Bekerja Melalui Kasih
...

Bekerja Melalui Kasih

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Selasa, 13 Oktober 2026. Bekerja Melalui Kasih (Galatia 4:31b-5:6). 4:31 Karena itu, saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka.5:1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. 5:2 Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. 5:3 Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. 5:4 Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat kamu hidup di luar kasih karunia. 5:5 Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan. 5:6 Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Galatia 4:31b–5:6:

Pertama : Jangan Mengganti Belenggu Lama dengan Belenggu Baru. Paulus mengingatkan jemaat Galatia agar tidak kembali kepada perhambaan setelah Kristus memerdekakan mereka. Saat itu, sebagian orang menganggap bahwa keselamatan harus diperoleh dengan menjalankan hukum Taurat, termasuk sunat. Paulus menegaskan bahwa manusia dibenarkan bukan karena mengandalkan hukum, melainkan karena iman kepada Kristus. Dalam kehidupan beriman, kita pun dapat terjebak dalam pemikiran bahwa semakin banyak kewajiban agama yang kita lakukan, semakin besar pula hak kita untuk merasa diri benar di hadapan Allah. Padahal, doa, pantang, puasa, dan pelayanan seharusnya menjadi ungkapan kasih, bukan alat untuk menuntut berkat atau merasa lebih suci daripada orang lain. Karena itu, kita perlu bertanya: “Apakah praktik keagamaan saya sungguh mendekatkan saya kepada Allah, atau justru membuat saya merasa lebih tinggi daripada sesama?” Sebab, iman yang sejati tidak menjadikan agama sebagai beban untuk membuktikan diri, tetapi sebagai jalan untuk semakin mengenal dan mengasihi Allah.



Kedua : Iman yang Sejati Selalu Bekerja melalui Kasih. Paulus menegaskan bahwa dalam Kristus, yang berarti bukanlah sunat atau tidak bersunat, melainkan iman yang bekerja melalui kasih (Gal. 5:6). Dengan demikian, ukuran kedewasaan iman bukan sekadar pengetahuan tentang ajaran Gereja, banyaknya doa yang diucapkan, atau keterlibatan dalam kegiatan rohani, melainkan sejauh mana iman itu menghasilkan kasih yang nyata. Kita dapat rajin berdoa, tetapi tetap enggan mengampuni aktif melayani, tetapi masih mencari pujian atau berbicara tentang kebenaran, tetapi melukai orang lain dengan perkataan kita. Semua itu mengingatkan bahwa iman tidak boleh berhenti sebagai keyakinan dalam pikiran, melainkan harus menjelma dalam sikap dan tindakan. Karena itu, pertanyaan penting bagi kita ialah: “Apakah orang-orang yang hidup bersama saya sungguh mengalami kasih Kristus melalui kehadiran saya?” Sebab, iman yang hidup bukan hanya membuat kita semakin dekat dengan Allah, tetapi juga membuat orang lain mengalami kebaikan-Nya melalui cara kita mengasihi.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda