Tuhan Menyembuhkan
...

Tuhan Menyembuhkan

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Sabtu, 14 Maret 2026. Tuhan Menyembuhkan (Hosea 6:1-6). 6:1 Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita. 6:2 Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya. 6:3 Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi. 6:4 Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Efraim? Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Yehuda? Kasih setiamu seperti kabut pagi , dan seperti embun yang hilang pagi-pagi benar. 6:5 Sebab itu Aku telah meremukkan mereka dengan perantaraan nabi-nabi, Aku telah membunuh mereka dengan perkataan mulut-Ku, dan hukum-Ku keluar seperti terang. 6:6 Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Hosea 6:1–6: Pertama, Tuhan Menyembuhkan. Bangsa Israel diajak untuk kembali kepada Tuhan dengan keyakinan bahwa Dialah yang akan memulihkan mereka. Walaupun Tuhan mengizinkan mereka mengalami penderitaan akibat dosa mereka, tujuan-Nya bukanlah untuk menghancurkan, melainkan untuk membawa mereka kembali kepada kehidupan. Gambaran bahwa Tuhan akan “menghidupkan” dan “membangkitkan” menunjukkan harapan baru setelah masa kegelapan. Seperti fajar yang pasti terbit dan hujan yang menyuburkan bumi, demikian juga kasih dan pertolongan Tuhan akan datang pada waktunya. Dalam perjalanan hidup, penderitaan atau teguran Tuhan sering menjadi sarana untuk memulihkan relasi kita dengan-Nya. Ketika manusia berbalik kepada Tuhan, ia akan menemukan bahwa Tuhan selalu siap menyembuhkan dan memperbarui hidupnya. Kedua, Tuhan Menghendaki Kasih Setia dan Pengenalan Sejati. Tuhan menegur umat-Nya karena kasih setia mereka tidak bertahan lama. Kesetiaan Israel digambarkan seperti kabut pagi atau embun yang cepat menghilang. Walaupun mereka mungkin masih melakukan korban dan ritual keagamaan, namun hati mereka tidak sungguh-sungguh melekat kepada Tuhan. Karena itu Tuhan menegaskan bahwa yang Ia kehendaki bukanlah korban sembelihan, tetapi kasih setia dan pengenalan sejati akan Dia. Ibadah yang sejati bukan hanya soal tindakan lahiriah, melainkan hubungan yang hidup dengan Tuhan. Ketika manusia sungguh mengenal Tuhan, kasih setia itu akan tampak dalam cara hidupnya: dalam kesetiaan, ketaatan, dan kasih kepada sesama. Menjalankan kewajiban religius tanpa kasih dan iman seperti kabut dan embun pagi yang segera lenyap. Relasi yang tulus dengan Tuhan dibangun atas dasar kasih dan iman yang hidup dan bertumbuh setiap hari. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda