| 1 |
2026-11-02 |
Kasih Tidak Berakhir Oleh Kematian |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin, 02 Nopember 2026. Peringatan Arwah Semua Orang Beriman. Kasih Tidak Berakhir Oleh Kematian (2Makabe 12:43-46). Setelah menguburkan tentara yang gugur dalam pertempuran, Yudas, panglima Israel, menyuruh mengumpulkan uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan kurban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, karena Yudas memikirkan kebangkitan. Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati. Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu disuruhnyalah mengadakan kurban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, 2 Makabe 12:43-46: |
Kasih Tidak Berakhir oleh Kematian, tetapi Tetap Dinyatakan melalui Doa. Dalam bacaan pertama, Yudas Makabe mengumpulkan uang dan mengirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan kurban silih bagi orang-orang yang telah meninggal. Tindakan ini menunjukkan keyakinan bahwa kematian bukanlah akhir dari hubungan kasih antara mereka yang masih hidup dan mereka yang telah meninggal. Doa bagi arwah merupakan ungkapan kasih, kepedulian, dan iman akan kehidupan kekal. Hal ini mengajak kita untuk tidak hanya mengenang orang-orang yang telah meninggal melalui bunga, lilin, dan kunjungan ke makam, tetapi terutama melalui doa yang tulus. Sebab, meskipun kita tidak lagi dapat berbicara dan melakukan sesuatu secara langsung bagi mereka, kita tetap dapat menyerahkan mereka kepada kerahiman Allah melalui doa-doa kita. |
Iman akan Kehidupan Kekal Mengajarkan Kita untuk Memandang Kematian dengan Pengharapan. Yudas Makabe mempersembahkan kurban bagi orang-orang yang telah meninggal karena ia percaya akan kebangkitan dan kehidupan sesudah kematian. Keyakinan ini mengingatkan kita bahwa hidup manusia tidak berakhir di dalam kubur, sebab Allah berkuasa memberikan kehidupan yang kekal. Karena itu, kematian bukan hanya peristiwa kehilangan dan kesedihan, melainkan juga saat untuk memperbarui pengharapan akan janji Allah. Bagi kita yang masih hidup, iman ini menjadi undangan untuk mempersiapkan diri dengan menjalani kehidupan yang baik, memperbanyak perbuatan kasih, mengampuni, dan berdamai dengan sesama. Sebab, hidup yang dipenuhi kasih di dunia menjadi ungkapan iman kita akan kehidupan kekal bersama Allah. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 2 |
2026-11-03 |
Kerendahan Hati Adalah Jalan Menuju Kebebasan Sejati |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Selasa, 03 Nopember 2026. Kerendahan Hati Adalah Jalan Menuju Kebebasan Sejati (Filipi 2:5-11). 2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 2:11 dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa! |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Filipi 2:5-11: |
Kerendahan Hati adalah Jalan Menuju Kebesaran Sejati. Paulus mengajak jemaat untuk memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Meskipun memiliki kesetaraan dengan Allah, Kristus tidak mempertahankan kemuliaan-Nya, tetapi mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Sikap Yesus ini mengajarkan bahwa kebesaran sejati tidak terletak pada kedudukan, kekuasaan, atau penghormatan dari orang lain, melainkan pada kerelaan untuk merendahkan diri dan melayani. Dalam kehidupan sehari-hari, kita diajak untuk tidak selalu ingin dihormati, menang sendiri, atau merasa lebih penting daripada orang lain. Sebaliknya, kita belajar menghargai sesama, mengalah demi kebaikan bersama, dan melayani tanpa mencari pujian. Sebab, semakin seseorang mampu merendahkan hati, semakin nyata pula Kristus hidup dalam dirinya. |
Ketaatan kepada Allah Menuntut Kesediaan untuk Berkorban. Paulus menegaskan bahwa Kristus merendahkan diri dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Ketaatan Yesus bukan sekadar menjalankan kehendak Bapa ketika semuanya menyenangkan, tetapi tetap setia sekalipun harus melewati penderitaan dan pengorbanan. Hal ini mengajarkan bahwa mengikuti Tuhan tidak selalu berarti memilih jalan yang mudah. Ada kalanya kita harus berkorban demi mempertahankan kejujuran, mengampuni orang yang menyakiti kita, menjalankan tanggung jawab keluarga, atau melakukan kebaikan meskipun tidak dihargai. Namun, kita percaya bahwa pengorbanan yang dilakukan dalam kesetiaan kepada Allah tidak pernah sia-sia. Sebagaimana Allah meninggikan Kristus karena ketaatan-Nya, demikian pula kita diajak untuk percaya bahwa hidup yang dijalani dalam kerendahan hati dan kesetiaan akan menghasilkan buah bagi kemuliaan Allah. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 3 |
2026-11-04 |
Menjadi Terang: Tetap Setia Di Tengah Kegelapan Dunia |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 04 November 2026. Menjadi Terang: Tetap Setia Di Tengah Kegelapan Dunia (Filipi 2:12-18). 2:12 Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, 2:13 karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. 2:14 Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, 2:15 supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, 2:16 sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah. 2:17 Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian. 2:18 Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Filipi 2:12-18: |
Keselamatan Harus Dikerjakan dengan Kesungguhan, tetapi Bersumber dari Rahmat Allah. Paulus mengajak jemaat untuk mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar, sebab Allahlah yang bekerja dalam diri mereka, baik untuk menumbuhkan kemauan maupun melaksanakan pekerjaan yang berkenan kepada-Nya. Pesan ini mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang harus ditanggapi melalui iman, pertobatan, dan perbuatan kasih. Dalam kehidupan sehari-hari, kita diajak untuk terus berjuang melawan kebiasaan buruk, mengendalikan ego, mengampuni, dan melakukan kebaikan, sambil menyadari bahwa kekuatan untuk berubah berasal dari Allah. Sebab, iman yang sejati bukan hanya tentang usaha kita mencari Allah, tetapi juga kesediaan membiarkan Allah mengubah hati dan hidup kita. |
Menjadi Terang Berarti Tetap Setia di Tengah Dunia yang Gelap. Paulus mengingatkan jemaat agar melakukan segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, sehingga mereka dapat bercahaya seperti bintang-bintang di dunia dengan berpegang pada firman kehidupan. Pesan ini mengajarkan bahwa menjadi pengikut Kristus berarti menghadirkan kebaikan di tengah dunia yang sering diwarnai ketidakjujuran, iri hati, dan kepentingan diri sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dipanggil untuk tetap jujur ketika orang lain berbohong, bersabar ketika orang lain mudah marah, dan tulus ketika orang lain mencari keuntungan. Sebab, kesaksian Kristiani yang paling kuat bukan terutama terletak pada kata-kata tentang Tuhan, melainkan pada hidup yang membuat orang lain dapat melihat kasih dan kebaikan Allah. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 4 |
2026-11-05 |
Identitas Sejati Seorang Beriman |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 05 Nopember 2026. Identitas Sejati Seorang Beriman (Filipi 3:3-8a). 3:3 Karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. 3:4 Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: 3:5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, 3:6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. 3:7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. 3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Filipi 3:3-8a: |
Identitas Sejati Seorang Beriman Terletak pada Hati, Bukan pada Kebanggaan Lahiriah. Paulus mengingatkan bahwa orang yang sungguh-sungguh beribadah kepada Allah adalah mereka yang beribadah dalam Roh Allah, bermegah dalam Kristus Yesus, dan tidak mengandalkan hal-hal lahiriah. Paulus sendiri sebenarnya memiliki banyak alasan untuk membanggakan dirinya, mulai dari keturunan, status keagamaan, hingga ketaatannya pada hukum Taurat. Namun, ia menyadari bahwa semua itu bukan ukuran utama kedekatan seseorang dengan Allah. Pesan ini mengajak kita untuk tidak menjadikan jabatan, kekayaan, pendidikan, kedudukan, atau kesalehan lahiriah sebagai alasan untuk merasa lebih baik daripada orang lain. Sebab, iman yang sejati tidak diukur dari apa yang tampak di luar, melainkan dari hati yang sungguh-sungguh mengandalkan Allah dan hidup dalam Roh-Nya. |
Mengenal Kristus Jauh Lebih Berharga daripada Segala Keuntungan Duniawi. Paulus menganggap segala sesuatu yang dahulu menjadi kebanggaannya sebagai kerugian karena pengenalan akan Kristus Yesus jauh lebih berharga. Ia berani melepaskan hal-hal yang dahulu dianggap penting demi memperoleh Kristus. Sikap Paulus mengajarkan bahwa mengikuti Kristus terkadang menuntut keberanian untuk melepaskan sesuatu yang selama ini kita anggap sebagai sumber kebahagiaan dan kebanggaan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita diajak untuk tidak mengorbankan iman demi harta, jabatan, popularitas, atau keuntungan pribadi. Sebab, semua yang kita miliki di dunia ini bersifat sementara, sedangkan Kristus adalah harta yang tidak pernah kehilangan nilainya. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 5 |
2026-11-06 |
Menjadi Teladan Bagi Sesama |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Jumat, 06 Nopember 2026. Menjadi Teladan Bagi Sesama (Filipi 3:37-4:1). 3:17 Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu. 3:18 Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. 3:19 Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi. 3:20 Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, 3:21 yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya. 4:1 Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih! |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Filipi 3:17–4:1: |
Hidup Kristiani Harus Menjadi Teladan bagi Sesama. Paulus mengajak jemaat untuk mengikuti teladannya dan memperhatikan mereka yang hidup menurut teladan yang telah diberikan. Ia juga mengingatkan tentang orang-orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus, yang hanya memikirkan perkara duniawi dan menjadikan hal-hal duniawi sebagai tujuan hidup. Pesan ini mengajak kita untuk menyadari bahwa cara hidup kita dapat menjadi inspirasi, tetapi juga dapat menjadi batu sandungan bagi orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dipanggil untuk menunjukkan iman melalui sikap jujur, rendah hati, bertanggung jawab, dan penuh kasih. Sebab, menjadi pengikut Kristus bukan hanya tentang mengakui iman dengan kata-kata, melainkan juga menghadirkan teladan Kristus melalui tindakan nyata. |
Kewargaan Kita di Surga Menjadi Dasar untuk Tetap Teguh dalam Iman. Paulus mengingatkan bahwa kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari sana kita menantikan Yesus Kristus, yang akan mengubah tubuh kita yang hina menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia. Kesadaran ini mengajarkan bahwa kehidupan duniawi bukanlah tujuan akhir perjalanan kita. Karena itu, kita tidak boleh terlalu melekat pada kekayaan, kekuasaan, kenikmatan, atau kesenangan sementara hingga melupakan kehidupan kekal. Dalam menghadapi kesulitan, penderitaan, dan godaan dunia, kita diajak untuk tetap teguh dalam iman dan tidak kehilangan harapan. Sebab, harapan akan kehidupan surgawi memberi kita kekuatan untuk menjalani kehidupan duniawi dengan setia, sambil terus mengarahkan hati kepada Kristus yang menjadi tujuan akhir hidup kita. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 6 |
2026-11-07 |
Kebahagiaan Sejati Bergantung Pada Kempauan Bersyukur |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Sabtu, 07 Nopember 2026. Kebahagiaan Sejati Bergantung Pada Kemampuan Bersyukur (Filipi 4:10-19). 4:10 Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. 4:11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. 4:12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. 4:13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. 4:14 Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku. 4:15 Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. 4:16 Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. 4:17 Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. 4:18 Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. 4:19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Filipi 4:10-19: |
Kebahagiaan Sejati Tidak Bergantung pada Kelimpahan, tetapi pada Kemampuan untuk Bersyukur. Paulus mengungkapkan bahwa ia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan, baik ketika hidup berkekurangan maupun ketika hidup berkelimpahan. Ia menyadari bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari banyaknya harta atau kenyamanan hidup, melainkan dari Kristus yang memberinya kekuatan. Pesan ini mengajak kita untuk tidak selalu mengukur kebahagiaan dari apa yang kita miliki atau membandingkan hidup kita dengan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, kita diajak untuk tetap bersyukur ketika berkekurangan dan tidak menjadi sombong ketika berkelimpahan. Sebab, hati yang selalu bersyukur akan menemukan kebahagiaan bukan hanya dalam kelimpahan, tetapi juga dalam kesederhanaan. |
Berbagi dengan Sesama Merupakan Wujud Nyata Kesetiaan kepada Allah. Paulus mengungkapkan rasa terima kasih kepada jemaat Filipi karena mereka telah mengambil bagian dalam kesusahannya dengan memberikan bantuan kepadanya. Ia memandang pemberian mereka bukan sekadar bantuan materi, melainkan persembahan yang berkenan kepada Allah. Hal ini mengajarkan bahwa iman tidak cukup hanya diwujudkan melalui doa dan ibadah, tetapi juga melalui kepedulian terhadap kebutuhan sesama. Dalam kehidupan sehari-hari, kita diajak untuk tidak menutup mata terhadap orang yang berkekurangan, tetapi rela berbagi waktu, tenaga, perhatian, dan rezeki sesuai kemampuan. Sebab, setiap pemberian yang dilakukan dengan kasih dan ketulusan bukan hanya meringankan beban sesama, tetapi juga menjadi persembahan yang menyenangkan hati Allah. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 7 |
2026-11-08 |
Kebijaksanaan Sejati Menuntut Kereinduan dan Kesungguhan |
Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 08 Nopember 2026. Kebijaksanaan Sejati Menuntut Kerinduan dan Kesungguhan (Kebijaksanaan 6:12-17). 6:12 Kebijaksanaan bersinar dan tak dapat layu, mudah dipandang oleh yang kasih kepadanya, dan ditemukan oleh mereka yang mencarinya. 6:13 Ia mendahului memperkenalkan diri kepada yang ingin kepadanya. 6:14 Barangsiapa pagi-pagi bangun demi kebijaksanaan tak perlu bersusah payah, sebab ditemukannya duduk di dekat pintu. 6:15 Merenungkannya merupakan pengertian sempurna, dan siapa yang berjaga karena kebijaksanaan segera akan bebas dari kesusahan. 6:16 Sebab ia sendiri berkeliling mencari orang yang patut baginya, dan dengan rela memperlihatkan diri kepada mereka di jalan, pada tiap-tiap pikiran dijumpainya. 6:17 Sebab permulaan kebijaksanaan ialah keinginan sejati akan didikan, dan mencari didikan adalah kasih kepadanya. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Kebijaksanaan 6:12-17 |
Kebijaksanaan Sejati Ditemukan oleh Hati yang Sungguh-Sungguh Mencarinya. Penulis Kitab Kebijaksanaan menggambarkan bahwa kebijaksanaan itu bercahaya, tidak pernah pudar, dan mudah ditemukan oleh mereka yang mencarinya dengan sungguh-sungguh. Bahkan, kebijaksanaan itu sendiri mendahului orang-orang yang merindukannya dan mendatangi mereka yang layak menerimanya. Pesan ini mengajarkan bahwa kebijaksanaan bukan sekadar memiliki banyak pengetahuan atau kecerdasan, melainkan kemampuan untuk melihat kehidupan berdasarkan kehendak Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita diajak untuk tidak hanya sibuk mencari keberhasilan duniawi, tetapi juga menyediakan waktu untuk berdoa, membaca Kitab Suci, dan mendengarkan suara Tuhan. Sebab, orang yang sungguh-sungguh mencari kebijaksanaan Allah akan mampu mengambil keputusan yang benar dan menjalani hidup dengan lebih terarah. |
Kebijaksanaan Menuntut Kerinduan dan Kesungguhan untuk Bertumbuh dalam Iman. Bacaan ini menegaskan bahwa orang yang berjaga-jaga demi kebijaksanaan akan segera terbebas dari kesulitan, sebab kebijaksanaan berkeliling mencari mereka yang layak menerimanya. Hal ini mengajarkan bahwa relasi dengan Allah tidak boleh dijalani secara setengah hati, tetapi membutuhkan kerinduan, keterbukaan, dan kesungguhan untuk terus belajar. Dalam kehidupan sehari-hari, kita diajak untuk tidak merasa diri paling benar atau paling tahu, melainkan rendah hati menerima nasihat, belajar dari pengalaman, dan berani memperbaiki kesalahan. Sebab, hati yang terbuka terhadap kebijaksanaan Allah akan semakin dimampukan untuk membedakan yang baik dan yang buruk serta menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak-Nya. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |