Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 25 Oktober 2026. Ukuran Kesetiaan (Keluaran 22:21-27). 22:21 Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir. 22:22 Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas. 22:23 Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring. 22:24 Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim. 22:25 Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya. 22:26 Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam, 22:27 sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya--pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Keluaran 22:21-27:
Pertama : Ukuran Kesetiaan kepada Allah Terlihat dari Cara Kita Memperlakukan Mereka yang Lemah. Tuhan memerintahkan bangsa Israel agar tidak menindas orang asing, tidak menyusahkan janda dan anak yatim, serta tidak mengambil keuntungan dari kesulitan orang miskin. Perintah ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya memperhatikan ibadah manusia, tetapi juga memperhatikan bagaimana manusia memperlakukan sesamanya. Kita perlu bertanya, “Apakah kehadiran saya membuat orang yang lemah merasa dilindungi, atau justru membuat mereka semakin menderita?” Sebab, orang yang lemah sering kali tidak mempunyai kekuatan untuk membela dirinya, tetapi mereka tidak pernah kehilangan martabatnya di hadapan Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menjadi tanda kasih Allah melalui kepedulian terhadap orang miskin, penghormatan kepada orang kecil, dan kesediaan membela mereka yang diperlakukan tidak adil. Iman yang sejati tidak hanya tampak ketika kita berlutut di hadapan Tuhan, tetapi juga ketika kita bersedia merendahkan diri untuk mengangkat martabat sesama.
Kedua : Jangan Mengubah Penderitaan Sesama Menjadi Kesempatan untuk Mencari Keuntungan. Dalam bacaan ini, Tuhan melarang umat-Nya mengambil bunga pinjaman dari orang miskin dan menegaskan bahwa jubah yang digadaikan harus dikembalikan sebelum matahari terbenam, sebab jubah itu mungkin satu-satunya pelindung tubuhnya pada malam hari. Perintah ini mengungkapkan sesuatu yang mendalam: keadilan tidak cukup hanya dengan memenuhi aturan, tetapi harus disertai kepekaan terhadap kebutuhan dan martabat manusia. Kita perlu bertanya, “Ketika sesama berada dalam kesulitan, apakah saya hadir untuk meringankan bebannya, atau justru memanfaatkan kelemahannya demi keuntungan sendiri?” Sebab, tidak semua hal yang menguntungkan kita dapat dibenarkan secara moral. Dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, kita dipanggil untuk bersikap jujur dalam urusan utang-piutang, adil dalam pembagian hak, dan bijaksana ketika berhadapan dengan orang yang sedang terdesak. Allah menghendaki agar kekuatan yang kita miliki menjadi perlindungan bagi sesama, bukan alat untuk menguasai mereka. Kekudusan bukan hanya soal seberapa banyak yang kita miliki atau berikan, melainkan juga tentang apakah kita tetap memilih berbelas kasih ketika sebenarnya kita mempunyai kesempatan untuk mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda