Pemimpin Bijaksana
...

Pemimpin Bijaksana

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin, 17 Agustus 2026. Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Pemimpin Bijaksana (Sirakh 10:1-8). Pemerintah yang bijak menjamin ketertiban dalam masyarakat, pemerintah yang arif adalah yang teratur. Seperti para penguasa, demikian pula para pegawainya seperti pemerintah kota, demikian pula semua penduduknya. Raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya, tetapi sebuah kota sejahtera berkat kearifan para pembesarnya. Di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi, dan pada waktunya Ia mengangkat orang yang serasi atasnya. Di dalam tangan Tuhanlah terletak kemujuran seseorang, dan kepada para pejabat Tuhan mengaruniakan martabat. Janganlah pernah menaruh benci kepada sesamamu, apapun juga kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu. Kecongkakan dibenci oleh Tuhan maupun manusia, dan bagi kedua-duanya kelaliman adalah salah. Pemerintahan beralih dari bangsa yang satu kepada bangsa yang lain akibat kelaliman, kekerasan dan uang.

Renungan : Dua pokok permenungan dari bacaan hari ini, Sir. 10:1-8 Mzm. 101 1Ptr. 2:13-17 Mat. 22:15-21:

Pertama : Pemimpin yang Baik Bukan Hanya Mengatur Orang Lain, tetapi Terlebih Dahulu Mengatur Dirinya Sendiri. Sirakh berkata bahwa “seorang penguasa yang bijaksana membentuk rakyatnya”, sementara “raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya.” Ini menunjukkan bahwa kualitas sebuah masyarakat sangat dipengaruhi oleh kualitas hati orang yang memimpinnya. Tetapi Injil membawa kita lebih dalam. Ketika Yesus berkata, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah,” Yesus seakan mengingatkan bahwa sebelum kita bertanya, “Apa yang harus dilakukan orang lain?”, kita perlu bertanya, “Apa yang menjadi kewajibanku di hadapan Tuhan?” Kepemimpinan bukan pertama-tama soal jabatan, kuasa, atau kemampuan memerintah. Kepemimpinan adalah soal tanggung jawab moral. Orang tua memimpin keluarga, guru memimpin murid, pemimpin memimpin masyarakat, bahkan setiap orang memimpin dirinya sendiri. Karena itu, sebelum mengoreksi dunia, kita dipanggil untuk menata hati sendiri: apakah keputusan saya lahir dari kejujuran atau kepentingan diri? Apakah kata-kata saya membangun atau melukai? Apakah kekuasaan yang dipercayakan kepada saya menjadi berkat atau justru menjadi beban bagi orang lain? Dunia tidak pertama-tama membutuhkan orang yang pandai berkuasa, tetapi orang yang tahu bagaimana menggunakan kuasa dengan hati yang takut akan Allah.



Kedua : Kita Boleh Memberikan Banyak Hal kepada Dunia, tetapi Jangan Pernah Memberikan Apa yang Hanya Milik Allah. Yesus berkata, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Koin boleh memiliki gambar Kaisar, tetapi manusia memiliki gambar Allah. Karena itu, pajak, kewajiban sosial, pekerjaan, tanggung jawab sebagai warga negara—semuanya memang harus kita jalankan. Tetapi ada sesuatu yang tidak boleh kita serahkan kepada siapa pun: hati, hati nurani, dan kesetiaan terdalam kita kepada Allah. Di zaman ketika jabatan, uang, popularitas, dan kekuasaan mudah menjadi “tuhan-tuhan kecil”, Sabda hari ini mengingatkan kita untuk menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Kita boleh bekerja demi karier, tetapi karier bukan Tuhan. Kita boleh mengejar keberhasilan, tetapi keberhasilan bukan Tuhan. Kita boleh menghormati pemimpin dan menaati aturan, tetapi tidak boleh menjadikan manusia sebagai pengganti Allah. Maka pertanyaan penting bagi kita hari ini bukan hanya, “Apa yang harus saya berikan kepada negara?” tetapi juga: “Apa yang sudah saya berikan kepada Allah?” Sebab kita telah menerima begitu banyak dari-Nya—hidup, waktu, talenta, keluarga, kesempatan, dan keselamatan. Dan pada akhirnya, yang Allah minta bukan sekadar sebagian dari milik kita. Allah menghendaki diri kita sendiri. Ketika hati kita sungguh-sungguh menjadi milik Allah, kita justru mampu menjalankan tanggung jawab di dunia dengan lebih jujur, adil, dan bertanggung jawab.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda