Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sri Ftiman hari ini, Minggu 14 Juni 2026. Keluaran 19:2-6 9:2 maka engkau harus mengkhususkan tiga kota di dalam negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk diduduki. 19:3 Engkau harus menetapkan jauhnya jalan, dan membagi dalam tiga bagian wilayah negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, untuk dimiliki olehmu, supaya setiap pembunuh dapat melarikan diri ke sana. 19:4 Inilah ketentuan mengenai pembunuh yang melarikan diri ke sana dan boleh tinggal hidup: apabila ia membunuh sesamanya manusia dengan tidak sengaja dan dengan tidak membenci dia sebelumnya, 19:5 misalnya apabila seseorang pergi ke hutan dengan temannya untuk membelah kayu, ketika tangannya mengayunkan kapak untuk menebang pohon kayu, mata kapak terlucut dari gagangnya, lalu mengenai temannya sehingga mati, maka ia boleh melarikan diri ke salah satu kota itu dan tinggal hidup. 19:6 Maksudnya supaya jangan penuntut tebusan darah sementara hatinya panas dapat mengejar pembunuh itu, karena jauhnya perjalanan, menangkapnya dan membunuhnya, padahal pembunuh itu tidak patut mendapat hukuman mati, karena ia tidak membenci dia sebelumnya.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Keluaran 19:2-6:
Pertama : Identitas Umat Allah Lahir dari Pengalaman Diselamatkan. Dalam bacaan ini, Tuhan mengingatkan bangsa Israel akan apa yang telah Ia lakukan bagi mereka: “Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku.” Sebelum Allah memberikan hukum-hukum-Nya, sebelum Israel diminta untuk taat, terlebih dahulu Allah mengingatkan karya penyelamatan-Nya. Ini menunjukkan bahwa hubungan antara Allah dan umat-Nya selalu berawal dari kasih karunia, bukan dari usaha manusia. Israel menjadi umat pilihan bukan karena mereka bangsa terbesar atau paling saleh, melainkan karena Allah lebih dahulu mengasihi dan membebaskan mereka. Gambaran “sayap rajawali” melukiskan kelembutan dan kekuatan perlindungan Allah yang membimbing umat-Nya melewati bahaya menuju kebebasan. Sering dalam kehidupan rohani, kita terjebak dalam anggapan bahwa nilai diri kita di hadapan Tuhan ditentukan oleh keberhasilan, kesalehan, atau pencapaian tertentu. Ketika berhasil kita merasa layak dicintai, tetapi ketika gagal kita merasa jauh dari Tuhan. Bacaan ini mengingatkan bahwa dasar identitas kita sebagai anak-anak Allah bukanlah prestasi, melainkan kasih Allah yang lebih dahulu mencari dan menyelamatkan kita. Sama seperti Israel yang dibawa keluar dari perbudakan sebelum diminta untuk hidup sebagai umat kudus, demikian pula kita terlebih dahulu menerima rahmat Allah sebelum dipanggil untuk hidup seturut kehendak-Nya. Kesadaran ini menumbuhkan kerendahan hati sekaligus rasa syukur yang mendalam. Ketaatan kepada Tuhan bukanlah usaha untuk memperoleh kasih-Nya, melainkan jawaban penuh cinta atas kasih yang telah lebih dahulu kita terima.
Kedua : Panggilan Menjadi Umat Kudus Berarti Menjadi Tanda Kehadiran Allah bagi Dunia. Setelah mengingatkan karya penyelamatan-Nya, Tuhan menyatakan tujuan panggilan Israel: “Kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa ... kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus.” Pilihan Allah atas Israel bukanlah hak istimewa yang membuat mereka merasa lebih tinggi daripada bangsa lain. Sebaliknya, pilihan itu adalah sebuah perutusan. Sebagai “kerajaan imam”, Israel dipanggil menjadi jembatan yang menghadirkan Allah kepada dunia dan membawa dunia semakin dekat kepada Allah. Kekudusan yang diminta Tuhan bukan sekadar soal menjalankan ritual keagamaan, melainkan hidup sedemikian rupa sehingga melalui mereka orang lain dapat melihat kebaikan, keadilan, dan kasih Allah. Panggilan yang sama juga berlaku bagi Gereja dan setiap orang beriman saat ini. Menjadi umat pilihan bukan berarti menikmati kenyamanan rohani bagi diri sendiri, tetapi menjadi saksi yang memancarkan terang Kristus di tengah dunia. Di keluarga, tempat kerja, lingkungan sosial, dan masyarakat, kita dipanggil menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah melalui kejujuran, pengampunan, kepedulian, dan kesetiaan. Dunia tidak pertama-tama mengenal Allah melalui khotbah yang panjang, tetapi melalui kehidupan orang-orang yang mencerminkan wajah-Nya. Ketika kita menjadi pembawa damai di tengah konflik, tetap jujur di tengah budaya kompromi, dan tetap mengasihi di tengah kebencian, saat itulah panggilan sebagai “bangsa yang kudus” menjadi nyata. Kekudusan bukanlah menjauh dari dunia, melainkan hidup di tengah dunia dengan cara yang menunjukkan bahwa Allah sungguh hadir dan berkarya melalui umat-Nya.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda