Jabatan Adalah Sebuah Perutusan
...

Jabatan Adalah Sebuah Perutusan

Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 23 Agustus 2026. Jabatan Adalah Sebuah Perutusan (Yesaya 22:19-23). 22:19 Aku akan melemparkan engkau dari jabatanmu, dan dari pangkatmu engkau akan dijatuhkan. 22:20 Maka pada waktu itu Aku akan memanggil hamba-Ku, Elyakim bin Hilkia: 22:21 Aku akan mengenakan jubahmu kepadanya dan ikat pinggangmu i akan Kuikatkan kepadanya, dan kekuasaanmu akan Kuberikan ke tangannya maka ia akan menjadi bapa bagi penduduk Yerusalem dan bagi kaum Yehuda. 22:22 Aku akan menaruh kunci rumah Daud ke atas bahunya: apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. 22:23 Aku akan memberikan dia kedudukan yang teguh seperti gantungan yang dipasang kuat-kuat pada tembok yang kokoh maka ia akan menjadi kursi kemuliaan bagi kaum keluarganya.

Renungan : Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, Yesaya 22:19-23:

Pertama : Tuhan Dapat Menurunkan Kita dari Jabatan, tetapi Ia Juga Dapat Mengangkat Kita untuk Sebuah Perutusan. Dalam bacaan ini, Tuhan menyingkirkan Sebna dari kedudukannya sebagai pejabat istana dan menggantikannya dengan Eliakim bin Hilkia. Ini menunjukkan bahwa jabatan dan kekuasaan bukanlah milik mutlak manusia semuanya adalah kepercayaan yang dapat diberikan dan diambil kembali oleh Tuhan. Sebna tampaknya telah menjadikan kedudukannya sebagai ruang bagi kepentingan dirinya sendiri, sedangkan Eliakim dipanggil untuk menerima “kunci rumah Daud” sebagai tanda tanggung jawab. Karena itu, pertanyaan penting bagi kita bukan pertama-tama, “Seberapa tinggi kedudukan saya?”, melainkan “Untuk siapa saya menggunakan kedudukan yang dipercayakan kepada saya?” Dalam keluarga, pekerjaan, masyarakat, bahkan dalam Gereja, setiap tanggung jawab adalah perutusan. Tuhan tidak mencari orang yang sekadar memiliki kuasa, tetapi orang yang dapat dipercaya untuk menggunakan kuasa itu demi kebaikan orang lain. Jabatan yang tidak dipersembahkan kepada Tuhan mudah berubah menjadi alat untuk membesarkan diri tetapi jabatan yang diterima sebagai perutusan dapat menjadi sarana menghadirkan kehendak Allah.



Kedua : Kunci yang Tuhan Berikan Bukan Lambang Keistimewaan, melainkan Tanggung Jawab untuk Membuka Jalan bagi Orang Lain. Kepada Eliakim Tuhan berkata, “Aku akan menaruh kunci rumah Daud di atas bahunya.” Kunci adalah lambang kuasa untuk membuka dan menutup. Namun secara rohani, orang yang menerima “kunci” dari Tuhan dipanggil bukan untuk mengunci orang lain demi kepentingan dirinya, melainkan untuk membuka jalan menuju kehidupan, keselamatan, dan kebaikan. Inilah semangat kepemimpinan Kristiani: semakin besar kepercayaan yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk melayani. Seorang ayah atau ibu memiliki “kunci” dalam keluarganya seorang pemimpin memiliki “kunci” dalam komunitasnya seorang imam memiliki “kunci” dalam pelayanan Gereja bahkan setiap kita memiliki pengaruh tertentu terhadap kehidupan orang-orang di sekitar kita. Maka pertanyaannya: apakah kehadiran kita membuka pintu atau justru menutup pintu bagi sesama? Apakah kata-kata kita membuka pintu pengampunan, atau menutupnya dengan luka? Apakah sikap kita membuka kesempatan bagi orang lain untuk bertumbuh, atau justru membuat mereka merasa tidak berharga? Kunci yang Tuhan taruh di bahu kita bukan untuk membuat kita merasa lebih tinggi, tetapi untuk membuat kita semakin rela memikul beban orang lain.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda