Konflik sebagai Kesempatan Pemurnian Pelayanan
...

Konflik sebagai Kesempatan Pemurnian Pelayanan

Selamat pagi, selamt hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 3 Mei 2026. Konflik sebagai Kesempatan Pemurnian Pelayanan (Kisah Para Rasul 6:1-7). 6:1 Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari. 6:2 Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. 6:3 Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, 6:4 dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman. 6:5 Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. 6:6 Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka. 6:7 Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 6:1–7:

Pertama : Konflik sebagai Kesempatan Pemurnian Pelayanan. Ketika jumlah murid makin bertambah, justru muncul sungut-sungut: kelompok Yahudi berbahasa Yunani merasa diabaikan dalam pelayanan kepada para janda. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan Gereja perdana tidak bebas dari ketegangan sosial dan kultural. Ada perbedaan latar belakang, bahasa, dan mungkin juga rasa keadilan yang terganggu. Namun yang menarik, para rasul tidak mengabaikan konflik ini, juga tidak menutupinya demi menjaga “citra rohani”. Mereka justru menghadapinya secara terbuka dan bijaksana. Masalah tidak dipandang sebagai ancaman yang harus disingkirkan, tetapi sebagai realitas yang harus diolah. Dari sini lahirlah langkah konkret: pembagian tugas yang lebih jelas demi keadilan dan pelayanan yang lebih baik. Perikop ini mengajak kita melihat bahwa dalam hidup menggereja, konflik bukan sesuatu yang harus ditakuti atau disangkal. Justru melalui konflik yang diolah dengan rendah hati dan kebijaksanaan, komunitas dimurnikan dan menjadi lebih dewasa. Gereja bukan komunitas tanpa masalah, tetapi komunitas yang belajar setia di tengah masalah.



Kedua : Pelayanan yang Berbuah. Para rasul menyadari bahwa mereka tidak bisa melakukan semua hal sekaligus tanpa kehilangan fokus utama. Mereka menegaskan pentingnya tetap berakar dalam doa dan pelayanan Sabda, sambil mempercayakan pelayanan praktis kepada orang-orang yang dipilih dengan kriteria rohani: penuh Roh dan hikmat. Di sini kita melihat bahwa pelayanan dalam Gereja tidak dibedakan antara “rohani” dan “tidak rohani” dalam arti yang merendahkan salah satunya. Pelayanan meja pun membutuhkan orang yang penuh Roh Kudus. Artinya, setiap bentuk pelayanan—baik pewartaan Sabda maupun tindakan kasih konkret—adalah bagian dari karya Allah yang satu dan sama. Ketika ada keteraturan dan kejelasan panggilan, buahnya nyata: firman Allah makin tersebar dan jumlah murid bertambah. Bahkan para imam pun mulai percaya. Ini menunjukkan bahwa efektivitas misi Gereja tidak hanya bergantung pada semangat, tetapi juga pada keteraturan, kejelasan peran, dan kedalaman spiritual. Perikop ini mengajak kita untuk merefleksikan hidup pelayanan kita: apakah kita sudah menemukan keseimbangan antara doa, Sabda, dan tindakan? Ataukah kita terjebak dalam kesibukan tanpa kedalaman, atau sebaliknya, dalam doa tanpa keberanian untuk bertindak? Dalam harmoni itulah Gereja bertumbuh dan menjadi tanda nyata kehadiran Allah di dunia.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda