Rahmat Allah Mengubah Masa Lalu
...

Rahmat Allah Mengubah Masa Lalu

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 17 September 2026. Rahmat Allah Mengubah Masa Lalu (1Korintus 15:1-11). 15:1 Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. 15:2 Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu--kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. 15:3 Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, 15:4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci 15:5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. 15:6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. 15:7 Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. 15:8 Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. 15:9 Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. 15:10 Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. 15:11 Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, 1Korintus 15:1-11:

Pertama : Iman Kristiani Berdiri di Atas Kristus yang Sungguh Bangkit, Bukan Sekadar Kenangan tentang-Nya. Paulus mengingatkan jemaat bahwa Injil yang ia wartakan bukanlah gagasan manusia, melainkan iman yang telah ia terima dan teruskan: bahwa Kristus telah wafat karena dosa-dosa kita, dikuburkan, dan dibangkitkan pada hari ketiga. Kebangkitan menjadi pusat iman Kristiani, sebab tanpa kebangkitan, salib Kristus hanya akan menjadi kisah tentang seorang yang menderita dan mati. Namun karena Kristus bangkit, penderitaan tidak menjadi akhir, kematian bukanlah kata terakhir, dan harapan selalu memiliki dasar. Sering kita mudah percaya kepada Tuhan ketika hidup berjalan sesuai harapan, tetapi iman akan sungguh diuji ketika kita berhadapan dengan kegagalan, kehilangan, dan jalan hidup yang tidak kita mengerti. Di situlah kita dipanggil untuk percaya bahwa Allah tetap bekerja bahkan ketika kita belum melihat hasilnya. Iman kepada Kristus yang bangkit mengajarkan kita untuk tidak berhenti pada Jumat Agung dalam hidup kita, tetapi terus berjalan menuju fajar Paskah.



Kedua : Rahmat Allah Dapat Mengubah Masa Lalu Menjadi Kesaksian bagi Sesama. Paulus dengan rendah hati mengakui bahwa dahulu ia adalah seorang yang menganiaya jemaat Allah, tetapi karena kasih karunia Allah, hidupnya berubah dan ia menjadi pewarta Injil. Ia berkata, “Karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang.” Pengalaman Paulus menunjukkan bahwa masa lalu yang penuh kesalahan tidak harus menjadi akhir dari hidup seseorang ketika ia membuka diri kepada rahmat Allah. Allah tidak hanya mengampuni masa lalu kita, tetapi juga dapat memakai hidup yang telah dipulihkan untuk menjadi berkat bagi orang lain. Karena itu, kita tidak perlu terus-menerus hidup sebagai tawanan kesalahan masa lalu, seolah-olah kita tidak mungkin berubah. Jika rahmat Allah mampu mengubah seorang penganiaya menjadi rasul, rahmat yang sama juga mampu mengubah kelemahan kita menjadi kesempatan untuk bersaksi tentang kasih-Nya.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda