Dipanggil untuk Mewartakan Kebenaran
...

Dipanggil untuk Mewartakan Kebenaran

Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 30 Agustus 2026. Dipanggil untuk Mewartakan Kebenaran (Yeremia 20:7-9). 20:7 Engkau telah membujuk aku, ya TUHAN, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menundukkan aku. Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semuanya mereka mengolok-olokkan aku. 20:8 Sebab setiap kali aku berbicara, terpaksa aku berteriak, terpaksa berseru: Kelaliman! Aniaya! Sebab firman TUHAN telah menjadi cela dan cemooh bagiku, sepanjang hari. 20:9 Tetapi apabila aku berpikir: Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan pertama hari ini, Yeremia 20:7-9:

Pertama : Dipanggil untuk Mewartakan Kebenaran, Bahkan Ketika Hati Ingin Menyerah. Yeremia mengungkapkan pergulatan yang sangat manusiawi: “Engkau telah membujuk aku, ya Tuhan, dan aku membiarkan diriku dibujuk.” Ia mengalami ejekan, penderitaan, dan penolakan karena menyampaikan firman Allah. Sampai pada titik tertentu ia ingin berhenti: “Aku tidak mau mengingat Dia lagi dan tidak mau mengucapkan firman lagi.” Namun firman Allah ternyata “seperti api yang menyala-nyala” di dalam hatinya. Ia tidak mampu memadamkannya. Di sini kita melihat bahwa panggilan Tuhan tidak selalu membuat hidup menjadi mudah kadang-kadang justru membawa kita masuk ke dalam pergulatan. Tetapi ketika seseorang sungguh-sungguh dipanggil Allah, firman itu menjadi kekuatan dari dalam yang membuatnya tetap bertahan. Dalam hidup kita pun ada saat ketika berbuat baik, mempertahankan iman, mengampuni, atau mengatakan kebenaran terasa melelahkan. Yeremia mengajarkan: boleh merasa lelah, boleh menangis, tetapi jangan membiarkan kelelahan membuat kita meninggalkan panggilan Tuhan.



Kedua : Dipanggil untuk Mewartakan Kebenaran, Bahkan Ketika Hati Ingin Menyerah. Yeremia mengungkapkan pergulatan yang sangat manusiawi: “Engkau telah membujuk aku, ya Tuhan, dan aku membiarkan diriku dibujuk.” Ia mengalami ejekan, penderitaan, dan penolakan karena menyampaikan firman Allah. Sampai pada titik tertentu ia ingin berhenti: “Aku tidak mau mengingat Dia lagi dan tidak mau mengucapkan firman lagi.” Namun firman Allah ternyata “seperti api yang menyala-nyala” di dalam hatinya. Ia tidak mampu memadamkannya. Di sini kita melihat bahwa panggilan Tuhan tidak selalu membuat hidup menjadi mudah kadang-kadang justru membawa kita masuk ke dalam pergulatan. Tetapi ketika seseorang sungguh-sungguh dipanggil Allah, firman itu menjadi kekuatan dari dalam yang membuatnya tetap bertahan. Dalam hidup kita pun ada saat ketika berbuat baik, mempertahankan iman, mengampuni, atau mengatakan kebenaran terasa melelahkan. Yeremia mengajarkan: boleh merasa lelah, boleh menangis, tetapi jangan membiarkan kelelahan membuat kita meninggalkan panggilan Tuhan.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda