Iman yang Setia
...

Iman yang Setia

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin, 4 Mei 2026. Iman yang Setia (Kisah Para Rasul 14:5-18). 14:5 Maka mulailah orang-orang yang tidak mengenal Allah dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka menimbulkan suatu gerakan untuk menyiksa dan melempari kedua rasul itu dengan batu. 14:6 Setelah rasul-rasul itu mengetahuinya, menyingkirlah mereka ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. 14:7 Di situ mereka memberitakan Injil. 14:8 Di Listra ada seorang yang duduk saja, karena lemah kakinya dan lumpuh sejak ia dilahirkan dan belum pernah dapat berjalan. 14:9 Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus berbicara. Dan Paulus menatap dia dan melihat, bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. 14:10 Lalu kata Paulus dengan suara nyaring: Berdirilah tegak di atas kakimu! Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari. 14:11 Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berseru dalam bahasa Likaonia: Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia. 14:12 Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena ia yang berbicara. 14:13 Maka datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan korban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu. 14:14 Mendengar itu Barnabas dan Paulus mengoyakkan pakaian mereka, lalu terjun ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru: 14:15 Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. 14:16 Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, 14:17 namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan. 14:18 Walaupun rasul-rasul itu berkata demikian, namun hampir-hampir tidak dapat mereka mencegah orang banyak mempersembahkan korban kepada mereka.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 14:5–18:

Pertama : Iman yang Setia. Paulus dan Barnabas datang untuk mewartakan Injil, membawa kabar keselamatan. Namun tanggapan orang-orang tidak selalu baik. Ada yang mendengarkan, tetapi ada juga yang menolak bahkan hendak melempari mereka dengan batu. Ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu langsung diterima, bahkan bisa ditolak dengan keras. Namun yang menarik, mereka tidak berhenti. Mereka tidak menjadi pahit atau menyerah, tetapi melanjutkan pewartaan ke tempat lain. Mereka sadar bahwa tugas mereka adalah setia, bukan memastikan semua orang menerima. Perikop ini mengajak kita untuk melihat kembali hidup iman kita. Sering kita ingin dihargai, ingin diterima ketika berbuat baik atau hidup benar. Tetapi ketika niat baik kita disalahpahami, ketika kejujuran justru membuat kita tidak disukai, kita menjadi lemah. Bacaan hari ini mengingatkan: kesetiaan kepada Tuhan tidak diukur dari penerimaan orang, tetapi dari ketekunan kita untuk tetap berjalan di jalan-Nya. Iman yang dewasa adalah iman yang tetap hidup, bahkan ketika tidak disambut.



Kedua : Godaan Mengganti Allah dengan Hal yang Terlihat. Ketika Paulus menyembuhkan seorang lumpuh, orang banyak justru salah mengerti. Mereka mengira Paulus dan Barnabas adalah dewa-dewa yang turun ke dunia, lalu hendak mempersembahkan korban kepada mereka. Ini menunjukkan kecenderungan manusia: lebih mudah percaya pada sesuatu yang bisa dilihat dan disentuh, daripada Allah yang tak kelihatan. Mukjizat yang seharusnya menjadi tanda yang menunjuk kepada Tuhan, malah berhenti pada manusia. Namun Paulus dan Barnabas dengan tegas menolak penghormatan itu. Mereka mengarahkan kembali perhatian orang kepada Allah yang hidup, yang menciptakan langit dan bumi, yang memberi hujan dan musim. Perikop ini menyadarkan kita bahwa dalam hidup sehari-hari pun kita bisa jatuh pada sikap yang sama. Kita bisa lebih mengandalkan manusia, jabatan, uang, atau kekuatan sendiri, dan perlahan melupakan Tuhan sebagai sumber segalanya. Bahkan dalam kehidupan rohani, kita bisa lebih melekat pada “tanda-tanda lahiriah” daripada Tuhan sendiri. Sabda hari ini mengajak kita untuk kembali memurnikan iman: melihat segala berkat sebagai tanda yang mengarah kepada Allah, bukan berhenti pada ciptaan. Sebab hanya Allah yang layak menjadi pusat hidup kita.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda