Halaman Sarifirman

Bacaan Sarifirman

Kembali ke Beranda

No Tanggal Judul Salam dan Teks Kitab Suci Renungan Pertama Kedua Berkat Aksi
1 2026-08-14 Pengampunan Sejati Melahirkan Kerendahan Hati Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Jumat, 14 Agustus 2026. Pengampunan Sejati Melahirkan Kerendahan Hati (Yehezkiel 16:59-63). 16:59 Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku akan melakukan kepadamu seperti engkau lakukan, yaitu engkau memandang ringan kepada sumpah dengan mengingkari perjanjian. 16:60 Tetapi Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan engkau pada masa mudamu dan Aku akan meneguhkan bagimu perjanjian yang kekal. 16:61 Barulah engkau teringat kepada kelakuanmu dan engkau merasa malu, pada waktu Aku mengambil kakak-kakakmu, baik yang tertua maupun yang termuda, dan memberikan mereka kepadamu menjadi anakmu, tetapi bukan berdasarkan engkau memegang perjanjian. 16:62 Aku akan meneguhkan perjanjian-Ku dengan engkau, dan engkau akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, 16:63 dan dengan itu engkau akan teringat-ingat yang dulu dan merasa malu, sehingga mulutmu terkatup sama sekali karena nodamu, waktu Aku mengadakan pendamaian bagimu karena segala perbuatanmu, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, Yehezkiel 16:59-63: Kesetiaan Allah Tidak Bergantung pada Kesetiaan Kita. Israel telah mengingkari perjanjiannya dengan Allah, tetapi Tuhan berkata, “Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan engkau” dan meneguhkan kembali “perjanjian yang kekal.” Ini menunjukkan bahwa ketika manusia tidak setia, Allah tetap setia. Dosa dapat merusak hubungan kita dengan Allah, tetapi dosa tidak pernah membuat Allah berhenti mengasihi dan mencari kita. Karena itu, ketika kita jatuh, jangan berpikir bahwa semuanya sudah berakhir. Pertobatan selalu mungkin karena Allah lebih besar daripada kegagalan kita. Rahmat-Nya bukan hadiah bagi orang yang sempurna, melainkan jalan pulang bagi orang yang mau kembali. Pengampunan Sejati Melahirkan Kerendahan Hati, Bukan Kesombongan. Tuhan mengatakan bahwa setelah mengalami pemulihan, umat akan “teringat kepada kelakuanmu dan merasa malu.” Namun rasa malu itu bukan untuk menghancurkan mereka, melainkan untuk membuat mereka semakin mengenal Tuhan dan menyadari betapa besar rahmat yang telah diterima. Demikian pula dalam hidup kita: orang yang sungguh mengalami pengampunan tidak akan semakin sombong, tetapi semakin rendah hati. Ia tahu bahwa dirinya berdiri bukan karena kehebatannya sendiri, melainkan karena belas kasih Allah. Maka, semakin besar kesalahan yang telah diampuni, seharusnya semakin besar pula rasa syukur kita. Pada akhirnya, pertobatan membawa kita pada satu kesadaran: bukan karena kita setia maka Allah mengasihi kita, tetapi karena Allah setia, kita selalu memiliki alasan untuk kembali kepada-Nya. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
2 2026-08-15 Pertobatan Berarti Membiarkan Allah Memperbaharui Hati Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Sabtu, 15 Agustus 2026. Pertobatan Berarti Membiarkan Allah Memperbaharui Hati (Yehezkiel 18:1-10.13b.30-32). 18:1 Maka datanglah firman TUHAN kepadaku: 18:2 Ada apa dengan kamu, sehingga kamu mengucapkan kata sindiran ini di tanah Israel: Ayah-ayah makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu? 18:3 Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, kamu tidak akan mengucapkan kata sindiran ini lagi di Israel. 18:4 Sungguh, semua jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya! Dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. 18:5 Kalau seseorang adalah orang benar dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, 18:6 dan ia tidak makan daging persembahan di atas gunung atau tidak melihat kepada berhala-berhala kaum Israel, tidak mencemari isteri sesamanya dan tidak menghampiri perempuan waktu bercemar kain, 18:7 tidak menindas orang lain, ia mengembalikan gadaian orang, tidak merampas apa-apa, memberi makan orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang, 18:8 tidak memungut bunga uang atau mengambil riba, menjauhkan diri dari kecurangan, melakukan hukum yang benar di antara manusia dengan manusia, 18:9 hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap mengikuti peraturan-Ku dengan berlaku setia--ialah orang benar, dan ia pasti hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH. 18:10 Tetapi kalau ia melahirkan seorang anak yang menjadi perampok, dan yang suka menumpahkan darah atau melakukan salah satu dari hal-hal itu, 18:13 memungut bunga uang dan mengambil riba, orang yang demikian tidak akan hidup. Segala kekejian ini dilakukannya, ia harus mati darahnya tertimpa kepadanya sendiri. 18:30 Oleh karena itu Aku akan menghukum kamu masing-masing menurut tindakannya, hai kaum Israel, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bertobatlah dan berpalinglah dari segala durhakamu, supaya itu jangan bagimu menjadi batu sandungan, yang menjatuhkan kamu ke dalam kesalahan. 18:31 Buangkanlah dari padamu segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku dan perbaharuilah hatimu dan rohmu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel? 18:32 Sebab Aku tidak berkenan kepada kematian seseorang yang harus ditanggungnya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Oleh sebab itu, bertobatlah, supaya kamu hidup! Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, Yehezkiel 18:1-10.13b.30-32: Kita Tidak Bisa Terus Menyalahkan Masa Lalu atas Pilihan Hidup Kita Hari Ini. Umat Israel memiliki anggapan bahwa mereka menderita karena kesalahan nenek moyang mereka: “Ayah-ayah makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu.” Tetapi Tuhan menegaskan bahwa setiap pribadi bertanggung jawab atas hidup dan pilihannya sendiri. Ini bukan berarti kita tidak dipengaruhi oleh keluarga, lingkungan, atau masa lalu, tetapi kita tidak boleh menjadikan semuanya sebagai alasan untuk tidak berubah. Masa lalu mungkin menjelaskan mengapa kita terluka, tetapi tidak harus menentukan siapa kita selamanya. Karena itu, daripada terus berkata, “Saya menjadi seperti ini karena mereka,” iman mengajak kita bertanya, “Apa yang dapat saya pilih sekarang agar hidup saya semakin sesuai dengan kehendak Allah?” Di hadapan Tuhan, selalu ada kesempatan untuk mengambil keputusan yang baru. Pertobatan Bukan Sekadar Menyesali Dosa, tetapi Membiarkan Allah Memperbarui Hati. Tuhan tidak hanya berkata, “Buangkanlah dari padamu segala durhaka,” tetapi juga, “Perbaharuilah hatimu dan rohmu!” Bahkan Tuhan menegaskan bahwa Ia tidak berkenan pada kematian orang berdosa, melainkan menghendaki agar manusia bertobat dan hidup. Karena itu, pertobatan sejati bukan sekadar merasa bersalah setelah melakukan kesalahan, melainkan berani meninggalkan cara hidup yang lama dan membuka diri bagi kehidupan yang baru. Kita sering ingin Tuhan mengubah keadaan, orang lain, atau masa lalu kita, padahal mungkin Tuhan pertama-tama ingin mengubah hati kita sendiri. Pertobatan menjadi sungguh nyata ketika kita tidak lagi bertanya, “Mengapa saya harus berubah?”, tetapi mulai berkata, “Tuhan, ubahlah hatiku agar aku dapat hidup menurut kehendak-Mu.” Sebab Allah tidak menghendaki kita terus tinggal dalam dosa Ia memanggil kita untuk berbalik, diperbarui, dan hidup. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
3 2026-08-16 Maria Yang Dimuliakan Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 16 Agustus 2026. Maria Yang Dimuliakan (Wahyu 11:19a 12:1,3-6a,10ab). 11:19 Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat. 12:1 Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. 12:3 Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. 12:4 Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. 12:5 Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. 12:6 Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya. 12:10. Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, Wahyu 11:19a 12:1,3-6a,10ab: Maria yang Dimuliakan Tidak Berarti Maria yang Bebas dari Perjuangan. Bacaan menggambarkan “seorang perempuan berselubungkan matahari”, tetapi pada saat yang sama muncul naga merah yang mengancam anak yang dilahirkannya. Gambaran ini menarik: kemuliaan dan perjuangan hadir bersamaan. Maria bukan perempuan yang hidup tanpa penderitaan ia mengalami penolakan, harus mengungsi, menyaksikan penderitaan dan wafat Putranya. Karena itu, pesta Maria Diangkat ke Surga bukanlah kisah tentang seorang manusia yang melarikan diri dari dunia yang penuh masalah, melainkan tentang seorang yang tetap setia kepada Allah sampai akhirnya Allah memuliakannya. Ini menjadi penghiburan bagi kita: hidup yang dekat dengan Tuhan tidak selalu menjadi hidup yang mudah. Kadang kita tetap mengalami sakit, kehilangan, kesulitan keluarga, dan perjuangan. Tetapi kesulitan bukan tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita. Seperti Maria, kita dipanggil untuk tetap setia sampai akhir, sebab bagi orang yang setia, penderitaan bukanlah kata terakhir kemuliaan Allah-lah yang menjadi tujuan akhirnya. Maria Diangkat ke Surga adalah Tanda bahwa Kejahatan Tidak Memiliki Kata Terakhir. Naga dalam bacaan melambangkan kuasa kejahatan yang ingin menghancurkan karya Allah, tetapi akhirnya terdengar seruan: “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita.” Di sinilah makna terdalam pesta hari ini: Maria yang diangkat ke surga adalah tanda bahwa kehidupan yang diserahkan kepada Allah tidak akan berakhir dalam kehancuran. Dunia kadang membuat kita berpikir bahwa yang kuat pasti menang, yang licik akan berhasil, dan yang baik akhirnya kalah. Tetapi Wahyu membalik cara pandang itu. Naga memang mengancam, tetapi ia tidak menang. Maria memang mengalami penderitaan, tetapi ia tidak berakhir dalam penderitaan. Karena itu, kita tidak boleh mengukur hidup hanya dari apa yang tampak sekarang. Kita berjalan menuju kemenangan yang sudah dimulai dalam Kristus. Maria menjadi tanda bagi kita bahwa kesetiaan kepada Allah tidak pernah sia-sia: apa yang kita serahkan kepada Tuhan dengan iman, pada akhirnya akan dibawa-Nya kepada kehidupan dan kemuliaan. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
4 2026-08-17 Pemimpin Bijaksana Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin, 17 Agustus 2026. Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Pemimpin Bijaksana (Sirakh 10:1-8). Pemerintah yang bijak menjamin ketertiban dalam masyarakat, pemerintah yang arif adalah yang teratur. Seperti para penguasa, demikian pula para pegawainya seperti pemerintah kota, demikian pula semua penduduknya. Raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya, tetapi sebuah kota sejahtera berkat kearifan para pembesarnya. Di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi, dan pada waktunya Ia mengangkat orang yang serasi atasnya. Di dalam tangan Tuhanlah terletak kemujuran seseorang, dan kepada para pejabat Tuhan mengaruniakan martabat. Janganlah pernah menaruh benci kepada sesamamu, apapun juga kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu. Kecongkakan dibenci oleh Tuhan maupun manusia, dan bagi kedua-duanya kelaliman adalah salah. Pemerintahan beralih dari bangsa yang satu kepada bangsa yang lain akibat kelaliman, kekerasan dan uang. Dua pokok permenungan dari bacaan hari ini, Sir. 10:1-8 Mzm. 101 1Ptr. 2:13-17 Mat. 22:15-21: Pemimpin yang Baik Bukan Hanya Mengatur Orang Lain, tetapi Terlebih Dahulu Mengatur Dirinya Sendiri. Sirakh berkata bahwa “seorang penguasa yang bijaksana membentuk rakyatnya”, sementara “raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya.” Ini menunjukkan bahwa kualitas sebuah masyarakat sangat dipengaruhi oleh kualitas hati orang yang memimpinnya. Tetapi Injil membawa kita lebih dalam. Ketika Yesus berkata, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah,” Yesus seakan mengingatkan bahwa sebelum kita bertanya, “Apa yang harus dilakukan orang lain?”, kita perlu bertanya, “Apa yang menjadi kewajibanku di hadapan Tuhan?” Kepemimpinan bukan pertama-tama soal jabatan, kuasa, atau kemampuan memerintah. Kepemimpinan adalah soal tanggung jawab moral. Orang tua memimpin keluarga, guru memimpin murid, pemimpin memimpin masyarakat, bahkan setiap orang memimpin dirinya sendiri. Karena itu, sebelum mengoreksi dunia, kita dipanggil untuk menata hati sendiri: apakah keputusan saya lahir dari kejujuran atau kepentingan diri? Apakah kata-kata saya membangun atau melukai? Apakah kekuasaan yang dipercayakan kepada saya menjadi berkat atau justru menjadi beban bagi orang lain? Dunia tidak pertama-tama membutuhkan orang yang pandai berkuasa, tetapi orang yang tahu bagaimana menggunakan kuasa dengan hati yang takut akan Allah. Kita Boleh Memberikan Banyak Hal kepada Dunia, tetapi Jangan Pernah Memberikan Apa yang Hanya Milik Allah. Yesus berkata, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Koin boleh memiliki gambar Kaisar, tetapi manusia memiliki gambar Allah. Karena itu, pajak, kewajiban sosial, pekerjaan, tanggung jawab sebagai warga negara—semuanya memang harus kita jalankan. Tetapi ada sesuatu yang tidak boleh kita serahkan kepada siapa pun: hati, hati nurani, dan kesetiaan terdalam kita kepada Allah. Di zaman ketika jabatan, uang, popularitas, dan kekuasaan mudah menjadi “tuhan-tuhan kecil”, Sabda hari ini mengingatkan kita untuk menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Kita boleh bekerja demi karier, tetapi karier bukan Tuhan. Kita boleh mengejar keberhasilan, tetapi keberhasilan bukan Tuhan. Kita boleh menghormati pemimpin dan menaati aturan, tetapi tidak boleh menjadikan manusia sebagai pengganti Allah. Maka pertanyaan penting bagi kita hari ini bukan hanya, “Apa yang harus saya berikan kepada negara?” tetapi juga: “Apa yang sudah saya berikan kepada Allah?” Sebab kita telah menerima begitu banyak dari-Nya—hidup, waktu, talenta, keluarga, kesempatan, dan keselamatan. Dan pada akhirnya, yang Allah minta bukan sekadar sebagian dari milik kita. Allah menghendaki diri kita sendiri. Ketika hati kita sungguh-sungguh menjadi milik Allah, kita justru mampu menjalankan tanggung jawab di dunia dengan lebih jujur, adil, dan bertanggung jawab. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
5 2026-08-18 Kehilangan Adalah Cara Tuhan Menyelamatkan Kita Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Selasa, 18 Agustus 2026. Kehilangan Adalah Cara Tuhan Menyelamatkan Kita (Yehezkiel 28:1-10). 28:1 Maka datanglah firman TUHAN kepadaku: 28:2 Hai anak manusia, katakanlah kepada raja Tirus: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Karena engkau menjadi tinggi hati, dan berkata: Aku adalah Allah! Aku duduk di takhta Allah di tengah-tengah lautan. Padahal engkau adalah manusia, bukanlah Allah, walau hatimu menempatkan diri sama dengan Allah. 28:3 Memang hikmatmu melebihi hikmat Daniel tiada rahasia yang terlindung bagimu. 28:4 Dengan hikmatmu dan pengertianmu engkau memperoleh kekayaan. Emas dan perak kaukumpulkan dalam perbendaharaanmu. 28:5 Karena engkau sangat pandai berdagang engkau memperbanyak kekayaanmu, dan karena itu engkau jadi sombong. 28:6 Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Karena hatimu menempatkan diri sama dengan Allah 28:7 maka, sungguh, Aku membawa orang asing melawan engkau, yaitu bangsa yang paling ganas, yang akan menghunus pedang mereka, melawan hikmatmu yang terpuja dan semarakmu dinajiskan. 28:8 Engkau diturunkannya ke lobang kubur, engkau mati seperti orang yang mati terbunuh di tengah lautan. 28:9 Apakah engkau masih akan mengatakan di hadapan pembunuhmu: Aku adalah Allah!? Padahal terhadap kuasa penikammu engkau adalah manusia, bukanlah Allah. 28:10 Engkau akan mati seperti orang tak bersunat oleh tangan orang asing. Sebab Aku yang mengatakannya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Selasa, 18 Agustus 2026. Kehilangan Adalah Cara Tuhan Menyelamatkan Kita (Yehezkiel 28:1-10). 28:1 Maka datanglah firman TUHAN kepadaku: 28:2 Hai anak manusia, katakanlah kepada raja Tirus: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Karena engkau menjadi tinggi hati, dan berkata: Aku adalah Allah! Aku duduk di takhta Allah di tengah-tengah lautan. Padahal engkau adalah manusia, bukanlah Allah, walau hatimu menempatkan diri sama dengan Allah. 28:3 Memang hikmatmu melebihi hikmat Daniel tiada rahasia yang terlindung bagimu. 28:4 Dengan hikmatmu dan pengertianmu engkau memperoleh kekayaan. Emas dan perak kaukumpulkan dalam perbendaharaanmu. 28:5 Karena engkau sangat pandai berdagang engkau memperbanyak kekayaanmu, dan karena itu engkau jadi sombong. 28:6 Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Karena hatimu menempatkan diri sama dengan Allah 28:7 maka, sungguh, Aku membawa orang asing melawan engkau, yaitu bangsa yang paling ganas, yang akan menghunus pedang mereka, melawan hikmatmu yang terpuja dan semarakmu dinajiskan. 28:8 Engkau diturunkannya ke lobang kubur, engkau mati seperti orang yang mati terbunuh di tengah lautan. 28:9 Apakah engkau masih akan mengatakan di hadapan pembunuhmu: Aku adalah Allah!? Padahal terhadap kuasa penikammu engkau adalah manusia, bukanlah Allah. 28:10 Engkau akan mati seperti orang tak bersunat oleh tangan orang asing. Sebab Aku yang mengatakannya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. , Kesombongan Dimulai Ketika Manusia Merasa Tidak Lagi Membutuhkan Allah. Raja Tirus memiliki kekayaan dan hikmat, tetapi hatinya menjadi sombong sampai berkata, “Aku adalah Allah.” Masalahnya bukan pada kekayaan atau keberhasilannya, melainkan pada hati yang lupa bahwa semua itu adalah anugerah. Kita pun bisa mengalaminya: ketika hidup berhasil, kita mudah berkata, “Ini karena saya hebat,” dan lupa bersyukur kepada Tuhan. Karena itu, setiap keberhasilan seharusnya membuat kita semakin rendah hati: semakin banyak yang kita terima, semakin dalam kita menyadari bahwa kita membutuhkan Allah. Tuhan Dapat Mengizinkan Kita Jatuh agar Kita Kembali Menyadari Siapa Diri Kita. Allah menjatuhkan kesombongan raja Tirus agar ia tidak lagi merasa dirinya Allah. Kadang kegagalan, kehilangan, atau runtuhnya sesuatu yang kita banggakan menjadi kesempatan untuk kembali kepada Tuhan. Tidak semua kehilangan adalah hukuman kadang kehilangan adalah cara Tuhan menyelamatkan kita dari kesombongan. Pada akhirnya, yang terpenting bukan seberapa tinggi kita berdiri, tetapi apakah kita masih menempatkan Allah sebagai Tuhan dan diri kita sebagai manusia yang bergantung kepada-Nya. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
6 2026-08-19 Jabatan: Panggilan Untuk Melayani Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 19 Agustus 2026. Jabatan: Panggilan Untuk Melayani (Yehezkiel 34:1-11). 34:1 Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: 34:2 Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? 34:3 Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. 34:4 Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman. 34:5 Dengan demikian mereka berserak, oleh karena gembala tidak ada, dan mereka menjadi makanan bagi segala binatang di hutan. Domba-domba-Ku berserak 34:6 dan tersesat di semua gunung dan di semua bukit yang tinggi ya, di seluruh tanah itu domba-domba-Ku berserak, tanpa seorangpun yang memperhatikan atau yang mencarinya. 34:7 Oleh sebab itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN: 34:8 Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, sesungguhnya oleh karena domba-domba-Ku menjadi mangsa g dan menjadi makanan bagi segala binatang di hutan, lantaran yang menggembalakannya tidak ada, oleh sebab gembala-gembala-Ku tidak memperhatikan domba-domba-Ku, melainkan mereka itu menggembalakan dirinya sendiri, tetapi domba-domba-Ku tidak digembalakannya-- 34:9 oleh karena itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN: 34:10 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku sendiri akan menjadi lawan gembala-gembala itu dan Aku akan menuntut kembali domba-domba-Ku dari mereka dan akan memberhentikan mereka menggembalakan domba-domba-Ku. Gembala-gembala itu tidak akan terus lagi menggembalakan dirinya sendiri Aku akan melepaskan domba-domba-Ku dari mulut mereka, sehingga tidak terus lagi menjadi makanannya. 34:11 Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya. Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, Yehezkiel 34:1-11: Jabatan Bukanlah Kesempatan untuk Dilayani, tetapi Panggilan untuk Melayani. Tuhan menegur para gembala Israel karena mereka menikmati susu dan pakaian domba, tetapi tidak memperhatikan domba-domba yang lemah. Mereka menggunakan jabatan untuk kepentingan diri sendiri, bukan untuk kesejahteraan umat. Ini menjadi peringatan bagi kita: siapa pun yang diberi tanggung jawab—di keluarga, pekerjaan, masyarakat, maupun Gereja—dipanggil bukan pertama-tama untuk mencari keuntungan, tetapi untuk merawat mereka yang dipercayakan Tuhan. Tuhan Tidak Pernah Melupakan Mereka yang Terlantar. Karena para gembala gagal, Tuhan sendiri berkata: “Aku sendirilah yang akan memperhatikan domba-domba-Ku dan mencarinya.” Inilah penghiburan yang indah: ketika manusia gagal menjaga kita, Tuhan tidak gagal. Ada orang yang mungkin merasa tidak diperhatikan, tidak dihargai, atau berjalan sendirian. Tetapi Tuhan melihat mereka yang terlupakan. Bahkan ketika gembala manusia tidak setia, Allah tetap menjadi Gembala yang mencari, mendekati, dan menyelamatkan domba-Nya. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
7 2026-08-20 Tuhan Memberi Hati Yang Baru Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 20 Agustus 2026. Tuhan Memberi Hati Yang Baru (Yehezkiel 36:23-28). 36:23 Aku akan menguduskan nama-Ku z yang besar yang sudah dinajiskan a di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, b demikianlah firman Tuhan ALLAH, manakala Aku menunjukkan kekudusan-Ku c kepadamu di hadapan d bangsa-bangsa. 36:24 Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu. e 36:25 Aku akan mencurahkan f kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan g kamu dari segala kenajisanmu h dan dari semua berhala-berhalamu i Aku akan mentahirkan kamu. 36:26 Kamu akan Kuberikan hati j yang baru 4 , dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras k dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. l 36:27 Roh-Ku m akan Kuberikan diam di dalam batinmu 5 dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku n dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku o dan melakukannya. 36:28 Dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu dan kamu akan menjadi umat-Ku p dan Aku akan menjadi Allahmu. Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, Yehezkiel 36:23-28: Tuhan Tidak Hanya Membersihkan Hidup Kita, tetapi Memberi Kita Hati yang Baru. Tuhan berkata, “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu.” Tetapi Allah tidak berhenti pada pembersihan dari dosa. Ia berjanji, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru.” Artinya, pertobatan sejati bukan sekadar berhenti melakukan yang salah, tetapi membiarkan Tuhan mengubah hati yang menjadi sumber kehidupan kita. Kita sering ingin mengubah keadaan di luar diri, sementara Tuhan justru mulai dari dalam diri kita. Hidup Baru Berarti Membiarkan Roh Allah Menuntun Kita. Allah berjanji, “Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu.” Ini berarti hidup baru bukan hasil kekuatan kita semata. Allah sendiri yang memberi rahmat untuk memulai kembali. Karena itu, ketika kita jatuh dalam dosa, jangan berhenti pada rasa bersalah. Datanglah kepada Tuhan dan izinkan Dia membarui hati kita. Sebab bagi Allah, masa lalu bukan akhir hidup kita ketika hati terbuka kepada-Nya, selalu ada kemungkinan untuk menjadi manusia yang baru. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
8 2026-08-21 Tuhan Sanggup Memberikan Harapan Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Jumat, 21 Agustus 2026. Tuhan Sanggup Memberikan Harapan (Yehezkiel 37:1-14). 37:1 Lalu kekuasaan TUHAN meliputi aku dan Ia membawa aku ke luar dengan perantaraan Roh-Nya dan menempatkan aku di tengah-tengah lembah, dan lembah ini penuh dengan tulang-tulang. 37:2 Ia membawa aku melihat tulang-tulang itu berkeliling-keliling dan sungguh, amat banyak bertaburan di lembah itu lihat, tulang-tulang itu amat kering. 37:3 Lalu Ia berfirman kepadaku: Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali? Aku menjawab: Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui! 37:4 Lalu firman-Nya kepadaku: Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN! 37:5 Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali. 37:6 Aku akan memberi urat-urat padamu dan menumbuhkan daging padamu, Aku akan menutupi kamu dengan kulit dan memberikan kamu nafas hidup, supaya kamu hidup kembali. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN. 37:7 Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan kepadaku dan segera sesudah aku bernubuat, kedengaranlah suara, sungguh, suatu suara berderak-derak, dan tulang-tulang itu bertemu satu sama lain. 37:8 Sedang aku mengamat-amatinya, lihat, urat-urat ada dan daging tumbuh padanya, kemudian kulit menutupinya, tetapi mereka belum bernafas. 37:9 Maka firman-Nya kepadaku: Bernubuatlah kepada nafas hidup itu, bernubuatlah, hai anak manusia, dan katakanlah kepada nafas hidup itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali. 37:10 Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku. Dan nafas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kakinya, suatu tentara yang sangat besar. 37:11 Firman-Nya kepadaku: Hai anak manusia, tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel. Sungguh, mereka sendiri mengatakan: Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang. 37:12 Oleh sebab itu, bernubuatlah dan katakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel. 37:13 Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya. 37:14 Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman TUHAN. Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, Yehezkiel 37:1-14: Tuhan Sanggup Memberikan Harapan Bahkan di Tengah Kehidupan yang Sudah Kita Anggap Mati. Yehezkiel dibawa Tuhan ke sebuah lembah yang penuh dengan tulang-tulang kering. Tulang-tulang itu bukan sekadar mati, tetapi “amat banyak dan sudah sangat kering.” Gambaran ini berbicara tentang keadaan Israel yang merasa harapannya telah lenyap: “Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap.” Namun Tuhan bertanya kepada Yehezkiel, “Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?” Pertanyaan itu mengajak kita melihat bahwa batas kemampuan manusia bukanlah batas kuasa Allah. Ada keadaan dalam hidup yang mungkin sudah kita cap sebagai selesai: relasi yang rusak, panggilan yang terasa gagal, iman yang menjadi kering, atau hati yang kehilangan harapan. Tetapi bagi Tuhan, bahkan lembah penuh tulang kering masih dapat menjadi tempat lahirnya kehidupan baru. Jangan terlalu cepat menyebut sesuatu “sudah mati”, sebab Tuhan masih dapat melihat kehidupan yang belum kita lihat. Roh Kudus Tidak Hanya Menghidupkan Kita, tetapi Mengembalikan Kita kepada Tujuan Hidup. Tuhan tidak hanya membuat tulang-tulang itu tersusun kembali. Ia memberikan urat, daging, kulit, dan akhirnya menghembuskan Roh-Nya sehingga mereka hidup. Yang menarik, Tuhan kemudian berkata bahwa mereka akan keluar dari kubur dan membawa mereka kembali ke tanah Israel. Artinya, kebangkitan yang diberikan Allah bukan sekadar supaya kita “merasa hidup” kembali, tetapi supaya kita kembali menjadi umat yang hidup bagi-Nya. Ada kalanya kita memohon kepada Tuhan agar mengangkat kita dari kesulitan, tetapi Tuhan ingin melakukan sesuatu yang lebih dalam: mengembalikan arah hidup kita kepada-Nya. Roh Allah tidak hanya menyembuhkan hati yang patah Ia membangkitkan kita untuk kembali menjalani panggilan, mencintai, melayani, mengampuni, dan menjadi tanda kehidupan bagi orang lain. Karena itu, ketika kita merasa kering dan kehilangan arah, doa kita bukan hanya, “Tuhan, buat aku kuat kembali,” tetapi juga, “Tuhan, hidupkan aku kembali agar hidupku berguna bagi kehendak-Mu.” Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
9 2026-08-22 Tuhan Tidak Meninggalkan Kita Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Sabtu, 22 Agustus 2026. Tuhan Tidak Meninggalkan Kita (Yehezkiel 43:1-7). 43:1 Lalu dibawanya aku ke pintu gerbang, yaitu pintu gerbang yang menghadap ke sebelah timur. 43:2 Sungguh, kemuliaan Allah Israel datang dari sebelah timur dan terdengarlah suara seperti suara air terjun yang menderu dan bumi bersinar karena kemuliaan-Nya. 43:3 Yang kelihatan kepadaku itu adalah seperti yang kelihatan kepadaku ketika Ia datang untuk memusnahkan kota itu dan seperti yang kelihatan kepadaku di tepi sungai Kebar, maka aku sembah sujud. 43:4 Sedang kemuliaan TUHAN masuk di dalam Bait Suci melalui pintu gerbang yang menghadap ke sebelah timur, 43:5 Roh itu mengangkat aku dan membawa aku ke pelataran dalam, sungguh, Bait Suci itu penuh kemuliaan TUHAN 1 . 43:6 Lalu aku mendengar Dia berfirman kepadaku dari dalam Bait Suci itu--orang yang mengukur Bait Suci itu berdiri di sampingku-- 43:7 dan Ia berfirman kepadaku: Hai anak manusia, inilah tempat takhta-Ku dan inilah tempat tapak kaki-Ku di sinilah Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel untuk selama-lamanya 2 dan kaum Israel tidak lagi akan menajiskan nama-Ku yang kudus, baik mereka maupun raja-raja mereka, dengan persundalan mereka atau dengan mayat raja-raja mereka yang sudah mati. Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, Yehezkiel 43:1-7a: Kemuliaan Tuhan Datang Kembali ke Tempat yang Pernah Ditinggalkan-Nya. Yehezkiel melihat kemuliaan Tuhan datang dari arah timur dan memenuhi Bait Allah. Ini sangat kuat karena sebelumnya, dalam penglihatan Yehezkiel, kemuliaan Tuhan meninggalkan Bait Allah akibat ketidaksetiaan umat. Kini kemuliaan itu kembali. Allah tidak selamanya meninggalkan manusia yang pernah jatuh ketika hati kembali terbuka kepada-Nya, Ia berkenan kembali tinggal dan berkarya. Ada saat-saat ketika hidup kita terasa seperti “Bait Allah yang kosong”: doa menjadi kering, hati jauh dari Tuhan, semangat pelayanan meredup, atau dosa membuat kita merasa tidak layak. Namun bacaan ini mengingatkan bahwa kepergian kita dari Tuhan tidak harus menjadi akhir dari hubungan kita dengan-Nya. Tuhan adalah Allah yang datang kembali. Ia ingin memenuhi kembali ruang hidup yang selama ini kita biarkan kosong. Kehadiran Tuhan Mengubah Tempat Biasa Menjadi Tempat Kudus. Tuhan berkata kepada Yehezkiel, “Hai anak manusia, inilah tempat takhta-Ku dan tempat telapak kaki-Ku.” Bait Allah menjadi kudus bukan terutama karena bangunannya, melainkan karena Allah hadir di dalamnya. Demikian pula hidup kita: yang membuat hidup menjadi kudus bukan karena kita sudah sempurna, melainkan karena kita memberi ruang bagi Tuhan untuk tinggal dan memerintah di dalam diri kita. Karena itu, kekudusan bukan hanya soal melakukan hal-hal besar bagi Tuhan, tetapi membiarkan kehadiran Tuhan menyentuh cara kita berbicara, bekerja, menggunakan harta, memperlakukan keluarga, mengampuni, dan mengambil keputusan. Ketika Tuhan sungguh menjadi pusat kehidupan, tempat biasa pun dapat menjadi tempat perjumpaan dengan-Nya. Hidup yang dipenuhi Tuhan tidak lagi sekadar menjadi tempat kita tinggal, tetapi menjadi tempat Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
10 2026-08-23 Jabatan Adalah Sebuah Perutusan Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 23 Agustus 2026. Jabatan Adalah Sebuah Perutusan (Yesaya 22:19-23). 22:19 Aku akan melemparkan engkau dari jabatanmu, dan dari pangkatmu engkau akan dijatuhkan. 22:20 Maka pada waktu itu Aku akan memanggil hamba-Ku, Elyakim bin Hilkia: 22:21 Aku akan mengenakan jubahmu kepadanya dan ikat pinggangmu i akan Kuikatkan kepadanya, dan kekuasaanmu akan Kuberikan ke tangannya maka ia akan menjadi bapa bagi penduduk Yerusalem dan bagi kaum Yehuda. 22:22 Aku akan menaruh kunci rumah Daud ke atas bahunya: apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. 22:23 Aku akan memberikan dia kedudukan yang teguh seperti gantungan yang dipasang kuat-kuat pada tembok yang kokoh maka ia akan menjadi kursi kemuliaan bagi kaum keluarganya. Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, Yesaya 22:19-23: Tuhan Dapat Menurunkan Kita dari Jabatan, tetapi Ia Juga Dapat Mengangkat Kita untuk Sebuah Perutusan. Dalam bacaan ini, Tuhan menyingkirkan Sebna dari kedudukannya sebagai pejabat istana dan menggantikannya dengan Eliakim bin Hilkia. Ini menunjukkan bahwa jabatan dan kekuasaan bukanlah milik mutlak manusia semuanya adalah kepercayaan yang dapat diberikan dan diambil kembali oleh Tuhan. Sebna tampaknya telah menjadikan kedudukannya sebagai ruang bagi kepentingan dirinya sendiri, sedangkan Eliakim dipanggil untuk menerima “kunci rumah Daud” sebagai tanda tanggung jawab. Karena itu, pertanyaan penting bagi kita bukan pertama-tama, “Seberapa tinggi kedudukan saya?”, melainkan “Untuk siapa saya menggunakan kedudukan yang dipercayakan kepada saya?” Dalam keluarga, pekerjaan, masyarakat, bahkan dalam Gereja, setiap tanggung jawab adalah perutusan. Tuhan tidak mencari orang yang sekadar memiliki kuasa, tetapi orang yang dapat dipercaya untuk menggunakan kuasa itu demi kebaikan orang lain. Jabatan yang tidak dipersembahkan kepada Tuhan mudah berubah menjadi alat untuk membesarkan diri tetapi jabatan yang diterima sebagai perutusan dapat menjadi sarana menghadirkan kehendak Allah. Kunci yang Tuhan Berikan Bukan Lambang Keistimewaan, melainkan Tanggung Jawab untuk Membuka Jalan bagi Orang Lain. Kepada Eliakim Tuhan berkata, “Aku akan menaruh kunci rumah Daud di atas bahunya.” Kunci adalah lambang kuasa untuk membuka dan menutup. Namun secara rohani, orang yang menerima “kunci” dari Tuhan dipanggil bukan untuk mengunci orang lain demi kepentingan dirinya, melainkan untuk membuka jalan menuju kehidupan, keselamatan, dan kebaikan. Inilah semangat kepemimpinan Kristiani: semakin besar kepercayaan yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk melayani. Seorang ayah atau ibu memiliki “kunci” dalam keluarganya seorang pemimpin memiliki “kunci” dalam komunitasnya seorang imam memiliki “kunci” dalam pelayanan Gereja bahkan setiap kita memiliki pengaruh tertentu terhadap kehidupan orang-orang di sekitar kita. Maka pertanyaannya: apakah kehadiran kita membuka pintu atau justru menutup pintu bagi sesama? Apakah kata-kata kita membuka pintu pengampunan, atau menutupnya dengan luka? Apakah sikap kita membuka kesempatan bagi orang lain untuk bertumbuh, atau justru membuat mereka merasa tidak berharga? Kunci yang Tuhan taruh di bahu kita bukan untuk membuat kita merasa lebih tinggi, tetapi untuk membuat kita semakin rela memikul beban orang lain. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
Sekarang di halaman 54 dari 57