Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Sabtu, 25 April 2026. Kerendahan Hati (1 Petrus 5:5b-14). 5:5 Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. 5:6 Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. 5:7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. 5:8 Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. 5:9 Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. 5:10 Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. 5:11 Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin. 5:12 Dengan perantaraan Silwanus, yang kuanggap sebagai seorang saudara yang dapat dipercayai, aku menulis dengan singkat kepada kamu untuk menasihati dan meyakinkan kamu, bahwa ini adalah kasih karunia yang benar-benar dari Allah. Berdirilah dengan teguh di dalamnya! 5:13 Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon, dan juga dari Markus, anakku. 5:14 Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus. Damai sejahtera menyertai kamu sekalian yang berada dalam Kristus. Amin.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, 1 Petrus 5:5–14:
Pertama : Kerendahan Hati sebagai Jalan Masuk ke Dalam Pemeliharaan Allah. Rasul Petrus tidak hanya mengajak kita untuk “rendah hati” sebagai sikap moral, tetapi sebagai sikap iman radikal, yang menempatkan diri sepenuhnya di bawah tangan Tuhan. Kerendahan hati di sini bukan sikap lemah atau minder, melainkan keberanian untuk tidak lagi mengandalkan diri sendiri. Menarik bahwa ajakan ini langsung diikuti dengan perintah: “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya.” Artinya, akar dari banyak kekuatiran kita sebenarnya adalah keinginan untuk tetap memegang kendali. Kita ingin mengatur hidup, memastikan masa depan, dan menghindari ketidakpastian. Namun iman justru mengundang kita untuk melepaskan kontrol itu dan percaya bahwa Tuhan sungguh memelihara. Di sinilah paradoks rohani terjadi: ketika kita merendahkan diri, kita tidak jatuh—kita justru diangkat oleh Tuhan pada waktunya. Refleksinya: apakah kita sungguh percaya bahwa Tuhan memelihara kita, atau kita masih diam-diam ingin menjadi “tuhan” atas hidup kita sendiri?
Kedua : Kewaspadaan Rohani di Tengah Solidaritas Penderitaan. Gambaran tentang Iblis sebagai singa yang mengaum mengingatkan bahwa hidup kristiani adalah perjuangan, bukan zona nyaman. Namun Petrus tidak mengajak kita untuk takut, melainkan untuk sadar dan berjaga-jaga dengan iman yang teguh. Kunci pentingnya ada pada kesadaran bahwa penderitaan kita bukan sesuatu yang unik atau terisolasi: “semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” Ini membuka perspektif baru—bahwa kita berjalan dalam persekutuan Gereja yang menderita bersama, tetapi juga berharap bersama. Iman yang teguh bukan berarti tidak goyah sama sekali, melainkan tetap bertahan karena tahu kita tidak sendirian dan Tuhan sedang bekerja. Bahkan lebih jauh, penderitaan itu hanya “seketika lamanya” dibandingkan dengan kemuliaan kekal yang dijanjikan. Allah sendiri yang akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan. Pertanyaannya bagi kita: ketika menghadapi pencobaan dan kesulitan, apakah kita memilih untuk menyerah pada ketakutan, atau berdiri teguh dalam iman sambil menyadari bahwa kita ditopang oleh Tuhan dan oleh persekutuan Gereja di seluruh dunia?
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda