Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 18 Juni 2026. Sabdanya Menyala Seperti Obor (Sirakh 48:1-14) 48:1 Lalu tampillah nabi Elia bagaikan api, yang perkataannya laksana obor membakar. 48:2 Kelaparan didatangkan-Nya atas mereka, dan jumlah mereka dijadikannya sedikit berkat semangatnya. 48:3 Atas firman Tuhan langit dikunci olehnya, dan api diturunkannya sampai tiga kali. 48:4 Betapa mulialah engkau, hai Elia, dengan segala mujizatmu, dan siapa boleh bermegah-megah bahwa sama dengan dikau? 48:5 Orang mati kaubangkitkan dari alam arwah, dan dari dunia orang mati dengan firman Yang Mahatinggi. 48:6 Raja-raja kauturunkan sampai jatnh binasa, dan orang-orang tersohor kaujatuhkan dari tempat tidurnya. 48:7 Teguran kaudengar di gunung Sinai, dan di gunung Horeb keputusan untuk balas dendam. 48:8 Engkau mengurapi raja-raja untuk menimpakan balasan, dan nabi-nabi kauurapi menjadi penggantimu. 48:9 Dalam olak angin berapi engkau diangkat, dalannkereta dengan kuda-kuda berapi. 48:10 Engkau tercantum dalam ancaman-ancaman tentang masa depan untuk meredakan kemurkaan sebelum meletus, dan mengembalikan hati bapa kepada anaknya serta memulihkan segala suku Yakub. 48:11 Berbahagialah orang yang telah melihat dikau, dan yang meninggal dengan kasih mereka, sebab kamipun pasti akan hidup pula. 48:12 Elia ditutupi dengan olak angin, tetapi Elisa dipenuhi dengan rohnya. Selama hidup ia tidak gentar terhadap seorang penguasa, dan tidak seorangpun menaklukkannya. 48:13 Tidak ada sesuatupun yang terlalu ajaib baginya, dan bahkan dikuburnyapun jenazahnya masih bernubuat. 48:14 Sepanjang hidupnya ia membuat mujizat, dan malah ketika meninggal pekerjaannya menakjubkan.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Sirakh 48:1-14:
Pertama : Allah Membangkitkan Orang-Orang yang Berani Menjadi Suara-Nya di Tengah Zaman yang Menyimpang. Kitab Sirakh mengenang Nabi Elia sebagai sosok yang tampil bagaikan api dan sabdanya menyala seperti obor. Gambaran ini menunjukkan bahwa kehadiran Elia bukan sekadar seorang tokoh religius, melainkan seorang nabi yang membawa terang Allah ke dalam situasi yang gelap. Pada zamannya, bangsa Israel mengalami kemerosotan iman, penyembahan berhala, dan penyalahgunaan kekuasaan. Namun Elia tidak memilih diam demi keamanan dirinya. Ia berani menyampaikan kebenaran meskipun harus menghadapi penolakan, ancaman, dan kesepian. Hidupnya menjadi bukti bahwa seorang yang sungguh dekat dengan Allah dapat menjadi alat yang mengubah arah sejarah. Bacaan ini mengingatkan bahwa setiap zaman membutuhkan Elia-Elia baru. Dunia saat ini juga dipenuhi berbagai bentuk kegelapan: ketidakjujuran yang dianggap biasa, egoisme yang dibungkus sebagai kebebasan, dan kebenaran yang sering dikaburkan demi kepentingan tertentu. Dalam situasi seperti itu, Allah memanggil umat-Nya untuk menjadi terang, bukan dengan sikap keras atau menghakimi, melainkan dengan keberanian hidup sesuai Injil. Menjadi saksi Kristus sering berarti berani berbeda dari arus yang dominan. Kesetiaan kepada kebenaran memang tidak selalu membuat seseorang populer, tetapi justru melalui kesaksian seperti itulah Allah terus bekerja membarui dunia.
Kedua : Karya Allah Tidak Berhenti pada Satu Pribadi, Melainkan Diteruskan Melalui Generasi yang Berikutnya. Selain memuji Elia, Sirakh juga mengingat bagaimana Elisa menerima roh Elia dan melanjutkan perutusannya. Setelah Elia diangkat ke surga, karya Allah tidak berakhir. Roh yang bekerja dalam diri Elia tetap berkarya melalui Elisa. Bahkan disebutkan bahwa selama hidupnya Elisa melakukan tanda-tanda yang mengagumkan, dan sesudah wafat pun namanya tetap dikenang karena kuasa Allah yang menyertainya. Pesan yang ingin ditonjolkan adalah bahwa Allah lebih besar daripada para pelayan-Nya. Ia memakai manusia, tetapi karya keselamatan-Nya tidak pernah bergantung pada satu orang saja. Hal ini menjadi penghiburan sekaligus tantangan bagi kehidupan rohani kita. Sering kita terlalu mengagumi tokoh tertentu sehingga seolah-olah segala sesuatu akan berhenti tanpa dirinya. Namun bacaan ini menunjukkan bahwa Allah selalu menyiapkan penerus dan membuka jalan bagi generasi berikutnya. Karena itu, tugas setiap orang beriman bukan hanya berkarya dengan baik, tetapi juga menanamkan iman, nilai, dan semangat pelayanan kepada orang lain. Keberhasilan sejati bukan hanya diukur dari apa yang kita capai selama hidup, melainkan juga dari apakah kebaikan yang kita lakukan dapat terus hidup setelah kita tiada. Orang yang sungguh hidup bagi Allah tidak hanya menghasilkan buah bagi zamannya sendiri, tetapi juga menumbuhkan benih-benih yang akan berbuah pada masa yang akan datang.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda