Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 16 Agustus 2026. Maria Yang Dimuliakan (Wahyu 11:19a 12:1,3-6a,10ab). 11:19 Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat. 12:1 Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. 12:3 Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. 12:4 Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. 12:5 Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. 12:6 Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya. 12:10. Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita.
Renungan : Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, Wahyu 11:19a 12:1,3-6a,10ab:
Pertama : Maria yang Dimuliakan Tidak Berarti Maria yang Bebas dari Perjuangan. Bacaan menggambarkan “seorang perempuan berselubungkan matahari”, tetapi pada saat yang sama muncul naga merah yang mengancam anak yang dilahirkannya. Gambaran ini menarik: kemuliaan dan perjuangan hadir bersamaan. Maria bukan perempuan yang hidup tanpa penderitaan ia mengalami penolakan, harus mengungsi, menyaksikan penderitaan dan wafat Putranya. Karena itu, pesta Maria Diangkat ke Surga bukanlah kisah tentang seorang manusia yang melarikan diri dari dunia yang penuh masalah, melainkan tentang seorang yang tetap setia kepada Allah sampai akhirnya Allah memuliakannya. Ini menjadi penghiburan bagi kita: hidup yang dekat dengan Tuhan tidak selalu menjadi hidup yang mudah. Kadang kita tetap mengalami sakit, kehilangan, kesulitan keluarga, dan perjuangan. Tetapi kesulitan bukan tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita. Seperti Maria, kita dipanggil untuk tetap setia sampai akhir, sebab bagi orang yang setia, penderitaan bukanlah kata terakhir kemuliaan Allah-lah yang menjadi tujuan akhirnya.
Kedua : Maria Diangkat ke Surga adalah Tanda bahwa Kejahatan Tidak Memiliki Kata Terakhir. Naga dalam bacaan melambangkan kuasa kejahatan yang ingin menghancurkan karya Allah, tetapi akhirnya terdengar seruan: “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita.” Di sinilah makna terdalam pesta hari ini: Maria yang diangkat ke surga adalah tanda bahwa kehidupan yang diserahkan kepada Allah tidak akan berakhir dalam kehancuran. Dunia kadang membuat kita berpikir bahwa yang kuat pasti menang, yang licik akan berhasil, dan yang baik akhirnya kalah. Tetapi Wahyu membalik cara pandang itu. Naga memang mengancam, tetapi ia tidak menang. Maria memang mengalami penderitaan, tetapi ia tidak berakhir dalam penderitaan. Karena itu, kita tidak boleh mengukur hidup hanya dari apa yang tampak sekarang. Kita berjalan menuju kemenangan yang sudah dimulai dalam Kristus. Maria menjadi tanda bagi kita bahwa kesetiaan kepada Allah tidak pernah sia-sia: apa yang kita serahkan kepada Tuhan dengan iman, pada akhirnya akan dibawa-Nya kepada kehidupan dan kemuliaan.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda