Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 29 April 2026. Firman Allah Makin Tersebar (Kisah Para Rasul 12:24-13:5a). 12:24 Maka firman Tuhan makin tersebar dan makin banyak didengar orang. 12:25 Barnabas dan Saulus kembali dari Yerusalem, setelah mereka menyelesaikan tugas pelayanan mereka. Mereka membawa Yohanes, yang disebut juga Markus. 13:1 Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus. 13:2 Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka. 13:3 Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi. 13:4 Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus. 13:5 Setiba di Salamis mereka memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi. Dan Yohanes menyertai mereka sebagai pembantu mereka
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 12:24–13:5:
Pertama : Sabda Allah Bertumbuh melalui Kesetiaan yang Sederhana dan Taat. Bacaan ini diawali dengan kalimat yang kuat: “Firman Tuhan makin tersebar dan makin banyak didengar orang.” Pertumbuhan Sabda Allah tidak digambarkan sebagai sesuatu yang spektakuler secara manusiawi, melainkan sebagai buah dari kesetiaan yang terus-menerus—di tengah situasi yang tidak selalu mudah. Barnabas dan Saulus baru saja kembali dari Yerusalem setelah menyelesaikan tugas pelayanan, tanpa sorotan berlebihan, tanpa pencapaian yang diagungkan, tetapi dengan kesetiaan menuntaskan yang dipercayakan kepada mereka. Di Antiokhia, Sabda Allah terus bertumbuh justru karena ada komunitas yang hidup dalam ritme mendengarkan, melayani, dan berjalan bersama. Ini menegaskan bahwa pertumbuhan Kerajaan Allah sering kali tidak lahir dari hal yang dramatis, melainkan dari ketaatan yang konsisten dan pelayanan yang setia dalam hal-hal yang tampak sederhana. Dalam logika Allah, kesetiaan kecil yang terus-menerus justru menjadi ruang subur bagi meluasnya Sabda.
Kedua : Misi Allah Lahir dari Gereja yang Berdoa, Berpuasa, dan Membedakan Suara Roh. Panggilan Barnabas dan Saulus tidak lahir dari strategi manusia, melainkan dari peristiwa rohani yang sangat dalam: “Ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus…” Gereja di Antiokhia memperlihatkan wajah komunitas yang hidup: mereka tidak hanya aktif, tetapi juga berakar dalam doa dan puasa tidak hanya bekerja, tetapi juga mendengarkan Roh Kudus. Menarik bahwa Roh tidak berkata kepada individu yang sedang sendirian, tetapi kepada komunitas yang sedang beribadah. Ini menunjukkan bahwa discernment (pembedaan roh) dalam Gereja bukanlah pengalaman pribadi yang terisolasi, melainkan buah dari kehidupan komunitas yang menyembah Allah bersama. Dari sana lahir keberanian untuk mengutus, melepaskan, dan mempercayakan Barnabas dan Saulus kepada karya yang lebih luas. Gereja yang hidup adalah Gereja yang tidak hanya mengumpulkan orang, tetapi juga berani mengutus tidak hanya memelihara, tetapi juga melepaskan demi misi Allah yang lebih besar. Roh Kuduslah yang menjadi subjek utama, sementara komunitas hanya belajar untuk taat dan berjalan bersama-Nya.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda