Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Sabtu, 8 Mei 2026. Tuntunan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 16:1-10). 16:1 Paulus datang juga ke Derbe dan ke Listra. Di situ ada seorang murid bernama Timotius ibunya adalah seorang Yahudi dan telah menjadi percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani. 16:2 Timotius ini dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan di Ikonium, 16:3 dan Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan. Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, sebab setiap orang tahu bahwa bapanya adalah orang Yunani.16:4 Dalam perjalanan keliling dari kota ke kota Paulus dan Silas menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil para rasul dan para penatua di Yerusalem dengan pesan, supaya jemaat-jemaat menurutinya. 16:5 Demikianlah jemaat-jemaat diteguhkan dalam iman dan makin lama makin bertambah besar jumlahnya. 16:6 Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. 16:7 Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka. 16:8 Setelah melintasi Misia, mereka sampai di Troas. 16:9 Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami! 16:10 Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 16:1–10:
Pertama : Kebebasan dalam Kristus Tidak Meniadakan Kebijaksanaan Pastoral. Paulus baru saja memperjuangkan bahwa keselamatan tidak tergantung pada hukum sunat. Namun dalam perikop ini, ia justru menyunat Timotius. Sekilas tampak bertentangan. Tetapi di sinilah letak kedalaman iman Paulus: ia tidak bertindak berdasarkan ego atau prinsip kaku, melainkan demi kebaikan pewartaan Injil. Sunat bukan lagi syarat keselamatan, tetapi menjadi langkah bijaksana agar pewartaan dapat diterima oleh orang-orang Yahudi di tempat itu. Ini menunjukkan bahwa hidup beriman tidak selalu hitam-putih. Ada saat kita perlu tegas dalam prinsip, tetapi ada juga saat kita perlu lentur dalam cara, demi kasih dan keselamatan orang lain. Perikop ini mengajak kita untuk belajar membedakan: mana yang prinsip iman yang tidak bisa ditawar, dan mana yang cara atau kebiasaan yang bisa disesuaikan. Tanpa kebijaksanaan ini, kita bisa menjadi keras dan justru menutup pintu bagi orang lain untuk mengenal Tuhan.
Kedua : Peka terhadap Tuntunan Roh Kudus di Tengah Rencana Manusia. Paulus dan rekan-rekannya memiliki rencana perjalanan yang jelas. Mereka ingin pergi ke daerah tertentu, tetapi Roh Kudus mencegah mereka. Mereka mencoba lagi ke tempat lain, tetapi tidak diizinkan. Hingga akhirnya, melalui penglihatan di malam hari, Paulus mendapat arah baru: pergi ke Makedonia. Ini menunjukkan bahwa dalam hidup iman, tidak semua rencana kita akan berjalan sesuai keinginan. Bahkan rencana yang baik pun bisa “ditutup jalannya” oleh Tuhan. Bukan karena salah, tetapi karena Tuhan punya rencana yang lebih besar. Perikop ini mengajak kita untuk peka dan rendah hati. Ketika jalan terasa tertutup, jangan langsung kecewa atau marah. Mungkin Tuhan sedang mengarahkan kita ke jalan lain yang lebih tepat. Iman bukan hanya soal membuat rencana, tetapi juga kesiapsediaan untuk diubah arah oleh Tuhan. Dan sering kali, di situlah kita menemukan panggilan yang sesungguhnya.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda