Belajar Memiliki Dengan Cara Yang Benar
...

Belajar Memiliki Dengan Cara Yang Benar

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 09 September 2026. Belajar Memiliki Dengan Cara Yang Benar (1Korintus 7:25-31). 7:25 Sekarang tentang para gadis. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah. 7:26 Aku berpendapat, bahwa, mengingat waktu darurat sekarang, adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya. 7:27 Adakah engkau terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mengusahakan perceraian! Adakah engkau tidak terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mencari seorang! 7:28 Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa. Tetapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu. 7:29 Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri 7:30 dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli 7:31 pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.

Renungan : Dua Pokok Permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, 1Kor 7:25-31:

Pertama : Jangan Sampai Dunia yang Sementara Membuat Kita Kehilangan Yang Kekal. Paulus mengingatkan bahwa “waktu telah singkat” dan “dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.” Bukan berarti kita harus meninggalkan keluarga, pekerjaan, atau tanggung jawab duniawi, melainkan menjalani semuanya dengan hati yang tidak melekat secara berlebihan. Kita boleh memiliki harta, menikmati sukacita, mengalami kesedihan, dan bekerja keras, tetapi semuanya itu jangan sampai menjadi pusat hidup kita. Sebab apa yang kita miliki di dunia ini bersifat sementara, sedangkan Allah adalah tujuan yang kekal. Karena itu, iman mengajarkan kita untuk menggunakan segala sesuatu tanpa diperbudak oleh apa pun. Kita hadir sepenuhnya dalam dunia, tetapi hati kita tetap tertuju kepada Allah.



Kedua : Hidup Kristiani Bukan Berarti Memiliki Lebih Sedikit, tetapi Belajar Memiliki dengan Cara yang Benar. Paulus mengatakan bahwa orang yang bersukacita hendaknya hidup seolah-olah tidak bersukacita, yang menangis seolah-olah tidak menangis, dan yang membeli seolah-olah tidak memiliki. Maksudnya bukan menyangkal perasaan atau tanggung jawab kita, tetapi tidak membiarkan keadaan hidup menentukan seluruh identitas dan kebahagiaan kita. Seorang Kristiani tidak boleh menjadi hamba dari keberhasilan maupun kegagalan, dari kekayaan maupun kekurangan, dari kesenangan maupun penderitaan. Semuanya ditempatkan dalam perspektif Kristus. Dengan demikian, kita belajar bersukacita tanpa melekat, menderita tanpa putus asa, memiliki tanpa menjadi sombong, dan kehilangan tanpa kehilangan harapan. Hidup dalam Kristus berarti menerima segala sesuatu sebagai anugerah, tetapi tidak menjadikan satu pun dari ciptaan sebagai pengganti Allah.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda