Iman Yang Dewasa
...

Iman Yang Dewasa

Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 21 Juni 2026. Iman Yang Dewasa (Yeremia 20:10-13). 20:10 Aku telah mendengar bisikan banyak orang: Kegentaran datang dari segala jurusan! Adukanlah dia! Kita mau mengadukan dia! Semua orang sahabat karibku mengintai apakah aku tersandung jatuh: Barangkali ia membiarkan dirinya dibujuk, sehingga kita dapat mengalahkan dia dan dapat melakukan pembalasan kita terhadap dia! 20:11 Tetapi TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka akan menjadi malu sekali, sebab mereka tidak berhasil, suatu noda yang selama-lamanya tidak terlupakan! 20:12 Ya TUHAN semesta alam, yang menguji orang benar, yang melihat batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku. 20:13 Menyanyilah untuk TUHAN, pujilah TUHAN! Sebab ia telah melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orang-orang yang berbuat jahat.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Yeremia 20:10-13:

Pertama : Kesetiaan kepada Panggilan Allah Tidak Selalu Membawa Kenyamanan, tetapi Selalu Menghadirkan Penyertaan-Nya. Dalam bagian ini, Yeremia mengungkapkan pergumulan batinnya yang sangat manusiawi. Ia mendengar bisik-bisik orang yang ingin menjatuhkannya, melihat orang-orang yang dahulu dekat dengannya menantikan kejatuhannya, bahkan berharap ia tergelincir agar dapat disingkirkan. Sebagai nabi, Yeremia tidak menikmati popularitas atau penghormatan. Justru karena setia menyampaikan firman Tuhan, ia mengalami penolakan, ancaman, dan kesepian. Namun di tengah tekanan itu, ia tetap mampu berkata bahwa Tuhan menyertainya seperti pahlawan yang gagah. Keyakinan ini menjadi sumber kekuatannya untuk tetap bertahan. Bacaan ini mengingatkan bahwa mengikuti kehendak Allah tidak selalu berarti menjalani hidup yang mudah. Kadang-kadang kesetiaan kepada kebenaran justru mengundang kesalahpahaman, kritik, bahkan penolakan. Ada saat-saat ketika seseorang harus memilih antara kenyamanan dan kesetiaan kepada suara hati yang dibimbing oleh Tuhan. Dalam situasi seperti itu, Allah tidak selalu menghilangkan kesulitan yang dihadapi, tetapi Ia menjanjikan kehadiran-Nya. Penyertaan Tuhan tidak membuat perjuangan menjadi tidak ada, tetapi memberi kekuatan agar perjuangan itu dapat dijalani dengan harapan. Karena itu, ketika menghadapi tantangan karena berusaha hidup benar, kita dipanggil untuk mengingat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka yang setia kepada-Nya.



Kedua : Iman yang Dewasa Mampu Memuji Tuhan Bahkan di Tengah Pergumulan yang Belum Selesai. Hal yang menarik dalam doa Yeremia adalah perubahan nadanya. Ia memulai dengan keluhan dan pengungkapan rasa takut, tetapi kemudian berakhir dengan pujian: Bernyanyilah bagi Tuhan, pujilah Tuhan! Padahal situasi yang mengancam dirinya belum berubah. Musuh-musuhnya masih ada, dan penderitaannya belum berakhir. Namun Yeremia memilih untuk memandang melampaui keadaan yang tampak dan menaruh kepercayaannya pada Allah yang membela orang miskin dan tertindas. Pujian yang lahir dari hati Yeremia bukanlah hasil dari keadaan yang nyaman, melainkan buah dari iman yang percaya bahwa Tuhan tetap bekerja bahkan ketika hasilnya belum terlihat. Sering manusia baru dapat bersyukur ketika masalah selesai atau doa sudah terjawab sesuai harapannya. Namun bacaan ini menunjukkan bentuk iman yang lebih mendalam: kemampuan untuk tetap memuji Tuhan di tengah proses yang belum selesai. Pujian seperti ini bukan tanda mengabaikan kenyataan pahit, melainkan ungkapan kepercayaan bahwa Allah lebih besar daripada persoalan yang sedang dihadapi. Ketika seseorang tetap berdoa, bersyukur, dan berharap di tengah kesulitan, ia sedang menyerahkan kendali hidupnya kepada Tuhan. Dari sanalah lahir ketenangan batin yang tidak bergantung pada perubahan situasi, tetapi pada keyakinan bahwa Allah setia dan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda