Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 30 Juli 2026. Tanah Liat: Bersedia Dibentuk (Yeremia 18:1-6). 18:1 Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, bunyinya: 18:2 Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataan-Ku kepadamu. 18:3 Lalu pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan. 18:4 Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. 18:5 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, bunyinya: 18:6 Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!
Renungan : Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, Yeremia 18:1-6:
Pertama : Allah Tidak Pernah Berhenti Membentuk Manusia, Bahkan Melalui Kegagalan. Di rumah tukang periuk, Yeremia melihat bejana yang sedang dibuat menjadi rusak di tangan pembuatnya. Namun, tukang periuk itu tidak membuang tanah liat tersebut, melainkan membentuknya kembali menjadi bejana lain yang dianggap baik olehnya. Gambaran ini menyingkapkan cara Allah bekerja dalam hidup manusia. Kegagalan, dosa, maupun keterpurukan bukanlah akhir dari rencana Allah, sebab di tangan-Nya tidak ada hidup yang sia-sia. Selama seseorang bersedia tetap berada di tangan Sang Pembentuk, Allah mampu mengubah kehancuran menjadi kesempatan baru. Rahmat-Nya selalu lebih besar daripada kegagalan manusia.
Kedua : Menjadi Tanah Liat Berarti Bersedia Dibentuk, Bukan Memaksa Allah Mengikuti Kehendak Kita. Allah menegaskan kepada Israel, Bukankah Aku dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini? Firman ini mengundang setiap orang beriman untuk memiliki kerendahan hati sebagai tanah liat yang lentur di tangan Penciptanya. Sering kali manusia ingin Allah mewujudkan rencananya sendiri, padahal iman sejati justru bertumbuh ketika kita membiarkan Allah membentuk karakter, cara berpikir, dan arah hidup sesuai kehendak-Nya. Tanah liat yang keras sulit dibentuk, tetapi tanah liat yang lembut menghasilkan bejana yang indah. Demikian pula, hati yang terbuka terhadap teguran, pertobatan, dan bimbingan Tuhan akan semakin serupa dengan rancangan-Nya yang membawa kehidupan.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda