Mendengarkan Tuhan adalah Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati.
...

Mendengarkan Tuhan adalah Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati.

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kanis, 12 Maret 2026. Mendengarkan Tuhan adalah Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati. (Yeremia 7:23-29). 7:23 hanya yang berikut inilah yang telah Kuperintahkan kepada mereka: Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia! 7:24 Tetapi mereka tidak mau mendengarkan dan tidak mau memberi perhatian, melainkan mereka mengikuti rancangan-rancangan dan kedegilan hatinya yang jahat, dan mereka memperlihatkan belakangnya dan bukan mukanya. 7:25 Dari sejak waktu nenek moyangmu keluar dari tanah Mesir sampai waktu ini, Aku mengutus kepada mereka hamba-hamba-Ku, para nabi, hari demi hari, terus-menerus, 7:26 tetapi mereka tidak mau mendengarkan kepada-Ku dan tidak mau memberi perhatian, bahkan mereka menegarkan tengkuknya, berbuat lebih jahat dari pada nenek moyang mereka. 7:27 Sekalipun engkau mengatakan kepada mereka segala perkara ini, mereka tidak akan mendengarkan perkataanmu, dan sekalipun engkau berseru kepada mereka, mereka tidak akan menjawab engkau. 7:28 Sebab itu, katakanlah kepada mereka: Inilah bangsa yang tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allah mereka, dan yang tidak mau menerima penghajaran! Ketulusan mereka sudah lenyap, sudah hapus dari mulut mereka.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Yeremia 7:23–28: Pertama, Mendengarkan Tuhan adalah Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati. Tuhan menyampaikan pesan yang sangat sederhana kepada umat-Nya: “Dengarkanlah suara-Ku… dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia.” Inti dari relasi antara Tuhan dan umat-Nya adalah kesediaan untuk mendengarkan dan menaati suara-Nya. Tuhan ingin menjadi Allah bagi mereka dan menjadikan mereka umat-Nya, suatu hubungan yang penuh kedekatan dan pemeliharaan. Kebahagiaan yang dijanjikan itu hanya dapat dialami jika umat berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Dalam kehidupan kita, sering manusia mencari kebahagiaan melalui banyak hal: keberhasilan, kekuasaan, atau kenyamanan. Namun firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati lahir dari hati yang mau mendengarkan Tuhan dan hidup sesuai dengan jalan yang ditunjukkan-Nya. Kedua, Kedegilan Hati Menjauhkan Manusia dari Suara Tuhan. Bangsa Israel digambarkan sebagai umat yang tidak mau mendengarkan, bahkan terus mengikuti rancangan dan kedegilan hati mereka sendiri. Walaupun Tuhan berkali-kali mengutus para nabi untuk menegur dan membimbing mereka, mereka tetap tegar tengkuk. Sikap ini menunjukkan bahwa masalah utama addalah hati manusia yang tertutup untuk mendengarkan pesan Tuhan. Kedegilan hati membuat manusia lebih memilih kehendaknya sendiri daripada kehendak Tuhan. Akibatnya, relasi dengan Tuhan menjadi rusak dan kebenaran pun “lenyap dari mulut mereka.” Hati yang rendah dan mau dibentuk akan selalu menemukan jalan kembali kepada Tuhan, sementara hati yang keras perlahan menjauh dari-Nya. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda