Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 26 Agustus 2026. Iman Tampak Dalam Tanggung Jawab dan Kerja Keras (2 Tesalonika 3:6-10.16-18). 3:6 Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami. 3:7 Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, 3:8 dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu. 3:9 Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti. 3:10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. 3:16 Dan Ia, Tuhan damai sejahtera, kiranya mengaruniakan damai sejahtera-Nya terus-menerus, dalam segala hal, kepada kamu. Tuhan menyertai kamu sekalian. 3:17 Salam dari padaku, Paulus. Salam ini kutulis dengan tanganku sendiri. Inilah tanda dalam setiap surat: beginilah tulisanku. 3:18 Kasih karunia Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai kamu sekalian!
Renungan : Dua pokok permenungan dari bacaan kedua hari ini, 2Tesalonika 3:6-10.16-18:
Pertama : Iman Harus Tampak dalam Tanggung Jawab dan Kerja Nyata. Paulus menegur dengan tegas orang-orang yang hidup tidak tertib dan tidak mau bekerja, padahal mereka dapat melakukannya. Bahkan Paulus memberi teladan dengan bekerja keras agar tidak menjadi beban bagi jemaat. Pesannya jelas: iman kepada Kristus tidak membenarkan sikap malas, bergantung pada orang lain, atau menghindari tanggung jawab. Kerja bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga bentuk tanggung jawab terhadap kehidupan dan sesama. Karena itu, setiap orang beriman dipanggil untuk mengerjakan tugasnya dengan setia, entah pekerjaan itu besar atau sederhana. Kekudusan tidak hanya ditemukan dalam doa dan ibadah, tetapi juga dalam kesetiaan menjalankan tanggung jawab sehari-hari.
Kedua : Tuhan Memberikan Damai di Tengah Ketertiban Hidup. Setelah memberikan nasihat yang cukup keras, Paulus menutup suratnya dengan doa: “Semoga Tuhan damai sejahtera mengaruniakan damai sejahtera-Nya kepada kamu terus-menerus dalam segala hal.” Ini menunjukkan bahwa teguran dan disiplin dalam hidup kristiani bukan bertujuan untuk menghukum, melainkan untuk membawa orang kembali kepada kehidupan yang benar. Damai Kristus bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi hati yang tetap tertuju kepada Tuhan ketika menjalani tanggung jawab dan menghadapi kesulitan. Karena itu, kita dipanggil untuk membangun kehidupan yang tertib, bertanggung jawab, dan saling menghormati, sambil tetap mengandalkan Tuhan. Ketika hidup kita semakin selaras dengan kehendak Tuhan, damai-Nya dapat semakin nyata dalam diri kita dan melalui kita bagi orang lain.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda