Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Jumat, 1 Mei 2026. Cermin Hidup Beriman yang Jujur (Kisah Para Rasul 13:26-33). 13:26 Hai saudara-saudaraku, baik yang termasuk keturunan Abraham, maupun yang takut akan Allah, kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita. 13:27 Sebab penduduk Yerusalem dan pemimpin-pemimpinnya tidak mengakui Yesus. Dengan menjatuhkan hukuman mati atas Dia, mereka menggenapi perkataan nabi-nabi yang dibacakan setiap hari Sabat. 13:28 Dan meskipun mereka tidak menemukan sesuatu yang dapat menjadi alasan untuk hukuman mati itu, namun mereka telah meminta kepada Pilatus supaya Ia dibunuh. 13:29 Dan setelah mereka menggenapi segala sesuatu yang ada tertulis tentang Dia, mereka menurunkan Dia dari kayu salib, lalu membaringkan-Nya di dalam kubur. 13:30 Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati. 13:31 Dan selama beberapa waktu Ia menampakkan diri kepada mereka yang mengikuti Dia dari Galilea ke Yerusalem. Mereka itulah yang sekarang menjadi saksi-Nya bagi umat ini . 13:32 Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita, 13:33 telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 13:26–33:
Pertama : Ketika Sabda Didengar tetapi Tidak Dikenali sebagai Sabda yang Hidup. Paulus dengan tajam menyingkap sebuah ironi rohani: mereka yang tinggal di Yerusalem dan para pemimpinnya setiap hari Sabat mendengar Kitab Suci dibacakan, namun justru tidak mengenali bahwa Sabda itu sedang digenapi di hadapan mereka dalam diri Yesus. Bahkan, tanpa sadar, mereka malah menggenapi nubuat itu dengan menjatuhkan hukuman kepada-Nya. Di sini kita melihat bahwa kedekatan dengan hal-hal rohani tidak otomatis berarti kedalaman iman. Rutinitas religius bisa berjalan berdampingan dengan kebutaan hati. Perikop ini menjadi cermin yang jujur bagi hidup beriman kita: betapa mudahnya kita merasa “sudah tahu” karena sering mendengar Sabda, tetapi kehilangan kepekaan untuk menangkap kehadiran Allah yang konkret dan aktual dalam hidup sehari-hari. Sabda Allah bukan sekadar teks yang dibacakan berulang-ulang, melainkan realitas hidup yang menuntut keterbukaan hati. Maka iman sejati menuntut lebih dari sekadar mendengar ia menuntut kesiapsediaan untuk diubah, bahkan ketika Allah hadir dengan cara yang tidak sesuai dengan harapan kita.
Kedua : Kebangkitan sebagai Jawaban Allah atas Penolakan Manusia. Paulus menegaskan bahwa meskipun Yesus ditolak, dihukum, dan disingkirkan, Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Kebangkitan di sini bukan hanya peristiwa ajaib, tetapi sebuah “putusan ilahi” yang membalikkan putusan manusia. Apa yang dianggap gagal oleh manusia justru diteguhkan sebagai benar oleh Allah. Dengan mengutip mazmur, Paulus menunjukkan bahwa kebangkitan adalah penggenapan janji Allah—bahwa rencana keselamatan-Nya tidak dapat digagalkan oleh penolakan manusia. Ini memberi perspektif baru dalam memandang hidup: bahwa dalam dinamika iman, kegagalan, penolakan, bahkan penderitaan tidak pernah menjadi kata akhir. Allah memiliki cara-Nya sendiri untuk menghadirkan kehidupan dari situasi yang tampak sudah “selesai”. Dalam terang kebangkitan, kita diajak untuk percaya bahwa Allah tetap bekerja melampaui logika manusia. Harapan Kristen bukanlah optimisme dangkal, melainkan keyakinan mendalam bahwa Allah setia pada janji-Nya, dan mampu mengubah salib menjadi jalan menuju kemuliaan.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda