Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 11 Oktober 2026. Perjamuan (Yesaya 25:6-10a). 25:6 TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya. 25:7 Dan di atas gunung ini TUHAN akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa. 25:8 Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka dan aib umat-Nya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi, sebab TUHAN telah mengatakannya. 25:9 Pada waktu itu orang akan berkata: Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya! 25:10 Sebab tangan TUHAN akan melindungi gunung ini, tetapi Moab akan diinjak-injak di tempatnya sendiri, sebagai jerami diinjak-injak dalam lobang kotoran.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Yesaya 25:6-10a:
Pertama : Tuhan Tidak Hanya Menjanjikan Keselamatan, tetapi Juga Memulihkan Martabat Manusia. Nabi Yesaya menggambarkan Tuhan yang mengadakan perjamuan bagi segala bangsa, menyediakan hidangan yang istimewa, menghapuskan kain perkabungan yang menyelubungi bangsa-bangsa, dan melenyapkan maut untuk selama-lamanya. Gambaran ini menunjukkan bahwa keselamatan yang dikehendaki Allah bukan sekadar pembebasan manusia dari dosa dan kematian, tetapi juga pemulihan kehidupan yang terluka oleh penderitaan, ketakutan, dan kehilangan. Tuhan bukan Allah yang membiarkan manusia selamanya terkurung dalam air matanya. Ia datang untuk mengembalikan harapan dan martabat manusia yang hancur oleh pengalaman hidup. Karena itu, iman kita kepada Allah yang menyelamatkan harus tampak dalam keberanian kita untuk ikut memulihkan kehidupan sesama. Ketika ada orang yang jatuh karena kemiskinan, kehilangan pekerjaan, kegagalan, atau masa lalu yang kelam, kita tidak boleh menambah bebannya dengan penghinaan dan penghakiman. Sebaliknya, kita dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran Allah yang menguatkan dan memulihkan. Sebab, kita tidak dapat mengaku percaya kepada Allah yang menghapus air mata manusia, sementara kita sendiri menjadi alasan orang lain menangis.
Kedua : Perjamuan Tuhan Mengajarkan Bahwa Keselamatan Bukan Hak Istimewa Segelintir Orang. Nabi Yesaya menegaskan bahwa Tuhan menyediakan perjamuan bagi segala bangsa. Ini merupakan gambaran yang sangat kuat tentang keluasan hati Allah: keselamatan tidak dibatasi oleh batas-batas yang dibuat manusia. Allah tidak hanya memperhatikan mereka yang kuat, berhasil, terhormat, atau merasa dirinya paling layak di hadapan-Nya. Ia membuka harapan bagi semua orang. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering tanpa sadar membentuk lingkaran pergaulan berdasarkan kesamaan status, kekayaan, pendidikan, suku, atau kedekatan pribadi. Kita lebih mudah menerima orang yang menguntungkan kita dan menjauh dari mereka yang dianggap tidak memiliki sesuatu untuk diberikan. Padahal, perjamuan Allah mengundang kita untuk melihat setiap manusia sebagai pribadi yang berharga di hadapan-Nya. Karena itu, pertanyaan penting bagi seorang beriman bukan hanya, “Apakah saya sudah mendapat tempat dalam perjamuan Tuhan?”, tetapi juga, “Apakah cara hidup saya memberi tempat bagi orang lain?” Sebab, orang yang sungguh memahami kemurahan hati Allah tidak akan menggunakan berkat dan kedudukannya untuk membangun tembok pemisah, melainkan untuk membuka ruang bagi sesama. Dengan demikian, hidup kita menjadi tanda bahwa keselamatan Allah sungguh ditujukan bagi semua orang, dan bahwa kasih-Nya jauh lebih luas daripada batas-batas yang sering kita bangun sendiri.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda