Menjadi Tempat Kediaman Allah
...

Menjadi Tempat Kediaman Allah

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Selasa, 20 Oktober 2026. Menjadi Tempat Kediaman Allah (Efesus 2:12-22). 2:12 bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. 2:13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu jauh, sudah menjadi dekat oleh darah Kristus. 2:14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, 2:15 sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, 2:16 dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. 2:17 Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang jauh dan damai sejahtera kepada mereka yang dekat, 2:18 karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. 2:19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, 2:20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. 2:21 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. 2:22 Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Efesus 2:12-22:

Pertama : Kristus Meruntuhkan Tembok Pemisah. Paulus menegaskan bahwa melalui wafat-Nya, Kristus mendamaikan manusia dengan Allah dan mempersatukan mereka yang sebelumnya terpisah. Salib bukan hanya tanda pendamaian dengan Allah, tetapi juga panggilan untuk membangun perdamaian di antara manusia. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering membangun tembok melalui prasangka, perbedaan pendapat, suku, status sosial, atau pengalaman luka masa lalu. Karena itu, kita perlu bertanya, “Apakah saya sedang membangun jembatan persaudaraan atau justru memperkuat tembok pemisah dengan sesama?” Sebab, mengikuti Kristus berarti berani melampaui perbedaan tanpa harus menghapus keunikan setiap orang. Perdamaian dimulai ketika kita berhenti melihat sesama sebagai ancaman dan mulai melihatnya sebagai saudara. Dengan demikian, kasih Kristus menjadi kekuatan yang memulihkan hubungan dan menyatukan hati yang terpisah.



Kedua : Menjadi Tempat Kediaman Allah. Paulus menggambarkan umat beriman sebagai bangunan yang didirikan di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia, seluruh bangunan tersusun menjadi tempat kediaman Allah dalam Roh. Gambaran ini mengingatkan kita bahwa Gereja bukan sekadar gedung atau lembaga, melainkan persekutuan orang-orang yang dipanggil untuk menghadirkan Allah melalui hidup mereka. Namun, kita dapat begitu sibuk mempertahankan kegiatan dan struktur Gereja hingga lupa membangun persaudaraan yang menjadi inti kehidupan menggereja. Karena itu, kita perlu bertanya, “Apakah kehadiran saya membuat Gereja semakin menjadi rumah yang menerima dan menguatkan setiap orang?” Sebab, Gereja menjadi tanda kehadiran Allah ketika setiap anggotanya saling menopang dalam kasih. Kristus sebagai batu penjuru mengingatkan kita bahwa kesatuan Gereja harus berpusat pada-Nya, bukan pada kepentingan pribadi atau kelompok. Ketika kita saling menghargai, mengampuni, dan melayani, kita ikut membangun Gereja sebagai rumah rohani tempat kasih Allah dialami oleh semua orang.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda