Halaman Sarifirman

Bacaan Sarifirman

Kembali ke Beranda

No Tanggal Judul Salam dan Teks Kitab Suci Renungan Pertama Kedua Berkat Aksi
1 2026-03-09 Tuhan Berkarya Melalui Orang Kecil dan Sederhana Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin, 09 Maret 2026. Tuhan Berkarya Melalui Orang Kecil dan Sederhana (2Raja-Raja 5:1-15a). 5:1 Naaman, panglima raja Aram, adalah seorang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi, sebab oleh dia TUHAN telah memberikan kemenangan kepada orang Aram. Tetapi orang itu, seorang pahlawan tentara, sakit kusta. 5:2 Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman. 5:3 Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya. 5:4 Lalu pergilah Naaman memberitahukan kepada tuannya, katanya: Begini-beginilah dikatakan oleh gadis yang dari negeri Israel itu. 5:5 Maka jawab raja Aram: Baik, pergilah dan aku akan mengirim surat kepada raja Israel. Lalu pergilah Naaman dan membawa sebagai persembahan sepuluh talenta perak dan enam ribu syikal emas dan sepuluh potong pakaian. 5:6 Ia menyampaikan surat itu kepada raja Israel, yang berbunyi: Sesampainya surat ini kepadamu, maklumlah kiranya, bahwa aku menyuruh kepadamu Naaman, pegawaiku, supaya engkau menyembuhkan dia dari penyakit kustanya. 5:7 Segera sesudah raja Israel membaca surat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya serta berkata: Allahkah aku ini yang dapat mematikan dan menghidupkan, sehingga orang ini mengirim pesan kepadaku, supaya kusembuhkan seorang dari penyakit kustanya? Tetapi sesungguhnya, perhatikanlah dan lihatlah, ia mencari gara-gara terhadap aku. 5:8 Segera sesudah didengar Elisa, abdi Allah itu, bahwa raja Israel mengoyakkan pakaiannya, dikirimnyalah pesan kepada raja, bunyinya: Mengapa engkau mengoyakkan pakaianmu? Biarlah ia datang kepadaku, supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel. 5:9 Kemudian datanglah Naaman dengan kudanya dan keretanya, lalu berhenti di depan pintu rumah Elisa. 5:10 Elisa menyuruh seorang suruhan kepadanya mengatakan: Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir. 5:11 Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata: Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama TUHAN, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku! 5:12 Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir? Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas s hati. 5:13 Tetapi pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepadanya: Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir. 5:14 Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir. 5:15 Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Setelah sampai, tampillah ia ke depan Elisa dan berkata: Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, 2 Raja-raja 5:1–15: Pertama, Tuhan Berkarya Melalui Orang Kecil dan Sederhana. Kisah ini dimulai dengan seorang tokoh besar: Naaman, panglima yang terpandang dan berjasa bagi bangsanya. Naaman memiliki kehormatan, kuasa, dan kekayaan. Namun semua itu tidak mampu menyembuhkan penyakit kustanya. Justru harapan kesembuhan muncul dari seorang gadis kecil, tawanan dari Israel, yang hanya menjadi pelayan bagi isteri Naaman. Dari sudut pandang manusia, gadis ini tidak memiliki posisi, kuasa, atau pun pengaruh. Tetapi melalui kata-katanya yang sederhana, jalan kesembuhan bagi Naaman mulai terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak selalu bekerja melalui orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi atau kuasa besar. Sering Tuhan memakai orang-orang yang sederhana, yang tidak diperhitungkan, untuk menyampaikan harapan dan menghadirkan perubahan. Bagi kita, kisah ini mengingatkan bahwa tidak ada hidup yang terlalu kecil untuk dipakai Tuhan. Kesaksian sederhana, kata-kata pengharapan, atau iman yang tulus dapat menjadi sarana Tuhan untuk menyentuh hidup orang lain. Kedua, Kerendahan Hati Membuka Jalan bagi Pemulihan. Ketika Naaman akhirnya datang kepada nabi Elisa dengan membawa harapan bahwa penyembuhan akan terjadi melalui cara besar dan mengesankan. Hal itu tidak terjadi seperti yang dipikirkan Naaman. Nabi Elisa hanya menyuruhnya mandi tujuh kali di sungai Yordan. Perintah itu tampak terlalu sederhana bagi seorang panglima besar. Naaman menjadi marah karena harapannya tidak terpenuhi. Ia mengira mukjizat harus terjadi dengan cara yang spektakuler dan sesuai dengan kehormatannya. Tetapi melalui nasihat para pegawainya, Naaman akhirnya merendahkan diri dan melakukan apa yang diperintahkan. Dalam dan melalui ketaatan yang sederhana, kesembuhan terjadi. Tubuhnya pulih seperti tubuh seorang anak kecil, dan hatinya juga berubah sehingga ia mengakui bahwa hanya Tuhanlah Allah yang benar. Memang sering berkat Tuhan tidak datang melalui hal-hal yang rumit atau luar biasa menurut pandangan manusia, tetapi melalui ketaatan yang sederhana dan kerendahan hati. Ketika manusia bersedia melepaskan kesombongannya dan mempercayai cara Tuhan, di situlah pemulihan sejati dapat terjadi secara holistik. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
2 2026-03-10 Tuhan Hadir di Tengah Api Penderitaan Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Selasa, 10 Maret 2026. Tuhan Hadir di Tengah Api Penderitaan (Daniel 3:25, 34-43). 3:25 Katanya: Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa! Dan 3:34 Janganlah kami Kautolak selamanya demi namaMu, dan janganlah Kaubatalkan perjanjianMu Dan 3:35 janganlah Kautarik kembali dari pada kami belas kasihanMu demi Abraham, kekasihMu, demi Ishak, hambaMu dan demi Israel, orang suciMu, Dan 3:36 yang kepadanya telah Kaujanjikan untuk memperbanyak keturunan mereka laksana bintang-bintang di langit dan seperti pasir di tepi taut. Dan 3:37 Ya Tuhan, jumlah kami telah menjadi lebih kecil dari jumlah sekalian bangsa, dan sekarang kamipun dianggap rendah di seluruh bumi oleh karena segala dosa kami. Dan 3:38 Dewasa inipun tidak ada pemuka, nabi atau penguasa, tiada korban bakaran atau korban sembelihan, korban sajian atau ukupan tidak pula ada tempat untuk mempersembahkan buah bungaran kepadaMu dan mendapat belas kasihan. Dan 3:39 Tetapi semoga kami diterima baik, karena jiwa yang remuk redam dan roh yang rendah, seolah-olah kami datang membawa korban-korban bakaran domba dan lembu serta ribuan anak domba tambun. Dan 3:40 Demikianlah hendaknya korban kami di hadapanMu pada hari ini berkenan seluruhnya kepadaMu. Sebab tidak dikecewakanlah mereka yang percaya padaMu. Dan 3:41 Kini kami mengikuti Engkau dengan segenap jiwa dan dengan takut kepadaMu, dan wajahMu kami cari. Janganlah kami Kaupermalukan, Dan 3:42 melainkan perlakukankanlah kami sesuai dengan kemurahanMu dan menurut besarnya belas kasihanMu. Dan 3:43 Lepaskanlah kami sesuai dengan perbuatanMu yang ajaib, dan nyatakanlah kemuliaan namaMu, ya Tuhan. Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Daniel 3:25, 34–43: Pertama, Tuhan Hadir di Tengah Api Penderitaan. Raja melihat sesuatu yang mengejutkan di dalam perapian: bukan tiga orang yang terbakar, tetapi empat orang yang berjalan dengan bebas, dan mereka tidak terluka oleh api. Kehadiran sosok keempat itu menjadi tanda bahwa Tuhan tidak meninggalkan umat-Nya ketika mereka berada dalam penderitaan. Api yang seharusnya menghancurkan justru menjadi tempat perjumpaan dengan penyertaan Tuhan. Dalam kehidupan, manusia sering berharap agar Tuhan menjauhkan kita dari setiap “api” kesulitan. Namun kisah ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak selalu menghilangkan penderitaan, tetapi Tuhan hadir di dalamnya. Penyertaan-Nya memberi kebebasan di tengah tekanan dan menjaga agar penderitaan tidak menghancurkan iman. Api kehidupan dapat menjadi tempat di mana kita justru semakin menyadari bahwa Tuhan berjalan bersama kita. Kedua, Hati yang Remuk dan Rendah Lebih Berharga daripada Korban Lahiriah. Dalam doa yang diungkapkan pada ayat 34–43, umat menyadari bahwa mereka tidak lagi memiliki sarana-sarana ibadah seperti dahulu: tidak ada pemuka, nabi, korban bakaran, ataupun tempat persembahan. Dalam keadaan yang serba terbatas itu, mereka datang kepada Tuhan dengan satu hal yang masih mereka miliki: hati yang remuk dan roh yang rendah. Mereka memohon agar kerendahan hati dan pertobatan mereka diterima seperti korban yang berkenan kepada Tuhan. Inilah inti dari relasi dengan Tuhan: sikap hati yang tulus. Kerendahan hati, pertobatan, dan kepercayaan kepada Tuhan merupakan persembahan yang paling berkenan. Tuhan tidak menolak hati yang mencari-Nya dengan sungguh-sungguh. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
3 2026-03-11 Ketaatan kepada Firman Tuhan Membawa Kehidupan dan Kebijaksanaan. Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 11 Maret 2026. Ketaatan kepada Firman Tuhan Membawa Kehidupan dan Kebijaksanaan. (Ulangan 4:1,5-9). 4:1 Maka sekarang, hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu. 4:5 Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya. 4:6 Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi. 4:7 Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya? 4:8 Dan bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum ini, yang kubentangkan kepadamu pada hari ini? 4:9 Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu. Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaanhari ini, Ulangan 4:1, 5–9: Pertama, Ketaatan kepada Firman Tuhan Membawa Kehidupan dan Kebijaksanaan. Musa mengingatkan bangsa Israel agar mereka mendengarkan dan melakukan ketetapan serta peraturan yang diajarkan Tuhan. Tujuannya bukan sekadar agar mereka memiliki hukum, tetapi supaya mereka hidup dan mengalami berkat di tanah yang dijanjikan. Ketaatan kepada hukum Tuhan akan menjadi tanda kebijaksanaan mereka di mata bangsa-bangsa lain. Dengan kata lain, hidup yang mengikuti kehendak Tuhan bukan hanya membawa berkat bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi kesaksian bagi orang lain. Ketika manusia hidup seturut firman Tuhan, kehidupannya memancarkan kebijaksanaan yang berbeda dari cara dunia berpikir. Dari situlah orang lain dapat melihat bahwa Tuhan benar-benar hadir dan bekerja di tengah umat-Nya. Kedua, Iman Harus Diingat dan Diteruskan kepada Generasi Berikutnya. Musa juga mengingatkan bangsa Israel agar mereka tidak melupakan perbuatan Tuhan yang telah mereka lihat sendiri. Ingatan akan karya Tuhan tidak boleh hilang dari hati mereka sepanjang hidup. Bahkan mereka diminta untuk menceritakan dan mengajarkannya kepada anak cucu mereka. Iman bukan hanya pengalaman pribadi, tetapi juga warisan rohani yang harus diteruskan. Ketika seseorang mengingat dan menceritakan kembali karya Tuhan dalam hidupnya, iman itu menjadi hidup dan berakar lebih dalam. Dengan demikian, generasi berikutnya tidak hanya mendengar tentang Tuhan secara teori, tetapi juga mengenal-Nya melalui kesaksian nyata dari kehidupan orang-orang yang lebih dahulu berjalan bersama-Nya. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
4 2026-03-12 Mendengarkan Tuhan adalah Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati. Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kanis, 12 Maret 2026. Mendengarkan Tuhan adalah Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati. (Yeremia 7:23-29). 7:23 hanya yang berikut inilah yang telah Kuperintahkan kepada mereka: Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia! 7:24 Tetapi mereka tidak mau mendengarkan dan tidak mau memberi perhatian, melainkan mereka mengikuti rancangan-rancangan dan kedegilan hatinya yang jahat, dan mereka memperlihatkan belakangnya dan bukan mukanya. 7:25 Dari sejak waktu nenek moyangmu keluar dari tanah Mesir sampai waktu ini, Aku mengutus kepada mereka hamba-hamba-Ku, para nabi, hari demi hari, terus-menerus, 7:26 tetapi mereka tidak mau mendengarkan kepada-Ku dan tidak mau memberi perhatian, bahkan mereka menegarkan tengkuknya, berbuat lebih jahat dari pada nenek moyang mereka. 7:27 Sekalipun engkau mengatakan kepada mereka segala perkara ini, mereka tidak akan mendengarkan perkataanmu, dan sekalipun engkau berseru kepada mereka, mereka tidak akan menjawab engkau. 7:28 Sebab itu, katakanlah kepada mereka: Inilah bangsa yang tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allah mereka, dan yang tidak mau menerima penghajaran! Ketulusan mereka sudah lenyap, sudah hapus dari mulut mereka. Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Yeremia 7:23–28: Pertama, Mendengarkan Tuhan adalah Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati. Tuhan menyampaikan pesan yang sangat sederhana kepada umat-Nya: “Dengarkanlah suara-Ku… dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia.” Inti dari relasi antara Tuhan dan umat-Nya adalah kesediaan untuk mendengarkan dan menaati suara-Nya. Tuhan ingin menjadi Allah bagi mereka dan menjadikan mereka umat-Nya, suatu hubungan yang penuh kedekatan dan pemeliharaan. Kebahagiaan yang dijanjikan itu hanya dapat dialami jika umat berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Dalam kehidupan kita, sering manusia mencari kebahagiaan melalui banyak hal: keberhasilan, kekuasaan, atau kenyamanan. Namun firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati lahir dari hati yang mau mendengarkan Tuhan dan hidup sesuai dengan jalan yang ditunjukkan-Nya. Kedua, Kedegilan Hati Menjauhkan Manusia dari Suara Tuhan. Bangsa Israel digambarkan sebagai umat yang tidak mau mendengarkan, bahkan terus mengikuti rancangan dan kedegilan hati mereka sendiri. Walaupun Tuhan berkali-kali mengutus para nabi untuk menegur dan membimbing mereka, mereka tetap tegar tengkuk. Sikap ini menunjukkan bahwa masalah utama addalah hati manusia yang tertutup untuk mendengarkan pesan Tuhan. Kedegilan hati membuat manusia lebih memilih kehendaknya sendiri daripada kehendak Tuhan. Akibatnya, relasi dengan Tuhan menjadi rusak dan kebenaran pun “lenyap dari mulut mereka.” Hati yang rendah dan mau dibentuk akan selalu menemukan jalan kembali kepada Tuhan, sementara hati yang keras perlahan menjauh dari-Nya. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
5 2026-03-13 Pertobatan Tulus Membuka Jalan Pemulihan Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Jumat, 13 Maret 2026. Pertobatan Tulus Membuka Jalan Pemulihan (Hosea 14:2-10). 14:1 (14-2) Bertobatlah, hai Israel, kepada TUHAN, Allahmu, sebab engkau telah tergelincir karena kesalahanmu. 14:2 (14-3) Bawalah sertamu kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada TUHAN! katakanlah kepada-Nya: Ampunilah segala kesalahan, sehingga kami mendapat yang baik, maka kami akan mempersembahkan pengakuan kami. 14:3 (14-4) Asyur tidak dapat menyelamatkan kami kami tidak mau mengendarai kuda, dan kami tidak akan berkata lagi: Ya, Allah kami! kepada buatan tangan kami. Karena Engkau menyayangi anak yatim. 14:4 (14-5) Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab murka-Ku telah surut dari pada mereka. 14:5 (14-6) Aku akan seperti embun bagi Israel, maka ia akan berbunga seperti bunga bakung dan akan menjulurkan akar-akarnya seperti pohon hawar. 14:6 (14-7) Ranting-rantingnya akan merambak, semaraknya akan seperti pohon zaitun dan berbau harum seperti yang di Libanon. 14:7 (14-8) Mereka akan kembali dan diam dalam naungan-Ku dan tumbuh seperti gandum mereka akan berkembang seperti pohon anggur, yang termasyhur seperti anggur Libanon. 14:8 (14-9) Efraim, apakah lagi sangkut paut-Ku dengan berhala-berhala? Akulah yang menjawab dan memperhatikan engkau! Aku ini seperti pohon sanobar yang menghijau, dari pada-Ku engkau mendapat buah.14:9 (14-10) Siapa yang bijaksana, biarlah ia memahami semuanya ini siapa yang paham, biarlah ia mengetahuinya sebab jalan-jalan TUHAN adalah lurus, dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir di situ. Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Hosea 14:1–9: Pertama, Pertobatan Tulus Membuka Jalan Pemulihan. Nabi mengajak bangsa Israel untuk kembali kepada Tuhan dengan membawa “kata-kata penyesalan.” Pertobatan yang diminta bukan sekadar ungkapan di bibir, tetapi pengakuan yang lahir dari hati yang sadar akan kesalahan. Israel diminta untuk berhenti berharap pada kekuatan manusia seperti bangsa Asyur atau pada berhala buatan tangan mereka sendiri. Ketika manusia mengakui keterbatasannya dan kembali kepada Tuhan dengan rendah hati, di situlah pintu pemulihan dibuka. Tuhan berjanji akan memulihkan dan mengampuni mereka dari kesalahan, penyelewengan serta mengasihi mereka dengan tulus. Dosa memang membuat manusia jatuh, namun pertobatan yang tulus selalu memberi kesempatan baru untuk mengalami kerahiman Tuhan. Tuhan tidak menutup pintu kerahiman-Nya bagi orang yang ingin kembali kepada-Nya. Kedua, Kasih Tuhan Menghidupkan Kembali dan Membuat Hidup Berbuah. Pertobatan tulus selalu menghasilkan buah. Tuhan menggambarkan pemulihan umat-Nya dengan gambaran alam yang indah: seperti embun yang memberi kehidupan, bunga bakung yang bermekaran, pohon zaitun yang semarak, dan pohon anggur yang berkembang. Gambaran ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak hanya mengampuni, tetapi juga memulihkan kehidupan secara menyeluruh dengan kasih-Nya yang amat agung. Hidup yang sebelumnya kering karena dosa dapat kembali subur ketika berada dalam naungan kasih Tuhan. Dari Tuhanlah manusia memperoleh kekuatan dan buah kehidupan. Karena itu, nabi menutup dengan ajakan untuk menjadi bijaksana dan memahami bahwa jalan Tuhan selalu lurus. Orang yang berjalan di dalamnya akan menemukan kehidupan dan berkat, sedangkan mereka yang menolak-Nya akan tersandung jatuh. Berjalanlah bersama Tuhan, sumber kehidupan yang membuat hidupmu bertumbuh dan berbuah bagi sesama. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
6 2026-03-14 Tuhan Menyembuhkan Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Sabtu, 14 Maret 2026. Tuhan Menyembuhkan (Hosea 6:1-6). 6:1 Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita. 6:2 Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya. 6:3 Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi. 6:4 Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Efraim? Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Yehuda? Kasih setiamu seperti kabut pagi , dan seperti embun yang hilang pagi-pagi benar. 6:5 Sebab itu Aku telah meremukkan mereka dengan perantaraan nabi-nabi, Aku telah membunuh mereka dengan perkataan mulut-Ku, dan hukum-Ku keluar seperti terang. 6:6 Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran. Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Hosea 6:1–6: Pertama, Tuhan Menyembuhkan. Bangsa Israel diajak untuk kembali kepada Tuhan dengan keyakinan bahwa Dialah yang akan memulihkan mereka. Walaupun Tuhan mengizinkan mereka mengalami penderitaan akibat dosa mereka, tujuan-Nya bukanlah untuk menghancurkan, melainkan untuk membawa mereka kembali kepada kehidupan. Gambaran bahwa Tuhan akan “menghidupkan” dan “membangkitkan” menunjukkan harapan baru setelah masa kegelapan. Seperti fajar yang pasti terbit dan hujan yang menyuburkan bumi, demikian juga kasih dan pertolongan Tuhan akan datang pada waktunya. Dalam perjalanan hidup, penderitaan atau teguran Tuhan sering menjadi sarana untuk memulihkan relasi kita dengan-Nya. Ketika manusia berbalik kepada Tuhan, ia akan menemukan bahwa Tuhan selalu siap menyembuhkan dan memperbarui hidupnya. Kedua, Tuhan Menghendaki Kasih Setia dan Pengenalan Sejati. Tuhan menegur umat-Nya karena kasih setia mereka tidak bertahan lama. Kesetiaan Israel digambarkan seperti kabut pagi atau embun yang cepat menghilang. Walaupun mereka mungkin masih melakukan korban dan ritual keagamaan, namun hati mereka tidak sungguh-sungguh melekat kepada Tuhan. Karena itu Tuhan menegaskan bahwa yang Ia kehendaki bukanlah korban sembelihan, tetapi kasih setia dan pengenalan sejati akan Dia. Ibadah yang sejati bukan hanya soal tindakan lahiriah, melainkan hubungan yang hidup dengan Tuhan. Ketika manusia sungguh mengenal Tuhan, kasih setia itu akan tampak dalam cara hidupnya: dalam kesetiaan, ketaatan, dan kasih kepada sesama. Menjalankan kewajiban religius tanpa kasih dan iman seperti kabut dan embun pagi yang segera lenyap. Relasi yang tulus dengan Tuhan dibangun atas dasar kasih dan iman yang hidup dan bertumbuh setiap hari. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
7 2026-03-15 Tuhan Melihat Hati Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Mingggu, 15 Maret 2026. Tuhan Melihat Hati (1Samuel 16:1b, 6-7,10-13). 16:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku. 16:6 Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya. 16:7 Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.j 16:10 Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: Semuanya ini tidak dipilih TUHAN. 16:11 Lalu Samuel berkata kepada Isai: Inikah anakmu semuanya? Jawabnya: Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba. Kata Samuel kepada Isai: Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari. 16:12 Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia. 16:13 Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah r Roh TUHAN s atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama. Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari Minggu ini, 1 Samuel 16:1, 6–13: Pertama, Tuhan Melihat Hati. Ketika Samuel melihat Eliab, ia langsung berpikir bahwa dialah orang yang dipilih Tuhan karena penampilannya yang tinggi dan gagah. Namun Tuhan menegur Samuel dan mengatakan bahwa manusia melihat apa yang tampak di depan mata, sedangkan Tuhan melihat hati. Penilaian manusia sering dipengaruhi oleh hal-hal yang lahiriah, yang terlihat: kekuatan, kedudukan, atau penampilan. Akan tetapi, bagi Tuhan yang terpenting adalah keadaan hati seseorang. Hati yang tulus, rendah, dan terbuka kepada Tuhan lebih berharga daripada segala kelebihan lahiriah. Tuhan mengajak kita untuk tidak cepat menilai orang hanya dari apa yang terlihat. “Don’t judge a book by its cover.” Tuhan bekerja dengan cara yang sering melampaui cara pandang manusia. Tuhan dapat memilih siapa saja yang memiliki hati yang siap dipakai-Nya. Kedua, Tuhan Sering Memilih yang Kecil untuk Menggenapi Rencana-Nya. Di antara semua anak Isai, Daud adalah yang paling muda dan bahkan tidak hadir ketika Samuel datang. Ia sedang menggembalakan domba di padang, pekerjaan yang tampak sederhana dan tidak menonjol. Namun justru dialah yang dipilih Tuhan untuk diurapi menjadi raja Israel. Tuhan memang sering memanggil orang dari tempat yang tidak disangka-sangka untuk menjalankan rencana besar-Nya. Tuhan dapat memakai siapa saja, bahkan mereka yang dianggap kecil atau tidak diperhitungkan. Yang terpenting bukanlah posisi atau kehebatan manusia, melainkan kesediaan hati untuk dipakai oleh Tuhan dalam mewujudkan rencana-Nya. Ketika Daud diurapi, Roh Tuhan berkuasa atas dirinya. Dalam mengemban tugas besar tersebut Daud selalu ada dalam penyertaan Tuhan. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
8 2026-03-16 Tuhan Menjanjikan Pembaharuan Sempurna Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin, 16 Maret 2026. Tuhan Menjanjikan Pembaruan Sempurna (Yesaya 65:17-21). 65:17 Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati. 65:18Tetapi bergiranglah dan bersorak-sorak untuk selama-lamanya atas apa yang Kuciptakan, sebab sesungguhnya, Aku menciptakan Yerusalem penuh sorak-sorak dan penduduknya penuh kegirangan. 65:19Aku akan bersorak-sorak karena Yerusalem, dan bergirang karena umat-Ku di dalamnya tidak akan kedengaran lagi bunyi tangisan dan bunyi erangpun tidak. 65:20 Di situ tidak akan ada lagi bayi yang hanya hidup beberapa hari atau orang tua yang tidak mencapai umur suntuk, sebab siapa yang mati pada umur seratus tahun masih akan dianggap muda, dan siapa yang tidak mencapai umur seratus tahun akan dianggap kena kutuk. 65:21 Mereka akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminya juga mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan memakan buahnya juga. Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Yesaya 65:17–21: Pertama, Tuhan Menjanjikan Pembaruan Sempurna. Melalui nabi Yesaya, Tuhan menyampaikan janji yang sangat besar: Ia akan menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru. Segala penderitaan, kesedihan, dan luka masa lalu tidak lagi diingat. Tuhan tidak hanya memperbaiki sedikit demi sedikit, tetapi memperbarui seluruh ciptaan. Tuhan tidak membiarkan umat-Nya terus hidup dalam duka dan penderitaan. Ia ingin menghadirkan kehidupan yang baru, penuh sukacita dan harapan. Dalam hidup sering manusia menghadapi banyak kesulitan, kehilangan, atau kekecewaan. Dalam situasi ini Tuhan tetap bekerja membawa pembaruan. Di dalam Tuhan, masa depan tidak ditentukan oleh luka masa lalu, melainkan oleh harapan akan karya-Nya yang baru. Kedua, Tuhan Menghendaki Kehidupan yang Penuh Sukacita dan Kesejahteraan bagi Umat-Nya. Yesaya menggambarkan situasi sukacita demikian: Yerusalem akan dipenuhi sorak-sorai dan kegembiraan. Tidak akan terdengar lagi tangisan atau ratapan. Orang-orang akan hidup dengan damai, panjang umur, serta menikmati hasil dari kerja mereka: mereka membangun rumah dan tinggal di dalamnya, menanam kebun anggur dan menikmati buahnya. Gambaran ini menandaskan bahwa Tuhan menghendaki kehidupan yang utuh bagi manusia dalam keseharian hidup manusia. Tuhan ingin umat-Nya hidup dalam damai, sukacita, dan kesejahteraan. Serentak juga Tuhan mengundang manusia untuk hidup dalam sukacita, bekerja dengan setia, dan membangun kehidupan yang baik, sambil tetap berharap pada pemenuhan janji Tuhan yang membawa damai dan kebahagiaan bagi umat-Nya. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
9 2026-03-17 Rahmat Tuhan Mengalir Memberi Kehidupan Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Selasa, 17 Maret 2026. Rahmat Tuhan Mengalir Memberi Kehidupan (Yehezkiel 47:1-9,12). 47:1 Kemudian ia membawa aku kembali ke pintu Bait Suci, dan sungguh, ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju ke timur sebab Bait Suci juga menghadap ke timur dan air itu mengalir dari bawah bagian samping kanan dari Bait Suci itu, sebelah selatan mezbah. 47:2 Lalu diiringnya aku ke luar melalui pintu gerbang utara dan dibawanya aku berkeliling dari luar menuju pintu gerbang luar yang menghadap ke timur, sungguh, air itu membual dari sebelah selatan. 47:3 Sedang orang itu pergi ke arah timur dan memegang tali pengukur di tangannya, ia mengukur seribu hasta dan menyuruh aku masuk dalam air itu, maka dalamnya sampai di pergelangan kaki. 47:4 Ia mengukur seribu hasta lagi dan menyuruh aku masuk sekali lagi dalam air itu, sekarang sudah sampai di lutut kemudian ia mengukur seribu hasta lagi dan menyuruh aku ketiga kalinya masuk ke dalam air itu, sekarang sudah sampai di pinggang. 47:5 Sekali lagi ia mengukur seribu hasta lagi, sekarang air itu sudah menjadi sungai, di mana aku tidak dapat berjalan lagi, sebab air itu sudah meninggi sehingga orang dapat berenang, suatu sungai yang tidak dapat diseberangi lagi. 47:6 Lalu ia berkata kepadaku: Sudahkah engkau lihat, hai anak manusia? Kemudian ia membawa aku kembali menyusur tepi sungai. 47:7 Dalam perjalanan pulang, sungguh, sepanjang tepi sungai itu ada amat banyak pohon, di sebelah sini dan di sebelah sana. 47:8 Ia berkata kepadaku: Sungai ini mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air yang mengandung banyak garam dan air itu menjadi tawar, 47:9 sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup. 47:12 Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat. Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Yehezkiel 47:1–9, 12: Pertama, Rahmat Tuhan Mengalir Memberi Kehidupan. Dalam penglihatan nabi Yehezkiel, air mengalir dari Bait Suci dan semakin lama semakin besar hingga menjadi sungai yang dalam. Air itu mengalir ke tempat-tempat yang kering bahkan sampai ke Laut Asin yang penuh garam, lalu membuat airnya menjadi tawar dan penuh kehidupan. Penglihatan Yehezkiel ini menggambaran rahmat Tuhan yang berasal dari tempat kudus membawa kehidupan dan pemulihan. Di mana rahmat Tuhan mengalir, di situ kehidupan tumbuh kembali: yang mati menjadi hidup, yang kering menjadi subur. Di jelas bahwa Tuhan mampu memperbarui hidup manusia, bahkan dalam situasi yang tampak “mati” atau tidak memiliki harapan. Ketika manusia membuka diri terhadap rahmat Tuhan, hidupnya dapat dipulihkan dan dipenuhi dengan kehidupan baru. Kedua, Kehadiran Tuhan Menghasilkan Buah yang Berlimpah. Di sepanjang tepi sungai yang keluar dari Bait Suci itu tumbuhlah banyak pohon yang selalu menghsilkan buah. Daunnya tidak pernah layu dan buahnya tidak pernah habis bahkan setiap bulan muncul buah yang baru. Buah itu menjadi makanan dan daunnya menjadi obat. Kisah ini ingin menjelaskan bahwa ketika manusia hidup dekat dengan Tuhan, hidupnya akan menghasilkan buah yang baik bagi dirinya dan bagi orang lain. Kedekatan dengan Tuhan tidak hanya membawa kebaikan bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi sumber berkat bagi banyak orang. Seperti pohon yang tumbuh di tepi sungai kehidupan itu, orang yang hidup dalam rahmat Tuhan dipanggil untuk menghasilkan buah kebaikan, membawa penghiburan, dan menjadi “obat” bagi dunia di sekitarnya. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
10 2026-03-18 Tuhan Tidak Pernah Melupakan Umat-Nya Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 18 Maret 2026. Tuhan Tidap Pernah Melupakan Umat-Nya (Yesaya 49:8-15). 49:8 Beginilah firman TUHAN : Pada waktu Aku berkenan, Aku akan menjawab engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau Aku telah membentuk dan memberi engkau, menjadi perjanjian bagi umat manusia, untuk membangunkan bumi kembali dan untuk membagi-bagikan tanah pusaka yang sudah sunyi sepi, 49:9 untuk mengatakan kepada orang-orang yang terkurung: Keluarlah! kepada orang-orang yang ada di dalam gelap: Tampillah! Di sepanjang jalan mereka seperti domba yang tidak pernah kekurangan rumput, dan di segala bukit gundulpun tersedia rumput bagi mereka. 49:10 Mereka tidak menjadi lapar atau haus angin hangat dan terik matahari tidak akan menimpa mereka, sebab Penyayang mereka akan memimpin mereka dan akan menuntun mereka ke dekat sumber-sumber air. 49:11 Aku akan membuat segala gunung-Ku menjadi jalan dan segala jalan raya-Ku akan Kuratakan. 49:12 Lihat, ada orang yang datang dari jauh, ada dari utara dan dari barat, dan ada dari tanah Sinim. 49:13 Bersorak-sorailah, hai langit, bersorak-soraklah, hai bumi, dan bergembiralah dengan sorak-sorai, hai gunung-gunung! Sebab TUHAN menghibur umat-Nya dan menyayangi orang-orang-Nya yang tertindas. 49:14 Sion berkata: TUHAN telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku. 49:15 Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Yesaya 49:8–15: Pertama, Tuhan Membebaskan dan Menuntun Umat-Nya. Melalui nabi Yesaya, Tuhan menyampaikan bahwa pada waktu yang berkenan Ia akan menjawab dan menolong umat-Nya. Ia memanggil orang-orang yang terkurung untuk keluar dan mereka yang berada dalam kegelapan untuk tampil ke terang. Tuhan digambarkan sebagai Gembala yang penuh belas kasih: Ia menuntun umat-Nya, memberi makanan, melindungi dari panas terik, dan membawa mereka ke sumber-sumber air. Gambaran ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak tinggal diam ketika umat-Nya mengalami penderitaan. Ia hadir untuk membebaskan, menuntun, dan memelihara kehidupan mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering mengalami situasi “terkurung” oleh masalah, ketakutan, atau keputusasaan. Sabda Tuhan ini mengingatkan bahwa Tuhan selalu membuka jalan bagi umat-Nya dan menuntun mereka menuju kehidupan yang lebih baik. Kedua, Kasih Tuhan Tidak Pernah Melupakan Umat-Nya. Di bagian akhir bacaan ini, Sion merasa ditinggalkan dan dilupakan oleh Tuhan. Namun Tuhan menanggapi dengan perbandingan yang sangat menyentuh: seorang ibu mungkin saja melupakan bayinya, tetapi Tuhan tidak akan pernah melupakan umat-Nya. Tuhan adalah Tuhan Yang setia dalam kasih-Nya. Kasih Tuhan melampaui kasih manusia yang paling kuat sekalipun. Ketika manusia merasa sendirian, tidak diperhatikan, atau seolah-olah Tuhan jauh, firman ini menegaskan bahwa Tuhan tetap mengingat dan mengasihi umat-Nya. Ia selalu menyertai dan memelihara kehidupan manusia. Di sini, umat diajak untuk tetap percaya pada kasih Tuhan yang setia, yang tidak pernah meninggalkan dan tidak pernah melupakan umat-Nya. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
Sekarang di halaman 38 dari 44