Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 28 Juni 2026. Kasih Dimulai Dari Kepekaan (2 Raja-Raja 4:5-11,14-16). 4:8 Pada suatu hari Elisa pergi ke Sunem. Di sana tinggal seorang perempuan kaya yang mengundang dia makan. Dan seberapa kali ia dalam perjalanan, singgahlah ia ke sana untuk makan. 4:9 Berkatalah perempuan itu kepada suaminya: Sesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang kudus. 4:10 Baiklah kita membuat sebuah kamar atas yang kecil yang berdinding batu, dan baiklah kita menaruh di sana baginya sebuah tempat tidur, sebuah meja, sebuah kursi dan sebuah kandil, maka apabila ia datang kepada kita, ia boleh masuk ke sana. 4:11 Pada suatu hari datanglah ia ke sana, lalu masuklah ia ke kamar atas itu dan tidur di situ. 4:14 Kemudian berkatalah Elisa: Apakah yang dapat kuperbuat baginya? Jawab Gehazi: Ah, ia tidak mempunyai anak, dan suaminya sudah tua. 4:15 Lalu berkatalah Elisa: Panggillah dia! Dan sesudah dipanggilnya, berdirilah perempuan itu di pintu. 4:16 Berkatalah Elisa: Pada waktu i seperti ini juga, tahun depan, engkau ini akan menggendong seorang anak laki-laki. Tetapi jawab perempuan itu: Janganlah tuanku, ya abdi Allah, janganlah berdusta kepada hambamu ini!
Renungan : Dua pokok permenungan dari bacaan pertama: 2Raj. 4:8-11,14-16a:
Pertama : Kebaikan yang Tulus Selalu Melihat Lebih Jauh daripada Kebutuhan yang Tampak. Perempuan Sunem tidak hanya memberi Elisa makanan setiap kali ia lewat. Ia memperhatikan bahwa sang nabi membutuhkan tempat untuk beristirahat. Ia mengajak suaminya membangun sebuah kamar kecil baginya. Kebaikan sejati lahir bukan karena diminta, melainkan karena hati yang peka melihat kebutuhan orang lain. Ia tidak memberi dari kelimpahan, tetapi dari perhatian. Di sinilah letak keindahan kasih: bukan sekadar memberikan sesuatu, melainkan menghadirkan ruang agar orang lain dapat mengalami kelegaan dan damai. Dalam hidup sehari-hari, kita sering berpikir bahwa berbuat baik harus dimulai dengan hal-hal besar. Padahal, yang lebih dibutuhkan adalah hati yang mau memperhatikan. Kasih selalu dimulai dari kepekaan, sebab mata yang dipenuhi kasih akan melihat apa yang luput dari perhatian banyak orang.
Kedua : Berkat Tuhan Sering Datang kepada Mereka yang Tidak Mencarinya demi Kepentingan Diri. Ketika Elisa ingin membalas kebaikan perempuan Sunem, ia tidak meminta apa pun. Ia merasa cukup dengan hidup yang dimilikinya. Justru dalam sikap yang tidak menuntut itulah Tuhan menghadiahkan sesuatu yang selama ini tampaknya mustahil: seorang anak. Bacaan ini mengajarkan bahwa Tuhan sering berkarya secara mengejutkan ketika hati manusia tidak lagi dikuasai oleh perhitungan atau pamrih. Orang yang berbuat baik hanya demi memperoleh balasan mudah kecewa ketika harapannya tidak terpenuhi. Sebaliknya, mereka yang memberi dengan tulus sering menerima berkat yang bahkan tidak pernah mereka bayangkan. Tuhan tidak pernah berutang kepada orang yang murah hati Ia membalasnya dengan cara dan waktu yang sering melampaui harapan manusia.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda