Penjaga: Hati Yang Peduli
...

Penjaga: Hati Yang Peduli

Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 06 September 2026. Penjaga: Hati Yang Peduli (Yehezkiel 33:7-9). 33:7 Dan engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku. 33:8 Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! --dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. 33:9 Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu.

Renungan : Dua Pokok Permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Yehezkiel 33:7-9:

Pertama : Menjadi “Penjaga” Berarti Berani Peduli. Tuhan berkata kepada Yehezkiel, “Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel.” Seorang penjaga tidak hanya berdiri di tempat tinggi dan melihat apa yang terjadi. Ia mempunyai tanggung jawab untuk memperingatkan ketika melihat bahaya. Demikian pula dalam kehidupan iman, Tuhan tidak menempatkan kita hanya sebagai penonton kehidupan sesama. Kita dipanggil untuk peduli terhadap keselamatan, iman, dan kehidupan saudara-saudari kita. Persoalannya, sering kita lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada merasa bertanggung jawab terhadap mereka. Kita bisa berkata, “Itu urusannya dia,” atau “Saya tidak mau ikut campur.” Padahal, ketika kita melihat saudara kita berjalan menuju sesuatu yang membahayakan dirinya, kasih menuntut kita untuk tidak diam. Menjadi penjaga bukan berarti menjadi polisi bagi orang lain, apalagi mencari-cari kesalahan. Menjadi penjaga berarti mempunyai hati yang cukup peduli untuk berkata: “Saudaraku, hati-hati, jalan ini bisa mencelakakanmu.”



Kedua : Diam di Hadapan Kesalahan Sesama Bukan Selalu Tanda Kasih Kadang-Kadang Diam Justru Berarti Membiarkan Saudara Terjerumus. Tuhan memberikan tugas kepada Yehezkiel untuk memperingatkan orang jahat supaya berbalik dari jalannya. Ini menunjukkan bahwa kasih tidak selalu berarti diam dan membiarkan. Ada saatnya kasih justru harus berbicara. Kita sering takut menegur karena khawatir hubungan menjadi rusak. Kita berkata, “Biarlah, nanti juga dia sadar sendiri.” Atau kita memilih diam karena merasa, “Saya juga bukan orang sempurna.” Memang benar, kita bukan orang sempurna. Tetapi justru karena kita sama-sama manusia yang lemah, kita membutuhkan satu sama lain untuk saling mengingatkan. Yang menjadi persoalan bukan apakah kita menegur, tetapi bagaimana kita menegur. Teguran yang lahir dari kesombongan akan melukai teguran yang lahir dari kasih dapat menyelamatkan. Penjaga yang baik tidak berteriak untuk mempermalukan orang yang sedang berada dalam bahaya. Ia memperingatkan supaya orang itu selamat. Karena itu, dalam keluarga, lingkungan, dan komunitas kita, kita perlu belajar menegur tanpa merendahkan, mengingatkan tanpa menghakimi, dan berbicara tanpa menyebarkan aib. Sebab kadang-kadang satu kalimat yang disampaikan dengan kasih dapat menjadi jalan keselamatan bagi seseorang.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda