Hidup Yang Bermakna
...

Hidup Yang Bermakna

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 24 September 2026. Hidup Yang Bermakna (Pengkotbah 1:2-11). 1:2 Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. 1:3 Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? 1:4 Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada. 1:5 Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. 1:6 Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali. 1:7 Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu. 1:8 Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar. 1:9 Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. 1:10 Adakah sesuatu yang dapat dikatakan: Lihatlah, ini baru!? Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada. 1:11 Kenang-kenangan dari masa lampau tidak ada, dan dari masa depan yang masih akan datangpun tidak akan ada kenang-kenangan pada mereka yang hidup sesudahnya.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Pengkhotbah 1:2-11:

Pertama : Jangan Mencari Kepenuhan Hidup Hanya dalam Kesibukan Dunia. Pengkhotbah mengingatkan bahwa segala sesuatu adalah kesia-siaan: manusia bekerja, berjerih payah, tetapi dunia terus berjalan seperti biasa. Kita sering mengukur hidup dari banyaknya pekerjaan, pencapaian, dan kesibukan yang kita miliki. Namun, semua itu tidak dengan sendirinya memberi makna yang sejati. Bacaan ini mengajak kita bertanya: apakah di tengah kesibukan, kita sungguh sedang hidup bersama Tuhan, atau hanya sedang mengejar sesuatu yang akhirnya berlalu?



Kedua : Hidup Menjadi Bermakna Ketika Diarahkan kepada Yang Kekal. Pengkhotbah melihat bahwa generasi datang dan pergi, matahari terbit dan terbenam, dan segala sesuatu berputar dalam siklus yang sama. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang sungguh baru atau dapat kita genggam selamanya. Karena itu, hati manusia tidak boleh berhenti pada apa yang sementara. Kita dipanggil untuk menemukan makna hidup bukan dalam meninggalkan jejak nama kita sendiri, melainkan dalam kesetiaan kepada Tuhan, sebab hanya Dia yang memberikan arah dan makna melampaui kefanaan hidup.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda