Kasih Tuhan Adalah Anugerah
...

Kasih Tuhan Adalah Anugerah

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Jumat, 12 Juni 2026. Kasih Tuhan Adalah Anugerah (Ulangan 7:6-11). 7:6 Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya. 7:7 Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu--bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? -- 7:8 tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir. 7:9 Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan, 7:10 tetapi terhadap diri setiap orang dari mereka yang membenci Dia, Ia melakukan pembalasan dengan membinasakan orang itu. Ia tidak bertangguh terhadap orang yang membenci Dia. Ia langsung mengadakan pembalasan terhadap orang itu. 7:11 Jadi berpeganglah pada perintah, yakni ketetapan dan peraturan yang kusampaikan kepadamu pada hari ini untuk dilakukan.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Ul. 7:6-11:

Pertama : Kasih Tuhan Adalah Anugerah. Musa mengingatkan bangsa Israel bahwa mereka dipilih menjadi umat kesayangan Tuhan bukan karena mereka bangsa yang terbesar atau terkuat. Justru Israel adalah bangsa yang kecil dibandingkan bangsa-bangsa lain. Pemilihan itu terjadi semata-mata karena kasih Tuhan dan kesetiaan-Nya terhadap janji yang telah diikrarkan kepada para leluhur mereka. Dengan demikian, identitas sebagai umat pilihan bukanlah alasan untuk menyombongkan diri, melainkan alasan untuk bersyukur. Pesan ini sangat penting bagi kehidupan rohani. Manusia sering tergoda mengukur nilai dirinya berdasarkan prestasi, kemampuan, kedudukan, atau keberhasilannya. Akibatnya, relasi dengan Tuhan pun kadang dipandang sebagai hasil dari jasa dan usaha pribadi. Bacaan ini mengingatkan bahwa dasar relasi kita dengan Tuhan adalah kasih karunia. Sebelum kita melakukan sesuatu bagi Tuhan, Tuhan terlebih dahulu mengasihi dan memilih kita. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati sekaligus rasa syukur yang mendalam. Kita tidak hidup sebagai orang yang harus terus-menerus membuktikan diri agar dicintai Tuhan, tetapi sebagai anak-anak yang telah lebih dahulu dicintai dan dipanggil untuk menanggapi kasih itu.



Kedua : Kasih Tuhan Menuntut Jawaban Berupa Kesetiaan Hidup. Setelah menegaskan kasih dan kesetiaan-Nya, Tuhan juga mengajak Israel untuk memegang perintah-perintah-Nya. Kasih Tuhan bukanlah alasan untuk hidup sesuka hati, melainkan panggilan untuk hidup dalam perjanjian dengan-Nya. Tuhan tetap setia dari generasi ke generasi kepada mereka yang mengasihi-Nya dan berpegang pada perintah-perintah-Nya. Dengan kata lain, kasih Allah selalu mengundang tanggapan yang nyata dalam kehidupan. Dalam dunia yang sering memisahkan antara iman dan tindakan, bacaan ini mengingatkan bahwa cinta kepada Tuhan harus tampak dalam pilihan-pilihan hidup sehari-hari. Kesetiaan kepada Tuhan tidak diukur terutama dari kata-kata atau perasaan religius, tetapi dari kesediaan untuk hidup menurut kehendak-Nya. Menaati perintah Tuhan memang tidak selalu mudah, terutama ketika nilai-nilai Injil bertentangan dengan arus zaman. Namun justru melalui kesetiaan itulah kasih kita kepada Tuhan menjadi nyata. Semakin seseorang menyadari betapa besar kasih yang telah diterimanya, semakin ia terdorong untuk hidup seturut kehendak Tuhan sebagai ungkapan syukur dan cintanya kepada-Nya.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda