Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 29 Juli 2026. Kasih: Bukti Allah Tinggal Di Dalam Kita (1Yohanes 47-16). 4:7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah i dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. 4:8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. 4:9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. 4:10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. 4:11 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. 4:12 Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita. 4:13 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. 4:14 Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. 4:15 Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. 4:16 Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
Renungan : Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, 1 Yohanes 4:7-16:
Pertama : Kasih Bukan Sekadar Perintah Moral, Melainkan Bukti Bahwa Allah Tinggal di Dalam Diri Kita. Rasul Yohanes tidak hanya mengajak umat untuk saling mengasihi sebagai sebuah kewajiban etis, tetapi mengungkapkan bahwa kasih merupakan tanda nyata kehadiran Allah dalam hidup seseorang. Barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dengan demikian, ukuran kedewasaan iman bukan pertama-tama terletak pada banyaknya pengetahuan tentang Allah atau kesalehan yang tampak dari luar, melainkan pada kemampuan menghadirkan kasih Allah dalam relasi sehari-hari. Ketika seseorang mampu mengampuni, menerima, dan mengasihi tanpa pamrih, di situlah Allah sedang berkarya melalui dirinya. Kasih menjadi sakramen kehadiran Allah yang dapat dialami oleh sesama.
Kedua : Allah Mengasihi Lebih Dahulu, Maka Hidup Kristiani Selalu Berawal dari Rahmat, Bukan Prestasi. Yohanes menegaskan, Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita. Pernyataan ini membalik cara pandang manusia yang sering mengira bahwa kasih Allah harus diperoleh melalui usaha dan jasa pribadi. Sebaliknya, seluruh kehidupan iman bertumpu pada inisiatif kasih Allah yang lebih dahulu mencari, mengampuni, dan menyelamatkan manusia melalui Putra-Nya. Karena telah lebih dahulu dikasihi, orang beriman dipanggil untuk meneruskan kasih itu kepada sesama, bukan demi mendapatkan kasih Allah, tetapi sebagai buah dari kasih yang telah diterimanya. Semakin seseorang menyadari bahwa dirinya hidup karena rahmat, semakin ia akan mampu mengasihi tanpa menghitung untung rugi, sebab ia tahu bahwa hidupnya sendiri adalah anugerah kasih yang tak pernah layak diperoleh dengan kekuatan manusia.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda