Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Selasa, 06 Oktober 2026. Rahmat Allah Mengubah Masa Lalu Menjadi Kesaksian (Galatia 1:13-24). 1:13 Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. 1:14 Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku. 1:15 Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, 1:16 berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia 1:17 juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik. 1:18 Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya. 1:19 Tetapi aku tidak melihat seorangpun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus. 1:20 Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta. 1:21 Kemudian aku pergi ke daerah-daerah Siria dan Kilikia. 1:22 Tetapi rupaku tetap tidak dikenal oleh jemaat-jemaat Kristus di Yudea. 1:23 Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya. 1:24 Dan mereka memuliakan Allah karena aku.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Galatia 1:13-24:
Pertama : Rahmat Allah Mampu Mengubah Masa Lalu Menjadi Kesaksian. Paulus tidak menyembunyikan masa lalunya. Ia pernah dengan keras menganiaya jemaat Allah dan berusaha menghancurkannya. Namun Allah justru memanggil orang yang sama untuk mewartakan Injil. Ini menunjukkan bahwa masa lalu seseorang tidak pernah menjadi batas bagi rahmat Allah. Tuhan tidak hanya melihat siapa kita dahulu Ia melihat siapa yang dapat kita menjadi karena rahmat-Nya. Karena itu, jangan terlalu cepat memberi cap kepada diri sendiri atau kepada orang lain: “Dia memang begitu,” “Dia tidak akan berubah.” Selama Allah masih bekerja, selalu ada kemungkinan pertobatan dan hidup yang baru. Luka, kesalahan, bahkan kegagalan masa lalu dapat menjadi kesaksian tentang betapa besar kasih dan kesabaran Allah.
Kedua : Panggilan Allah Membutuhkan Keberanian untuk Berhenti Hidup bagi Penilaian Manusia. Setelah dipanggil oleh Allah, Paulus tidak langsung mencari persetujuan manusia. Ia pergi menyendiri dan kemudian menjalankan panggilannya. Bahkan orang-orang yang dahulu mengenalnya sebagai penganiaya akhirnya berkata, “Ia yang dahulu menganiaya kita, sekarang memberitakan iman yang pernah hendak dibinasakannya.” Perubahan hidup Paulus menjadi kesaksian yang dapat dilihat orang lain. Ini mengingatkan kita bahwa pertobatan sejati tidak selalu harus dijelaskan dengan banyak kata kehidupan yang berubah dapat berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Ketika Tuhan memanggil kita untuk menjadi lebih baik, jangan terlalu sibuk memikirkan apa kata orang. Yang penting adalah setia kepada rahmat yang telah Tuhan berikan. Pada akhirnya, hidup kita hendaknya membuat orang lain bukan hanya berkata, “Dia sudah berubah,” tetapi juga, “Sungguh, Allah bekerja dalam hidupnya.”
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda