Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin, 15 Juni 2026. Keinginan Yang Tak Terkendalikan (1Raja-Raja 21:1-16). 21:1 Sesudah itu terjadilah hal yang berikut. Nabot, orang Yizreel, mempunyai kebun anggur di Yizreel, di samping istana Ahab, raja Samaria. 21:2 Berkatalah Ahab kepada Nabot: Berikanlah kepadaku kebun anggurmu itu, supaya kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat rumahku. Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur yang lebih baik dari pada itu sebagai gantinya, atau jikalau engkau lebih suka, aku akan membayar harganya kepadamu dengan uang. 21:3 Jawab Nabot kepada Ahab: Kiranya TUHAN menghindarkan aku dari pada memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu! 21:4 Lalu masuklah Ahab ke dalam istananya dengan kesal hati dan gusar karena perkataan yang dikatakan Nabot, orang Yizreel itu, kepadanya: Tidak akan kuberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku. Maka berbaringlah ia di tempat tidurnya dan menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan. 21:5 Lalu datanglah Izebel, isterinya, dan berkata kepadanya: Apa sebabnya hatimu kesal, sehingga engkau tidak makan? 21:6 Lalu jawabnya kepadanya: Sebab aku telah berkata kepada Nabot, orang Yizreel itu: Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kebun anggur kepadamu sebagai gantinya. Tetapi sahutnya: Tidak akan kuberikan kepadamu kebun anggurku itu. 21:7 Kata Izebel, isterinya, kepadanya: Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan biarlah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu. 21:8 Kemudian ia menulis surat atas nama Ahab, memeteraikannya dengan meterai raja, lalu mengirim surat itu kepada tua-tua dan pemuka-pemuka yang diam sekota dengan Nabot. 21:9 Dalam surat itu ditulisnya demikian: Maklumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat. 21:10 Suruh jugalah dua orang dursila duduk menghadapinya, dan mereka harus naik saksi terhadap dia, dengan mengatakan: Engkau telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu bawalah dia ke luar dan lemparilah dia dengan batu sampai mati. 21:11 Orang-orang sekotanya, yakni tua-tua dan pemuka-pemuka, yang diam di kotanya itu, melakukan seperti yang diperintahkan Izebel kepada mereka, seperti yang tertulis dalam surat yang dikirimkannya kepada mereka. 21:12 Mereka memaklumkan puasa dan menyuruh Nabot duduk paling depan di antara rakyat. 21:13 Kemudian datanglah dua orang, yakni orang-orang dursila itu, lalu duduk menghadapi Nabot. Orang-orang dursila itu naik saksi terhadap Nabot di depan rakyat, katanya: Nabot telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu mereka membawa dia ke luar kota, lalu melempari dia dengan batu sampai mati. 21:14 Setelah itu mereka menyuruh orang kepada Izebel mengatakan: Nabot sudah dilempari sampai mati. 21:15 Segera sesudah Izebel mendengar, bahwa Nabot sudah dilempari sampai mati, berkatalah Izebel kepada Ahab: Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, menjadi milikmu, karena Nabot yang menolak memberikannya kepadamu dengan bayaran uang, sudah tidak hidup lagi ia sudah mati. 21:16 Segera sesudah Ahab mendengar, bahwa Nabot sudah mati, ia bangun dan pergi ke kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, 1 Raja-Raja 21:1-16:
Pertama : Ketika Hasrat Memiliki Mengalahkan Rasa Cukup, Hati Manusia Menjadi Buta terhadap Keadilan. Dalam kisah ini, Raja Ahab menginginkan kebun anggur milik Nabot yang terletak dekat istananya. Secara lahiriah, keinginan itu tampak wajar. Ahab bahkan menawarkan tanah pengganti atau harga yang lebih baik. Namun masalahnya bukan terletak pada transaksi itu sendiri, melainkan pada sikap hati yang tidak mampu menerima penolakan. Nabot menolak karena tanah itu merupakan warisan leluhur yang menurut hukum Israel tidak boleh dipindahtangankan begitu saja. Bagi Nabot, tanah tersebut bukan sekadar aset ekonomi, melainkan bagian dari identitas, sejarah keluarga, dan kesetiaannya kepada kehendak Allah. Ahab sebenarnya sudah memiliki kekuasaan, kekayaan, dan banyak tanah, tetapi ia tetap merasa kurang karena tidak memperoleh satu hal yang diinginkannya. Akibatnya, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kekecewaan dan kemurungan. Bacaan ini menyingkapkan salah satu godaan terdalam dalam hati manusia: keinginan yang tidak terkendali. Sering kita tidak kehilangan sukacita karena kekurangan yang nyata, tetapi karena kita terlalu fokus pada apa yang tidak kita miliki. Kita menjadi sulit bersyukur atas berkat yang melimpah karena perhatian kita hanya tertuju pada satu hal yang belum dapat diraih. Dalam keadaan seperti itu, orang dapat mulai membenarkan berbagai cara demi memperoleh apa yang diinginkannya. Keserakahan jarang muncul sebagai kejahatan besar sejak awal ia sering bermula dari ketidakmampuan untuk menerima batas, penolakan, atau kenyataan bahwa tidak semua hal dapat dimiliki. Bacaan ini mengajak kita memeriksa hati: apakah kita masih mampu bersyukur atas apa yang telah Tuhan percayakan, ataukah hidup kita dikuasai oleh keinginan yang terus menuntut lebih banyak lagi? Kebebasan rohani lahir ketika kita belajar berkata, “Apa yang Tuhan berikan sudah cukup untuk hari ini,” dan tidak membiarkan hasrat memiliki menguasai seluruh hidup kita.
Kedua : Kejahatan Menjadi Semakin Besar Ketika Orang Baik Memakai Kekuasaan untuk Membungkam Kebenaran. Tokoh yang paling aktif dalam kisah ini adalah Izebel. Melihat Ahab kecewa, ia segera menggunakan kekuasaan kerajaan untuk merekayasa kebohongan. Surat-surat palsu dibuat atas nama raja, saksi-saksi dusta disiapkan, dan Nabot dihukum mati atas tuduhan yang tidak pernah dilakukannya. Yang mengerikan adalah bahwa semua itu dilakukan dengan memanfaatkan lembaga-lembaga yang seharusnya melayani kebenaran. Puasa diumumkan, sidang diadakan, para tua-tua dilibatkan, tetapi semuanya hanya menjadi topeng untuk menutupi ketidakadilan. Kejahatan di sini bukan sekadar tindakan individu, melainkan penyalahgunaan struktur dan wewenang demi kepentingan pribadi. Bacaan ini tetap sangat relevan bagi kehidupan zaman sekarang. Tidak semua orang memiliki kekuasaan politik seperti Ahab dan Izebel, tetapi setiap orang memiliki bentuk pengaruh tertentu: dalam keluarga, komunitas, tempat kerja, maupun pelayanan Gereja. Godaan selalu ada untuk menggunakan posisi, relasi, atau kewenangan demi keuntungan diri sendiri. Ketika kekuasaan tidak lagi dipandang sebagai sarana melayani, melainkan alat untuk memenuhi ambisi pribadi, maka orang lain mudah menjadi korban. Sebaliknya, Allah menghendaki agar setiap bentuk otoritas dipakai untuk melindungi yang lemah, membela yang benar, dan menegakkan keadilan. Nabot tampak kalah dalam kisah ini, tetapi sebenarnya ia menjadi saksi bahwa kesetiaan kepada Allah lebih berharga daripada keamanan atau keuntungan duniawi. Melalui peristiwa ini, Kitab Suci mengingatkan bahwa Allah melihat setiap ketidakadilan yang tersembunyi dan tidak pernah tinggal diam terhadap penyalahgunaan kekuasaan. Karena itu, setiap orang beriman dipanggil untuk menjadi pribadi yang menggunakan pengaruhnya bukan untuk menguasai, melainkan untuk melayani bukan untuk membungkam kebenaran, melainkan untuk membela dan memperjuangkannya.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda