Identitas Sejati Seorang Beriman
...

Identitas Sejati Seorang Beriman

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 05 Nopember 2026. Identitas Sejati Seorang Beriman (Filipi 3:3-8a). 3:3 Karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. 3:4 Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: 3:5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, 3:6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. 3:7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. 3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Filipi 3:3-8a:

Pertama : Identitas Sejati Seorang Beriman Terletak pada Hati, Bukan pada Kebanggaan Lahiriah. Paulus mengingatkan bahwa orang yang sungguh-sungguh beribadah kepada Allah adalah mereka yang beribadah dalam Roh Allah, bermegah dalam Kristus Yesus, dan tidak mengandalkan hal-hal lahiriah. Paulus sendiri sebenarnya memiliki banyak alasan untuk membanggakan dirinya, mulai dari keturunan, status keagamaan, hingga ketaatannya pada hukum Taurat. Namun, ia menyadari bahwa semua itu bukan ukuran utama kedekatan seseorang dengan Allah. Pesan ini mengajak kita untuk tidak menjadikan jabatan, kekayaan, pendidikan, kedudukan, atau kesalehan lahiriah sebagai alasan untuk merasa lebih baik daripada orang lain. Sebab, iman yang sejati tidak diukur dari apa yang tampak di luar, melainkan dari hati yang sungguh-sungguh mengandalkan Allah dan hidup dalam Roh-Nya.



Kedua : Mengenal Kristus Jauh Lebih Berharga daripada Segala Keuntungan Duniawi. Paulus menganggap segala sesuatu yang dahulu menjadi kebanggaannya sebagai kerugian karena pengenalan akan Kristus Yesus jauh lebih berharga. Ia berani melepaskan hal-hal yang dahulu dianggap penting demi memperoleh Kristus. Sikap Paulus mengajarkan bahwa mengikuti Kristus terkadang menuntut keberanian untuk melepaskan sesuatu yang selama ini kita anggap sebagai sumber kebahagiaan dan kebanggaan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita diajak untuk tidak mengorbankan iman demi harta, jabatan, popularitas, atau keuntungan pribadi. Sebab, semua yang kita miliki di dunia ini bersifat sementara, sedangkan Kristus adalah harta yang tidak pernah kehilangan nilainya.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda