Selamat pagi, seamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 04 Oktober 2026. Kebun Anggur (Yesaya 5:1-7). 5:1 Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur. 5:2 Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam. 5:3 Maka sekarang, hai penduduk Yerusalem, dan orang Yehuda, adililah antara Aku dan kebun anggur-Ku itu. 5:4 Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam? 5:5 Maka sekarang, Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu: Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak 5:6 Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh puteri malu dan rumput Aku akan memerintahkan awan-awan, supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya. 5:7 Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Yesaya 5:1-7:
Pertama : Kasih Allah Tidak Pernah Setengah-Setengah, tetapi Kitalah yang Sering Tidak Berbuah. Nabi Yesaya menggambarkan Tuhan sebagai pemilik kebun anggur yang telah melakukan segala sesuatu bagi kebun-Nya: memilih tanah yang baik, mencangkulnya, membersihkannya, menanam pokok anggur pilihan, mendirikan menara penjagaan, bahkan menyediakan tempat pemerasan anggur. Semua itu menunjukkan betapa besar perhatian dan kasih Allah kepada umat-Nya. Namun ketika menantikan buah, yang ditemukan justru buah yang masam. Di sini kita diajak melihat hidup kita sendiri. Tuhan sebenarnya telah begitu banyak berbuat bagi kita, tetapi apakah hidup kita menghasilkan buah yang sesuai dengan kasih yang telah kita terima? Kadang-kadang kita lebih mudah menghitung apa yang belum Tuhan berikan daripada menyadari begitu banyak yang telah Ia berikan. Pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang sudah Tuhan berikan kepada saya?”, tetapi juga, “Buah apa yang sudah saya hasilkan bagi Tuhan dan sesama?”
Kedua : Buah yang Tuhan Cari Bukan Kesempurnaan, Melainkan Keadilan dan Kebenaran. Pada akhir bacaan, Tuhan berkata bahwa Ia mengharapkan keadilan, tetapi yang dijumpai adalah penindasan Ia mengharapkan kebenaran, tetapi yang terdengar adalah jeritan. Ini menarik: Tuhan tidak pertama-tama menuntut sesuatu yang luar biasa dari umat-Nya. Ia menghendaki agar iman tampak dalam cara kita memperlakukan sesama. Ibadah yang indah, doa yang panjang, dan pengetahuan tentang Tuhan kehilangan maknanya apabila kehidupan kita masih melukai orang lain. Bagi Tuhan, buah iman terlihat dalam kejujuran ketika bekerja, keadilan dalam keluarga, kepedulian terhadap yang lemah, kesediaan mengampuni, dan keberanian memperjuangkan yang benar. Karena itu, pertanyaan penting bagi kita bukan hanya “Seberapa rajin saya berdoa?”, tetapi juga “Apakah orang lain mengalami kebaikan Allah melalui hidup saya?” Kebun yang baik bukan kebun yang hanya tampak indah dari luar, melainkan kebun yang sungguh menghasilkan buah.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda