Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Selasa, 22 September 2026. Tuhan Melihat Hati (Amsal 21:1-6, 10-13). 21:1 Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini. 21:2 Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati. 21:3 Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan TUHAN dari pada korban. 21:4 Mata yang congkak dan hati yang sombong, yang menjadi pelita orang fasik, adalah dosa. 21:5 Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan. 21:6 Memperoleh harta benda dengan lidah dusta adalah kesia-siaan yang lenyap dari orang yang mencari maut. 21:10 Hati orang fasik mengingini kejahatan dan ia tidak menaruh belas kasihan kepada sesamanya. 21:11 Jikalau si pencemooh dihukum, orang yang tak berpengalaman menjadi bijak, dan jikalau orang bijak diberi pengajaran, ia akan beroleh pengetahuan. 21:12 Yang Mahaadil memperhatikan rumah orang fasik, dan menjerumuskan orang fasik ke dalam kecelakaan. 21:13 Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Amsal 21:1-6, 10-13:
Pertama : Tuhan Melihat Hati, Bukan Hanya Keberhasilan Kita. Kitab Amsal mengingatkan bahwa manusia dapat menganggap jalannya benar, tetapi Tuhanlah yang menguji hati. Kita mudah merasa bahwa keberhasilan, rencana, atau keputusan kita pasti benar karena tampak baik di mata sendiri. Namun, Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, melainkan juga ketulusan hati di baliknya. Karena itu, hidup beriman menuntut kerendahan hati untuk terus membiarkan Tuhan memurnikan niat dan mengarahkan langkah kita.
Kedua : Keadilan Dimulai dari Kepekaan terhadap Sesama. Amsal menegaskan bahwa orang bijaksana memperhatikan orang yang lemah, sementara orang fasik tidak peduli terhadap penderitaan sesamanya. Iman tidak cukup hanya tampak dalam kata-kata atau ibadah, tetapi harus nyata dalam cara kita memperlakukan orang lain, terutama mereka yang kecil dan membutuhkan. Hati yang dekat dengan Tuhan akan semakin peka terhadap luka sesama. Sebab, kebaikan yang sungguh-sungguh bukan hanya tentang melakukan hal besar, tetapi tentang tidak menutup mata ketika ada orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda