Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Selasa, 03 Nopember 2026. Kerendahan Hati Adalah Jalan Menuju Kebebasan Sejati (Filipi 2:5-11). 2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 2:11 dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Filipi 2:5-11:
Pertama : Kerendahan Hati adalah Jalan Menuju Kebesaran Sejati. Paulus mengajak jemaat untuk memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Meskipun memiliki kesetaraan dengan Allah, Kristus tidak mempertahankan kemuliaan-Nya, tetapi mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Sikap Yesus ini mengajarkan bahwa kebesaran sejati tidak terletak pada kedudukan, kekuasaan, atau penghormatan dari orang lain, melainkan pada kerelaan untuk merendahkan diri dan melayani. Dalam kehidupan sehari-hari, kita diajak untuk tidak selalu ingin dihormati, menang sendiri, atau merasa lebih penting daripada orang lain. Sebaliknya, kita belajar menghargai sesama, mengalah demi kebaikan bersama, dan melayani tanpa mencari pujian. Sebab, semakin seseorang mampu merendahkan hati, semakin nyata pula Kristus hidup dalam dirinya.
Kedua : Ketaatan kepada Allah Menuntut Kesediaan untuk Berkorban. Paulus menegaskan bahwa Kristus merendahkan diri dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Ketaatan Yesus bukan sekadar menjalankan kehendak Bapa ketika semuanya menyenangkan, tetapi tetap setia sekalipun harus melewati penderitaan dan pengorbanan. Hal ini mengajarkan bahwa mengikuti Tuhan tidak selalu berarti memilih jalan yang mudah. Ada kalanya kita harus berkorban demi mempertahankan kejujuran, mengampuni orang yang menyakiti kita, menjalankan tanggung jawab keluarga, atau melakukan kebaikan meskipun tidak dihargai. Namun, kita percaya bahwa pengorbanan yang dilakukan dalam kesetiaan kepada Allah tidak pernah sia-sia. Sebagaimana Allah meninggikan Kristus karena ketaatan-Nya, demikian pula kita diajak untuk percaya bahwa hidup yang dijalani dalam kerendahan hati dan kesetiaan akan menghasilkan buah bagi kemuliaan Allah.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda