Salib: Menghadirkan Kehidupan
...

Salib: Menghadirkan Kehidupan

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin, 14 September 2026. Pesta Pemuliaan Salib Suci. Salib: Menghadirkan Kehidupan (Bilangan 21:4-9). 21:4 Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan. 21:5 Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak. 21:6 Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati. 21:7 Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami. Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. 21:8 Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup. 21:9 Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.

Renungan : Dua Pokok Permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Bil. 21:4-9:

Pertama : Ketika Jalan Tuhan Terasa Berat, Kita Mudah Mengubah Keluhan Menjadi Penolakan terhadap Berkat. Bangsa Israel menjadi tidak sabar dalam perjalanan dan mulai bersungut-sungut melawan Allah dan Musa. Mereka bahkan menganggap manna yang selama ini menjadi tanda pemeliharaan Allah sebagai sesuatu yang tidak berharga. Di sinilah kita melihat sebuah kelemahan manusia: ketika perjalanan hidup menjadi sulit, kita mudah lupa bahwa sebelumnya Tuhan telah begitu banyak memelihara kita. Kesulitan membuat mata kita hanya tertuju pada apa yang tidak kita miliki, sementara berkat yang sudah kita terima menjadi tidak terlihat. Karena itu, dosa Israel bukan sekadar mengeluh, melainkan kehilangan kepercayaan kepada Allah di tengah perjalanan. Salib Suci mengajak kita memandang kesulitan dengan cara yang berbeda: penderitaan tidak selalu berarti Allah meninggalkan kita. Justru dalam perjalanan yang berat, iman diuji untuk tetap percaya bahwa Allah sedang menuntun kita menuju kehidupan.



Kedua : Allah Tidak Selalu Menghapus Luka, tetapi Memberi Kita Cara untuk Memandangnya dalam Terang Keselamatan. Ketika bangsa Israel digigit ular dan memohon pertolongan, Allah memerintahkan Musa membuat ular tembaga dan meninggikannya. Orang yang memandangnya akan tetap hidup. Menariknya, Allah tidak langsung menghilangkan semua ular dari tengah mereka. Ia memberikan suatu tanda yang harus mereka pandang. Dalam terang Kristus, ular tembaga itu menjadi gambaran Salib: manusia yang terluka oleh dosa dipanggil untuk memandang Kristus yang ditinggikan di kayu salib. Salib bukan tanda bahwa penderitaan itu baik, melainkan tanda bahwa kasih Allah dapat masuk bahkan ke dalam tempat penderitaan dan mengubahnya menjadi jalan keselamatan. Karena itu, pada Pesta Pemuliaan Salib Suci, kita tidak hanya memandang salib sebagai benda devosi, tetapi memandang Dia yang tergantung di sana. Ketika hidup kita terluka, kita pun dipanggil untuk tidak hanya memandang luka kita, melainkan mengangkat mata kepada Kristus dan percaya: dari salib yang tampaknya merupakan kekalahan, Allah sedang menghadirkan kehidupan.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda