Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 01 Nopember 2026. Hari Raya Semua Orang Kudus. Kekudusan Adalah Panggilan Bagi Semua Orang (Wahyu 7:2-4,9-14). 7:2 Dan aku melihat seorang malaikat lain muncul dari tempat matahari terbit. Ia membawa meterai Allah yang hidup dan ia berseru dengan suara nyaring kepada keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut, 7:3 katanya: Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka! 7:4 Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel. 7:9 Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. 7:10 Dan dengan suara nyaring mereka berseru: Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba! 7:11 Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Allah, 7:12 sambil berkata: Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin! 7:13 Dan seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku: Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang? 7:14 Maka kataku kepadanya: Tuanku, tuan mengetahuinya. Lalu ia berkata kepadaku: Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Wahyu 7:2-4.9-14:
Pertama : Kekudusan adalah Panggilan bagi Semua Orang. Santo Yohanes melihat sejumlah besar orang dari segala bangsa, suku, kaum, dan bahasa berdiri di hadapan takhta Allah dengan jubah putih dan daun-daun palma di tangan. Gambaran ini menegaskan bahwa kekudusan terbuka bagi semua orang, tanpa dibatasi oleh asal-usul, status sosial, kekayaan, atau kedudukan. Artinya, menjadi kudus bukan hanya tugas para imam, biarawan-biarawati, atau orang-orang yang terkenal karena kesalehannya. Setiap orang dipanggil untuk menjadi kudus melalui kesetiaan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang petani yang jujur, seorang ibu yang penuh kasih, seorang bapak yang bertanggung jawab, dan siapa pun yang hidup dalam kebaikan dapat menempuh jalan kekudusan. Dengan demikian, kekudusan bukan tentang menjadi orang hebat di mata manusia, melainkan menjadi pribadi yang setia di hadapan Allah.
Kedua : Kekudusan Tidak Lahir dari Hidup yang Bebas dari Penderitaan, tetapi dari Kesetiaan Melewati Penderitaan Bersama Tuhan. Dalam penglihatan Yohanes, orang-orang berjubah putih itu adalah mereka yang keluar dari kesusahan besar dan telah mencuci jubah mereka dalam darah Anak Domba. Gambaran ini menunjukkan bahwa jalan menuju kekudusan tidak selalu mudah. Ada perjuangan, pengorbanan, penderitaan, bahkan kesetiaan yang harus dipertahankan di tengah berbagai cobaan. Hal ini mengajarkan bahwa kesulitan hidup bukan alasan untuk menjauh dari Tuhan atau kehilangan harapan. Sebaliknya, melalui kesabaran, pengampunan, kejujuran, dan ketekunan dalam iman, kita sedang dimurnikan dan dibentuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Kekudusan bukan berarti tidak pernah jatuh atau terluka, melainkan tetap bangkit, bertahan dalam iman, dan tidak berhenti berjalan bersama Tuhan sampai akhir kehidupan.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda