Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 06 Agustus 2026. Kemuliaan Tuhan (Daniel 7:9-10.13-14). 7:9 Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar 7:10 suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-kitab. 7:13 Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. 7:14 Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.
Renungan : Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, Daniel 7:9-10,13-14, dalam terang Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya:
Pertama : Kemuliaan Kristus yang Dinampakkan di Gunung Tabor Adalah Penyingkapan Identitas-Nya yang Sudah Diwahyukan Sejak Penglihatan Daniel. Dalam penglihatannya, Daniel melihat Yang Lanjut Usianya duduk di atas takhta dengan kemuliaan yang tak terlukiskan, lalu datang seorang seperti Anak Manusia yang menerima kekuasaan, kemuliaan, dan kerajaan yang kekal. Gambaran ini bukan sekadar nubuat tentang masa depan, tetapi penyingkapan bahwa Allah sendiri telah menetapkan Anak Manusia sebagai Raja yang memerintah untuk selama-lamanya. Pada Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya, Gereja melihat penglihatan Daniel itu mulai terwujud dalam diri Yesus. Di atas Gunung Tabor, para murid menyaksikan sejenak kemuliaan ilahi yang selama ini tersembunyi di balik kemanusiaan-Nya. Wajah-Nya bercahaya dan pakaian-Nya berkilau bukan karena menerima kemuliaan baru, melainkan karena kemuliaan yang telah menjadi milik-Nya sejak kekal diperlihatkan kepada mereka. Hal ini sangat penting bagi perjalanan iman para murid, sebab setelah gunung kemuliaan itu mereka harus menghadapi gunung Kalvari. Dengan demikian, Yesus menunjukkan bahwa salib bukanlah kegagalan Mesias, melainkan jalan menuju kemuliaan yang telah dinubuatkan Daniel. Dalam kehidupan kita pun, Allah kadang hanya memperlihatkan secercah kemuliaan-Nya agar kita memiliki kekuatan untuk tetap setia ketika harus melewati jalan salib. Iman yang matang tidak hanya bertahan ketika mengalami penghiburan rohani, tetapi juga ketika kemuliaan Allah tampak tersembunyi di balik penderitaan dan kesunyian.
Kedua : Penglihatan Daniel Menegaskan Bahwa Kemuliaan Sejati Selalu Mengarah pada Pemerintahan Kasih dan Pelayanan, Bukan Sekadar Kekuasaan. Daniel melihat bahwa Anak Manusia menerima kuasa atas segala bangsa, suku, dan bahasa, dan kerajaan-Nya tidak akan lenyap. Menariknya, Yesus tidak mewujudkan kerajaan itu dengan kekuatan politik, paksaan, atau dominasi, melainkan melalui kasih yang rela berkorban. Karena itu, ketika Yesus menampakkan kemuliaan-Nya di Tabor, Ia tidak sedang memamerkan keagungan ilahi untuk mengesankan para murid, tetapi mempersiapkan mereka untuk memahami bahwa Raja yang mulia adalah juga Hamba yang akan menyerahkan diri di salib. Kemuliaan Allah ternyata berbeda dari ukuran dunia. Dunia menghubungkan kemuliaan dengan prestise, kemenangan, dan kekuasaan, sedangkan Kristus memperlihatkan bahwa kemuliaan mencapai puncaknya ketika kasih diberikan secara total. Bagi kita, pesta ini menjadi undangan untuk memandang hidup dengan perspektif ilahi. Kemuliaan seorang murid Kristus bukan pertama-tama terletak pada keberhasilan, jabatan, atau pengakuan manusia, melainkan pada kesediaan membiarkan hidup dikuasai oleh Kristus Sang Anak Manusia, sehingga melalui kesetiaan, kerendahan hati, dan kasih yang diwujudkan setiap hari, kerajaan-Nya semakin nyata di tengah dunia. Dengan demikian, cahaya Tabor tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat, tetapi menjadi terang yang membimbing setiap orang beriman untuk menghadirkan kemuliaan Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda