Kasih Allah Menjadi Dasar Harapan
...

Kasih Allah Menjadi Dasar Harapan

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 05 Agustus 2026. Kasih Allah Menjadi Dasar Harapan (Yeremia 31:1-7). 31:1 Pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, Aku akan menjadi Allah segala kaum keluarga Israel dan mereka akan menjadi umat-Ku. 31:2 Beginilah firman TUHAN: Ia mendapat kasih karunia di padang gurun, yaitu bangsa yang terluput dari pedang itu! Israel berjalan mencari istirahat bagi dirinya! 31:3 Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu. 31:4 Aku akan membangun engkau kembali, sehingga engkau dibangun, hai anak dara Israel! Engkau akan menghiasi dirimu kembali dengan rebana dan akan tampil dalam tari-tarian orang yang bersukaria. 31:5 Engkau akan membuat kebun anggur kembali di gunung-gunung Samaria ya, orang-orang yang membuatnya akan memetik hasilnya pula. 31:6 Sungguh, akan datang harinya bahwa para penjaga akan berseru di gunung Efraim: Ayo, marilah kita naik ke Sion, kepada TUHAN, Allah kita! 31:7 Sebab beginilah firman TUHAN: Bersorak-sorailah bagi Yakub dengan sukacita, bersukarialah tentang pemimpin bangsa-bangsa! Kabarkanlah, pujilah dan katakanlah: TUHAN telah menyelamatkan umat-Nya, yakni sisa-sisa Israel!

Renungan : Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, Yeremia 31:1-7:

Pertama : Kasih Allah Mendahului Pertobatan Manusia dan Menjadi Dasar Harapan yang Tidak Pernah Lenyap. Dalam bacaan ini, Allah menyatakan, Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu. Pernyataan ini sangat mendalam karena diucapkan kepada umat yang sebelumnya mengalami pembuangan akibat ketidaksetiaan mereka sendiri. Allah tidak mengasihi mereka karena mereka telah menjadi sempurna, melainkan karena kasih-Nya sendiri bersifat kekal dan tidak berubah. Kasih Allah tidak bergantung pada naik turunnya kesetiaan manusia, tetapi berakar pada kesetiaan-Nya sendiri terhadap perjanjian yang telah Ia ikat dengan umat-Nya. Justru kasih itulah yang membangkitkan harapan dan mendorong manusia untuk kembali kepada-Nya. Dalam kehidupan rohani, sering kali kita merasa tidak layak datang kepada Tuhan karena dosa, kegagalan, atau kelemahan yang terus berulang. Bacaan ini mengingatkan bahwa langkah pertama menuju pertobatan bukanlah usaha manusia untuk menjadi sempurna, melainkan keberanian untuk percaya bahwa Allah tetap mengasihi. Kasih yang kekal itu menjadi kekuatan yang mengangkat manusia dari keputusasaan dan membuka jalan menuju hidup yang baru.



Kedua : Pemulihan Allah Selalu Menghasilkan Sukacita yang Dibagikan, Bukan Dinikmati Sendiri. Nabi Yeremia melukiskan pemulihan Israel dengan gambaran yang penuh kegembiraan: perawan akan kembali menari, umat akan menanam kebun anggur dan menikmati hasilnya, dan seruan pujian akan bergema di Gunung Efraim, mengajak semua orang naik ke Sion untuk berjumpa dengan Tuhan. Sukacita yang diberikan Allah tidak berhenti pada pengalaman pribadi, tetapi mengalir menjadi kesaksian yang mengundang orang lain untuk ikut memuliakan-Nya. Pemulihan sejati selalu memiliki dimensi komunal Allah membangun kembali bukan hanya individu, tetapi seluruh umat-Nya. Dalam kehidupan kita, berkat Tuhan kadang dipahami sebagai sesuatu yang bersifat pribadi: keberhasilan, kesehatan, atau kedamaian batin. Namun, bacaan ini menunjukkan bahwa rahmat Allah seharusnya melahirkan semangat untuk menguatkan sesama, membangun persekutuan, dan mengajak orang lain semakin dekat kepada Tuhan. Sukacita yang berasal dari Allah tidak pernah bersifat eksklusif semakin dibagikan, semakin nyata kehadiran-Nya di tengah umat.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda