emas dipecahkan, sebelum tempayan dihancurkan dekat mata air dan roda timba dirusakkan di atas sumur, 12:7 dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya. 12:8 Kesia-siaan atas kesia-siaan, kata Pengkhotbah, segala sesuatu adalah sia-sia. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Pengkhotbah 11:9–12:8: |
Nikmatilah Masa Muda Tanpa Melupakan Tuhan. Pengkhotbah mengajak orang muda bersukacita dalam masa mudanya, menikmati hari-hari kehidupan, tetapi sekaligus mengingat bahwa semua yang dilakukan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Sukacita hidup bukanlah sesuatu yang harus dicurigai, tetapi harus dijalani dengan hati yang terarah kepada Tuhan. Karena itu, masa muda bukan hanya kesempatan untuk mencari pengalaman dan kesenangan, melainkan waktu untuk membangun iman, karakter, dan kebiasaan baik yang akan menjadi dasar bagi seluruh perjalanan hidup. |
Ingatlah Sang Pencipta Sebelum Waktu Mengajarkan Kita tentang Kefanaan. Pengkhotbah mengingatkan, “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu,” sebelum datang hari-hari ketika kekuatan manusia mulai meredup dan kehidupan perlahan menuju akhirnya. Kita sering baru mencari Tuhan ketika menghadapi kesulitan, kehilangan, atau usia senja. Padahal, Tuhan bukanlah tempat pelarian pada akhir kehidupan, melainkan pusat kehidupan sejak awal. Kesadaran bahwa hidup ini sementara bukan untuk membuat kita takut, tetapi untuk menolong kita menggunakan setiap hari dengan lebih bijaksana, sebelum akhirnya kita kembali kepada Sang Pencipta. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 5 |
2026-09-27 |
Pertobatan Berarti Percaya |
Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 27 September 2026. Pertobatan Berarti Percaya (Yehezkiel 18:25-28). 18:25 Tetapi kamu berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Dengarlah dulu, hai kaum Israel, apakah tindakan-Ku yang tidak tepat ataukah tindakanmu yang tidak tepat? 18:26 Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya. 18:27 Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. 18:28 Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Yehezkiel 18:25-28: |
Jangan Menuduh Jalan Tuhan Tidak Adil Hanya Karena Kita Tidak Memahami Cara-Nya. Nabi Yehezkiel menghadapi orang-orang yang berkata, “Tindakan Tuhan tidak tepat.” Mereka menilai keadilan Tuhan berdasarkan ukuran manusia. Padahal, Tuhan melihat seluruh perjalanan hidup manusia, bukan hanya satu bagian dari hidupnya. Allah tidak menghendaki kematian orang berdosa, tetapi pertobatan dan kehidupan. Karena itu, ketika hidup terasa tidak adil, kita tidak perlu buru-buru menyalahkan Tuhan. Bisa jadi, yang perlu diubah bukan jalan Tuhan, melainkan cara kita memandang jalan hidup kita sendiri. |
Masa Lalu Tidak Menjadi Penjara bagi Orang yang Mau Bertobat. Tuhan berkata bahwa orang fasik yang berbalik dari kejahatannya, memperhatikan hukum dan melakukan keadilan, akan menyelamatkan hidupnya. Ini menunjukkan bahwa di hadapan Tuhan, manusia selalu mempunyai kemungkinan untuk memulai kembali. Tuhan tidak mengunci seseorang dalam kesalahan masa lalunya. Karena itu, jangan berkata, “Saya sudah terlanjur begini,” atau “Dia memang dari dulu begitu.” Pertobatan berarti percaya bahwa rahmat Tuhan lebih besar daripada masa lalu kita. Yang menentukan bukan hanya siapa kita kemarin, tetapi ke mana kita memilih berjalan hari ini. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 6 |
2026-09-28 |
Iman Sejati |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin, 28 September 2026. Iman Sejati (Ayub 1:1-22). 1:6 Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis. 1:7 Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: Dari mana engkau? Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi. 1:8 Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub 2 ? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. 1:9 Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? 1:10 Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu. 1:11 Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu. 1:12 Maka firman TUHAN kepada Iblis: Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya. Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN. 1:13 Pada suatu hari, ketika anak-anaknya yang lelaki dan yang perempuan makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, 1:14 datanglah seorang pesuruh kepada Ayub dan berkata: Sedang lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan rumput di sebelahnya, 1:15 datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan. 1:16 Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan. 1:17 Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: Orang-orang Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan. 1:18 Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: Anak-anak tuan yang lelaki dan yang perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, 1:19 maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan. 1:20 Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah 8 , 1:21 katanya: Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN! 1:22 Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Ayub 1:6-22: |
Iman yang Sejati Tidak Hanya Bertahan Ketika Hidup Berjalan Baik. Ayub kehilangan harta, anak-anak, dan segala sesuatu yang selama ini menjadi sumber kebahagiaannya. Namun dalam kehancuran itu ia tetap berkata, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil.” Iman Ayub mengajarkan bahwa hubungan kita dengan Tuhan tidak boleh bergantung hanya pada berkat yang kita terima. Kita mudah bersyukur ketika sehat, rezeki cukup, keluarga aman, dan usaha berhasil. Tetapi iman menjadi sungguh-sungguh teruji ketika kita kehilangan, gagal, atau menghadapi sesuatu yang tidak kita mengerti. Tetap percaya di tengah penderitaan bukan berarti kita tidak menangis atau tidak merasa sedih, melainkan kita tidak membiarkan penderitaan membuat kita meninggalkan Tuhan. |
Dalam Kehilangan, Kita Tidak Harus Memahami Semuanya untuk Tetap Percaya. Ayub tidak mengetahui percakapan yang terjadi di surga dan tidak memahami mengapa semua malapetaka menimpa dirinya. Ia hanya tahu bahwa hidupnya sedang hancur. Namun ia tidak menggunakan penderitaannya sebagai alasan untuk mengutuk Tuhan. Di sinilah letak kedalaman iman: percaya bukan berarti memiliki jawaban atas semua pertanyaan, tetapi tetap menyerahkan diri kepada Tuhan ketika jawaban belum diberikan. Dalam hidup kita pun ada peristiwa yang tidak dapat kita mengerti—kehilangan orang yang kita cintai, kegagalan, penyakit, atau rencana yang tidak terwujud. Dalam keadaan seperti itu, mungkin kita belum mendapat jawaban “mengapa”, tetapi kita masih dapat berkata, “Tuhan, saya tidak mengerti, tetapi saya tetap percaya kepada-Mu.” |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 7 |
2026-09-29 |
Menjadi Utusan Allah |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Selasa, 29 September 2026. Pesta St. Mikhael, St. Gabriel, St. Rafael Malaikat Agung. Menjadi Utusan Allah (Daniel 7:9-10. 13-14). 7:9 Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar 7:10 suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-kitab. 7:13 Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. 7:14 Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Daniel 7:9-10,13-14, dalam terang Pesta Tiga Malaikat Agung, Mikhael, Gabriel, dan Rafael: |
Di Tengah Kekacauan Dunia, Allah Tetap Memegang Kuasa dan Kemenangan Ada di Tangan-Nya. Daniel melihat takhta Allah, dan di hadapan-Nya berdiri para malaikat yang melayani-Nya. Kemudian tampak “seorang seperti anak manusia” yang menerima kekuasaan, kemuliaan, dan kerajaan yang kekal. Penglihatan ini mengingatkan kita bahwa di balik segala kekacauan dan kekuatan dunia, ada Allah yang tetap berdaulat. Dalam tradisi Gereja, tiga malaikat agung membantu kita melihat karya Allah itu: Mikhael tampil sebagai pembela dalam perjuangan melawan kejahatan, Gabriel sebagai pembawa pesan Allah, dan Rafael sebagai tanda penyertaan Allah yang menyembuhkan dan menuntun. Karena itu, kita tidak perlu hidup dalam ketakutan. Kita dipanggil untuk tetap berdiri di pihak Allah, sebab kuasa terakhir bukan milik kejahatan, melainkan milik Tuhan. |
Menjadi “Utusan Allah” Berarti Membawa Perlindungan, Kabar Baik, dan Penyembuhan. Pesta tiga Malaikat Agung bukan hanya mengajak kita mengenal siapa Mikhael, Gabriel, dan Rafael, tetapi juga mengingatkan kita akan panggilan kita sebagai orang beriman. Seperti Mikhael, kita dipanggil berani melawan kejahatan seperti Gabriel, kita dipanggil membawa kabar yang baik dan seperti Rafael, kita dipanggil hadir untuk menuntun, menemani, dan membawa kesembuhan. Dunia tidak selalu membutuhkan orang yang banyak berbicara tentang Tuhan, tetapi membutuhkan orang yang menghadirkan Tuhan melalui keberanian, perkataan yang baik, dan kepedulian nyata. Maka, setiap keluarga dan komunitas Kristiani dipanggil menjadi tempat di mana orang merasa dilindungi dari kejahatan, mendengar kabar yang menggembirakan, dan mengalami kasih Allah yang menyembuhkan. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 8 |
2026-09-30 |
Aku Tidak Mengerti, Tetapi Aku Percaya |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 30 September 2026. Aku Tidak Mengerti, Tetapi Aku Percaya (Ayub 9:1-12.14-16). 9:1 Tetapi Ayub menjawab: 9:2 Sungguh, aku tahu, bahwa demikianlah halnya, masakan manusia benar di hadapan Allah? 9:3 Jikalau ia ingin beperkara dengan Allah satu dari seribu kali ia tidak dapat membantah-Nya. 9:4 Allah itu bijak dan kuat, siapakah dapat berkeras melawan Dia, dan tetap selamat? 9:5 Dialah yang memindahkan gunung-gunung dengan tidak diketahui orang, yang membongkar-bangkirkannya dalam murka-Nya 9:6 yang menggeserkan bumi dari tempatnya, sehingga tiangnya bergoyang-goyang 9:7 yang memberi perintah kepada matahari, sehingga tidak terbit, dan mengurung bintang-bintang dengan meterai 9:8 yang seorang diri membentangkan langit, dan melangkah di atas gelombang-gelombang laut 9:9 yang menjadikan bintang Biduk, bintang Belantik, bintang Kartika, dan gugusan-gugusan bintang Ruang Selatan 9:10 yang melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak terduga, dan keajaiban-keajaiban yang tidak terbilang banyaknya. 9:11 Apabila Ia melewati aku, aku tidak melihat-Nya, dan bila Ia lalu, aku tidak mengetahui. 9:12 Apabila Ia merampas, siapa akan menghalangi-Nya? Siapa akan menegur-Nya: Apa yang Kaulakukan? 9:13 Allah tidak menahani murka-Nya, di bawah kuasa-Nya para pembantu Rahab membungkuk 9:14 lebih-lebih aku, bagaimana aku dapat membantah Dia, memilih kata-kataku di hadapan Dia? 9:15 Walaupun aku benar, aku tidak mungkin membantah Dia, malah aku harus memohon belas kasihan kepada yang mendakwa aku. 9:16 Bila aku berseru, Ia menjawab aku tidak dapat percaya, bahwa Ia sudi mendengarkan suaraku. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Ayub 9:1-12.14-16: |
Di Hadapan Kebesaran Allah, Iman Tidak Selalu Berarti Memiliki Semua Jawaban. Ayub menyadari bahwa Allah begitu agung dan berkuasa, sehingga manusia tidak mungkin sepenuhnya memahami jalan-jalan-Nya. “Bagaimana mungkin manusia benar di hadapan Allah?” Pertanyaan Ayub bukan tanda bahwa ia kehilangan iman, melainkan ungkapan iman yang sedang bergumul. Ada saat ketika hidup menghadirkan penderitaan dan pertanyaan yang tidak segera mendapat jawaban. Dalam situasi demikian, iman bukanlah pertama-tama tentang kemampuan untuk menjelaskan mengapa sesuatu terjadi, tetapi keberanian untuk tetap datang kepada Allah meskipun hati belum memahami. Ayub mengajarkan bahwa pergumulan, pertanyaan, bahkan air mata dapat menjadi bagian dari perjalanan iman. |
Ketika Kita Tidak Sanggup Memahami Allah, Kita Dipanggil untuk Tetap Memercayakan Diri kepada-Nya. Ayub berkata bahwa sekalipun ia memanggil Allah dan Allah menjawabnya, ia merasa tidak mampu berhadapan dengan kebesaran-Nya. Di sini kita menemukan sebuah paradoks iman: Allah begitu jauh melampaui pemahaman manusia, tetapi justru kepada Allah itulah manusia menyerahkan dirinya. Iman Kristiani tidak menjanjikan bahwa semua misteri kehidupan akan segera dijelaskan, tetapi mengajarkan bahwa di tengah misteri itu kita tidak sendirian. Karena itu, ketika doa terasa sunyi dan jawaban belum datang, kita tetap dapat berkata: “Tuhan, aku tidak mengerti jalan-Mu, tetapi aku tetap percaya kepada-Mu.” |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 9 |
2026-10-01 |
Jalan Kecil Misi Gereja |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 01 Oktober 2026. Pesta St. Teresia dari Kanak-Kanak Yesus, Pelindung Misi. Jalan Kecil Misi Gereja (Yesaya 66:10-14). 66:10 Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem, dan bersorak-soraklah karenanya, hai semua orang yang mencintainya! Bergiranglah bersama-sama dia segirang-girangnya, hai semua orang yang berkabung karenanya! 66:11 supaya kamu mengisap dan menjadi kenyang dari susu yang menyegarkan kamu, supaya kamu menghirup dan menikmati dari dadanya yang bernas. 66:12 Sebab beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan. 66:13 Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu kamu akan dihibur di Yerusalem. 66:14 Apabila kamu melihatnya, hatimu akan girang, dan kamu akan seperti rumput muda yang tumbuh dengan lebat maka tangan TUHAN akan nyata kepada hamba-hamba-Nya, dan amarah-Nya kepada musuh-musuh-Nya. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Yesaya 66:10-14b, dalam kaitan dengan Pesta Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus, Pelindung Misi: |
Misi Berawal dari Pengalaman Dikasihi dan Dihibur oleh Allah. Yesaya menggambarkan Allah seperti seorang ibu yang menghibur anaknya: “Seperti seorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu.” Allah terlebih dahulu memberikan penghiburan, kelembutan, dan kehidupan kepada umat-Nya. Inilah dasar dari setiap perutusan: kita tidak pergi membawa sesuatu yang berasal dari diri kita sendiri, tetapi membawa kasih yang terlebih dahulu kita terima dari Allah. Santa Teresia memahami hal ini dengan sangat mendalam. Ia memilih menjadi kecil di hadapan Allah dan membiarkan dirinya dikasihi seperti seorang anak yang sepenuhnya percaya kepada orang tuanya. Dari hati yang mengalami kasih Allah itulah tumbuh kerinduan untuk menyelamatkan dan membawa jiwa-jiwa kepada-Nya. Karena itu, seorang misioner sejati bukan pertama-tama orang yang banyak berbicara tentang Allah, melainkan orang yang terlebih dahulu membiarkan dirinya disentuh oleh kasih Allah. |
Jalan Kecil Misi Gereja. Santa Teresia tidak pergi ke negeri-negeri misi dan tidak melakukan karya pewartaan yang besar secara lahiriah. Namun, melalui doa, pengorbanan kecil, kesetiaan dalam hal-hal sederhana, dan kasih kepada sesama, ia mempersembahkan seluruh hidupnya bagi karya misi. Karena itu Gereja mengangkatnya sebagai Pelindung Misi. Hal ini mengingatkan kita bahwa kekuatan misi tidak selalu tampak dalam karya-karya besar. Seperti gambaran Yesaya tentang sukacita dan penghiburan yang mengalir dari Yerusalem, kasih yang sederhana pun dapat menjadi saluran kehidupan bagi banyak orang. Setiap doa yang tulus, pengorbanan yang tersembunyi, kesabaran, dan tindakan kasih yang dilakukan karena cinta kepada Allah dapat menjadi bagian dari karya misioner Gereja. Di tangan Allah, sesuatu yang kecil yang dilakukan dengan kasih dapat menjadi besar bagi keselamatan banyak orang. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 10 |
2026-10-02 |
Allah Menyertai Perjalanan Kita |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Jumt, 02 Oktober 2026. Perayaan Wajib Para Malaekat Pelindung. Allah Menyertai Perjalanan Kita (Keluaran 23:20-23). 23:20 Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan. 23:21 Jagalah dirimu di hadapannya dan dengarkanlah perkataannya, janganlah engkau mendurhaka kepadanya, sebab pelanggaranmu tidak akan diampuninya, sebab nama-Ku ada di dalam dia. 23:22 Tetapi jika engkau sungguh-sungguh mendengarkan perkataannya, dan melakukan segala yang Kufirmankan, maka Aku akan memusuhi musuhmu, dan melawan lawanmu. 23:23 Sebab malaikat-Ku akan berjalan di depanmu dan membawa engkau kepada orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Kanaan, orang Hewi dan orang Yebus, dan Aku akan melenyapkan mereka. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Keluaran 23:20-23a, dalam kaitan dengan Pesta Wajib Para Malaikat Pelindung: |
Allah Menyertai Perjalanan Kita Melalui Utusan-Nya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan.” Perjalanan umat Israel menuju Tanah Terjanji mengingatkan kita bahwa hidup manusia juga merupakan sebuah perjalanan menuju kepenuhan hidup bersama Allah. Kita tidak selalu mengetahui apa yang ada di depan, tetapi Allah tidak membiarkan kita berjalan sendirian. Ia mengutus malaikat-Nya untuk menjaga dan menuntun. Para malaikat pelindung menjadi tanda bahwa perhatian Allah tidak pernah jauh dari kehidupan kita, bahkan dalam perjalanan yang tidak kita mengerti. Karena itu, kita dipanggil untuk berjalan dengan percaya, sambil belajar peka terhadap tuntunan Allah yang hadir dengan cara-cara yang sering kali lembut dan tidak kelihatan. |
Perlindungan Allah Menuntut Kita untuk Mendengarkan dan Setia pada Jalan-Nya. Malaikat yang diutus Allah bukan hanya bertugas melindungi, tetapi juga membawa umat pada jalan yang dikehendaki Allah: “Perhatikanlah dia dan dengarkanlah perkataannya.” Di sini kita melihat bahwa perlindungan ilahi bukan berarti kita bebas berjalan sesuka hati. Allah menjaga kita dengan menuntun kita kepada jalan yang benar. Pesta para malaikat pelindung mengajak kita bukan hanya memohon penjagaan, tetapi juga memiliki hati yang taat dan peka terhadap suara Allah. Sebab, sering kali bahaya terbesar bukanlah karena kita tidak dijaga, melainkan karena kita menolak tuntunan yang diberikan kepada kita. Maka, orang yang sungguh percaya pada penyertaan Allah akan belajar berjalan dengan hati yang waspada, mendengarkan suara-Nya, dan setia pada jalan yang membawa kepada kehidupan. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |