Ketegangan dalam Iman
...

Ketegangan dalam Iman

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 6 Mei 2026. Ketegangan dalam Iman (Kisah Para Rasul 15:1-6). 15:1 Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan. 15:2 Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu. 15:3 Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di tempat-tempat itu mereka menceriterakan tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara di situ. 15:4 Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka. 15:5 Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa. 15:6 Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 15:1–6:

Pertama : Ketegangan dalam Iman sebagai Jalan Menuju Kebenaran yang Lebih Dalam. Perikop ini memperlihatkan sebuah perdebatan serius dalam Gereja perdana: apakah orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan mengikuti hukum Musa untuk diselamatkan? Ini bukan persoalan kecil, tetapi menyangkut inti iman: keselamatan itu berasal dari mana? Dari hukum atau dari rahmat Allah dalam Kristus? Yang menarik, para rasul dan jemaat tidak menghindari perdebatan ini. Paulus dan Barnabas berdebat dengan tegas, lalu persoalan itu dibawa ke Yerusalem untuk didiskusikan bersama para rasul dan penatua. Ini menunjukkan bahwa dalam hidup menggereja, perbedaan pandangan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru melalui dialog yang jujur dan pencarian bersama, Gereja semakin memahami kehendak Tuhan. Perikop ini mengajak kita untuk tidak cepat menghakimi ketika ada perbedaan dalam komunitas. Yang penting bukan siapa yang paling benar menurut diri sendiri, tetapi bagaimana bersama-sama mencari kebenaran dalam terang Roh Kudus.



Kedua : Iman adalah Anugerah yang Membebaskan. Di balik perdebatan ini, tersembunyi satu pertanyaan besar: apakah mengikuti Tuhan berarti menambah beban aturan, atau justru mengalami kebebasan? Ada kelompok yang ingin menambahkan syarat-syarat hukum lama sebagai jalan keselamatan. Namun perjalanan Gereja kemudian menegaskan bahwa keselamatan adalah anugerah, bukan hasil usaha manusia semata. Perikop ini menjadi titik awal kesadaran bahwa iman Kristen bukan sekadar ketaatan pada aturan lahiriah, tetapi relasi hidup dengan Kristus yang menyelamatkan. Dalam hidup sehari-hari, kita juga bisa jatuh pada sikap yang sama: mengukur iman dari banyaknya aturan yang kita jalankan, tetapi kehilangan sukacita dan kebebasan sebagai anak-anak Allah. Sabda hari ini mengajak kita untuk memurnikan iman kita: bukan hidup dalam ketakutan akan aturan, tetapi dalam kepercayaan akan kasih Tuhan yang membebaskan. Dari situlah ketaatan yang sejati lahir—bukan karena terpaksa, tetapi karena cinta.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda