Pengalaman Akan Allah: Membawa Kepercayaan
...

Pengalaman Akan Allah: Membawa Kepercayaan

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 08 Oktober 2026. Pengalaman Akan Allah: Membawa Kepercayaan (Galatia 3:1-5). 3:1 Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu? 3:2 Hanya ini yang hendak kuketahui dari pada kamu: Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? 3:3 Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? 3:4 Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia! 3:5 Jadi bagaimana sekarang, apakah Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan yang melakukan mujizat di antara kamu, berbuat demikian karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena kamu percaya kepada pemberitaan Injil?

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Galatia 3:1-5:

Pertama : Jangan Sampai Iman yang Dimulai dengan Rahmat Berakhir dengan Mengandalkan Kekuatan Sendiri. Paulus menegur jemaat Galatia karena mereka telah menerima Roh Kudus melalui iman, tetapi kemudian seolah-olah mengira bahwa keselamatan harus disempurnakan dengan kekuatan manusia. Ini adalah godaan yang sangat halus dalam kehidupan rohani: kita menerima segala sesuatu sebagai rahmat, tetapi setelah itu mulai merasa bahwa hidup kita bergantung terutama pada kemampuan, prestasi, atau kesalehan kita sendiri. Kita berdoa, melayani, berbuat baik, tetapi perlahan-lahan dapat merasa bahwa Tuhan harus berkenan kepada kita karena apa yang kita lakukan. Paulus mengingatkan bahwa hidup Kristiani selalu berawal dan bertumbuh dari rahmat Allah. Karena itu, jangan sampai doa berubah menjadi transaksi dengan Tuhan, dan jangan sampai pelayanan membuat kita merasa lebih berjasa daripada orang lain. Kita dipanggil untuk bekerja sama dengan rahmat, bukan menggantikan rahmat dengan kekuatan diri sendiri.



Kedua : Pengalaman akan Allah Harus Membawa Kita kepada Kepercayaan, Bukan Sekadar Kekaguman. Paulus bertanya kepada jemaat Galatia: apakah mereka menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pewartaan Injil? Pertanyaan ini mengajak mereka mengingat kembali bagaimana perjalanan iman mereka dimulai. Sering kali manusia mudah melupakan karya Tuhan ketika menghadapi kesulitan. Apa yang dahulu diyakini sebagai rahmat mulai dianggap sebagai hasil usaha sendiri. Karena itu, iman membutuhkan ingatan rohani: mengingat kembali bagaimana Tuhan menolong, membuka jalan, mengampuni, dan menguatkan kita. Mengingat karya Allah bukan untuk bernostalgia, tetapi untuk memperbarui kepercayaan. Ketika hari ini kita merasa lemah dan tidak mampu, kita dapat berkata: Allah yang telah memulai karya-Nya dalam hidupku tidak akan meninggalkanku. Aku tidak harus mengendalikan semuanya aku hanya perlu tetap percaya dan setia.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda