Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin, 07 September 2026. Jangan Meremehkan Dosa Kecil (1Korintus 5:1-8). 5:1 Memang orang mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya. 5:2 Sekalipun demikian kamu sombong. Tidakkah lebih patut kamu berdukacita dan menjauhkan orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu? 5:3 Sebab aku, sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku--sama seperti aku hadir--telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu. 5:4 Bilamana kita berkumpul dalam roh, kamu bersama-sama dengan aku, dengan kuasa Yesus, Tuhan kita, 5:5 orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan. 5:6 Kemegahanmu tidak baik. Tidak tahukah kamu, bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan? 5:7 Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus. 5:8 Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.
Renungan : Dua Pokok Permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, 1Korintus 5:1-8:
Pertama : Kekudusan Komunitas Tidak Boleh Dikalahkan oleh Sikap “Yang Penting Saya Baik-Baik Saja.” Paulus sangat keras menegur jemaat Korintus karena mereka membiarkan dosa yang nyata terjadi di tengah komunitas. Yang menarik, masalahnya bukan hanya dosa orang tersebut, tetapi juga sikap komunitas yang justru membiarkannya. Paulus berkata bahwa mereka malah “menyombongkan diri.” Ini mengingatkan kita bahwa iman Katolik bukan hanya soal hubungan pribadi saya dengan Tuhan. Kita adalah anggota Tubuh Kristus karena itu, apa yang terjadi dalam kehidupan satu anggota dapat melukai seluruh komunitas. Kadang-kadang kita berpikir, “Itu dosanya, bukan dosa saya.” Tetapi ketika kita mengetahui sesuatu yang sungguh merusak kehidupan bersama dan memilih membiarkannya demi kenyamanan, kita sebenarnya ikut berkontribusi pada rusaknya komunitas. Gereja membutuhkan orang-orang yang bukan hanya saleh secara pribadi, tetapi juga mempunyai keberanian untuk menjaga kekudusan bersama. Kasih kepada Gereja bukan hanya bangga menjadi bagian darinya, tetapi juga berani menjaga agar dosa tidak dianggap sebagai sesuatu yang normal.
Kedua : “Sedikit Ragi Mengkhamirkan Seluruh Adonan”: Dosa yang Dibiarkan Akan Perlahan-Lahan Menjadi Budaya. Paulus menggunakan gambaran yang sangat kuat: “Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan.” Ragi yang sedikit tidak kelihatan besar, tetapi ia bekerja dari dalam dan akhirnya memengaruhi seluruh adonan. Demikian pula dosa. Pada awalnya mungkin kita berkata, “Hanya sekali,” “Tidak terlalu serius,” atau “Semua orang juga melakukannya.” Namun dosa yang terus ditoleransi akhirnya bukan lagi sekadar tindakan pribadi ia dapat menjadi kebiasaan, lalu pembenaran, dan akhirnya budaya. Karena itu Paulus mengajak jemaat untuk membuang “ragi yang lama” dan hidup sebagai “adonan baru.” Dalam kehidupan rohani, pertobatan bukan sekadar berhenti melakukan dosa tertentu, tetapi membiarkan Kristus membersihkan cara berpikir, kebiasaan, dan pola hidup yang lama. Menariknya, Paulus menghubungkan semuanya dengan Kristus sebagai Anak Domba Paskah yang telah dikorbankan. Artinya, kita tidak membersihkan diri agar layak menerima Kristus justru karena Kristus telah menyerahkan diri bagi kita, kita dipanggil untuk hidup sebagai manusia baru. Jangan meremehkan dosa kecil yang terus dipelihara, sebab sesuatu yang kecil tetapi dibiarkan dapat menguasai seluruh hidup.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda