Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Sabtu, 17 Oktober 2026. Iman Bertumbuh Dalam Kasih (Efesus 1:15-23). 1:15 Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, 1:16 akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku, 1:17 dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. 1:18 Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, 1:19 dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, 1:20 yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, 1:21 jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. 1:22 Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. 1:23 Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Efesus 1:15-23:
Pertama : Iman yang Bertumbuh dalam Kasih. Paulus bersyukur karena mendengar iman jemaat di Efesus kepada Tuhan Yesus dan kasih mereka kepada semua orang kudus. Iman sejati tidak berhenti pada pengakuan bahwa kita percaya kepada Allah, tetapi harus bertumbuh dalam kasih yang nyata kepada sesama. Namun, terkadang kita merasa sudah cukup beriman karena rajin berdoa dan mengikuti kegiatan rohani, padahal kita masih sulit mengampuni, memahami, atau menerima orang lain. Karena itu, kita perlu bertanya, “Apakah iman saya sungguh membuat saya semakin mampu mengasihi sesama?” Sebab, iman yang hidup selalu menghasilkan kasih yang nyata. Semakin dekat kita dengan Allah, semakin terbuka pula hati kita terhadap kebutuhan dan penderitaan orang lain. Dengan demikian, kasih menjadi bukti bahwa iman kita bukan sekadar kata-kata, melainkan sungguh bertumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua : Mengenal Kuasa Allah di Tengah Kelemahan. Paulus berdoa agar jemaat memperoleh hikmat dan wahyu untuk semakin mengenal Allah serta memahami betapa besar kuasa-Nya yang bekerja dalam diri orang beriman. Kuasa ini dinyatakan secara nyata dalam kebangkitan Kristus dari antara orang mati dan penempatan-Nya di atas segala kuasa. Pesan ini mengingatkan kita bahwa kelemahan, kegagalan, dan kesulitan hidup bukanlah akhir dari segalanya, sebab kuasa Allah melampaui apa yang dapat kita lihat dan pahami. Karena itu, kita perlu bertanya, “Apakah saya tetap percaya pada kuasa Allah ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan?” Sebab, iman bukan berarti kita tidak mengalami kesulitan, melainkan percaya bahwa Allah tetap bekerja bahkan ketika jalan keluar belum terlihat. Kristus yang bangkit menjadi sumber pengharapan bahwa kegelapan tidak memiliki kata terakhir. Karena itu, kita dipanggil untuk menghadapi pergumulan dengan keberanian dan pengharapan, sambil percaya bahwa Kristus tetap menyertai dan menuntun hidup kita.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda