Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 22 April 2026. Luka Menjadi Jalan Rahmat (Kisah Para Rasul 8:1-8). 8:1 Saulus juga setuju, bahwa Stefanus mati dibunuh.(8-1b) Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. 8:2 Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat. 8:3 Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara. 8:4 Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. 8:5 Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. 8:6 Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu. 8:7 Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan. 8:8 Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 8:1–8:
Pertama : Misteri Allah yang Mengubah Luka Menjadi Jalan Rahmat. Penganiayaan yang dahsyat setelah kematian Stefanus tampak sebagai tragedi besar bagi Gereja perdana. Saulus menjadi simbol kekerasan yang ingin memadamkan iman, bahkan sampai masuk dari rumah ke rumah untuk menyeret umat Tuhan ke penjara. Namun, justru di tengah tekanan itulah terjadi paradoks ilahi: mereka yang tercerai-berai tidak kehilangan iman, melainkan pergi sambil memberitakan Injil. Penderitaan yang seharusnya menghancurkan, oleh Allah diubah menjadi sarana penyebaran keselamatan. Dalam rencana Allah, tidak ada penderitaan yang sia-sia. Bahkan luka terdalam sekalipun dapat menjadi jalan bagi rahmat untuk menjangkau lebih banyak jiwa.
Kedua : Sukacita sebagai Buah Kehadiran Injil yang Membebaskan. Pelayanan Filipus di Samaria memperlihatkan bahwa Injil bukan sekadar kata-kata, tetapi kuasa yang memulihkan kehidupan secara utuh. Orang-orang yang kerasukan dibebaskan, yang lumpuh disembuhkan, dan yang terpinggirkan dipulihkan martabatnya. Buah dari semua itu bukan hanya kekaguman, melainkan “sukacita besar” yang memenuhi seluruh kota. Tanda sejati kehadiran Kristus adalah sukacita yang lahir dari pembebasan—bukan sukacita dangkal, tetapi sukacita yang muncul karena hidup disentuh dan diperbarui oleh Allah. Dalam kehidupan harian, iman sejati seharusnya tidak berhenti pada rutinitas atau kewajiban, tetapi menghasilkan sukacita yang nyata dan menular.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda