Ukuran Pengampunan
...

Ukuran Pengampunan

Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 13 September 2026. Ukuran Pengampunan (Sirahk 27:33-28:9). Sir 28:1 Barangsiapa membalas dendam akan dibalas oleh Tuhan. Tuhan dengan saksama mengindahkan segala dosanya. Sir 28:2 Ampunilah kesalahan kepada sesama orang, niscaya dosa-dosamupun akan dihapus juga, jika engkau berdoa. Sir 28:3 Bagaimana gerangan orang dapat memohon penyembuhan pada Tuhan, jika ia menyimpan amarah kepada sesama manusia? Sir 28:4 Bolehkah ia berdoa karena dosa-dosanya, kalau tidak menaruh belas kasihan terhadap seorang manusia yang sama dengannya? Sir 28:5 Meskipun ia hanya daging belaka, namun ia menaruh dendam kesumat, siapa gerangan akan memulihkan dosa-dosanya? Sir 28:6 Ingatlah akan akhir hidup dan hentikanlah permusuhan, ingatlah akan kebusukan serta maut dan hendaklah setia kepada segala perintah. Sir 28:7 Ingatlah akan perintah-perintah dan jangan mendendami sesama manusia, hendaklah ingat akan perjanjian dari Yang Mahatinggi, lalu ampunilah kesalahannya. Sir 28:8 Jauhilah pertikaian, maka dosa kaukurangkan, sebab orang yang panas hati mengobar-ngobarkan pertikaian. Sir 28:9 Orang yang berdosa mengganggu orang-orang yang bersahabat, dan melontarkan permusuhan di antara orang-orang yang hidup dengan damai.

Renungan : Dua Pokok Permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Sir. 27:33–28:9:

Pertama : Orang yang Memelihara Dendam Sebenarnya Sedang Meminum Racun yang Ia Simpan untuk Orang Lain. Sirakh menggambarkan amarah dan dendam sebagai sesuatu yang menghancurkan manusia dari dalam. Kita sering berpikir bahwa menyimpan sakit hati adalah cara untuk mempertahankan harga diri atau membuat orang yang bersalah “membayar” kesalahannya. Namun, ketika luka terus dipelihara, orang yang paling lama menderita justru sering kali adalah diri kita sendiri. Dendam membuat hati terus terikat pada peristiwa masa lalu dan memberi tempat bagi orang yang melukai kita untuk terus menguasai batin kita. Karena itu, pengampunan bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan itu tidak pernah terjadi atau bahwa kejahatan dapat dibenarkan. Mengampuni berarti menolak membiarkan luka menentukan siapa diri kita. Ketika kita melepaskan dendam, kita bukan sedang membebaskan orang lain dari tanggung jawab, melainkan membebaskan hati kita sendiri dari belenggu kebencian.



Kedua : Ukuran Pengampunan Kita kepada Sesama adalah Kesadaran bahwa Kita Sendiri Hidup dari Pengampunan Allah. Sirakh mengajukan pertanyaan yang sangat tajam: bagaimana mungkin manusia memohon pengampunan kepada Tuhan sementara ia sendiri tidak mau mengampuni sesamanya? Di sini pengampunan bukan sekadar tuntutan moral, melainkan konsekuensi dari pengalaman iman. Kita dapat berdiri di hadapan Allah bukan karena kita tidak pernah bersalah, tetapi karena Allah berkenan mengampuni kita. Maka, setiap kali kita mengalami belas kasih Allah, kita dipanggil untuk meneruskannya kepada orang lain. Pengampunan menjadi nyata ketika kita berani melepaskan hak untuk terus membenci, sebagaimana Allah tidak memperlakukan kita seturut dosa-dosa kita. Karena itu, pertanyaan penting bagi kita bukan hanya, “Siapa yang telah menyakiti saya?”, tetapi juga, “Apakah saya sungguh-sungguh menyadari betapa banyaknya saya telah diampuni oleh Tuhan?” Hati yang sadar telah menerima belas kasih akan perlahan-lahan belajar menjadi hati yang berbelas kasih.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda