Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin, 20 April 2026. Kesaksian Penuh Roh Kudus (Kisah Para Rasul 6:8-15). 6:8 Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. 6:9 Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini--anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria--bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, 6:10 tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara. 6:11 Lalu mereka menghasut beberapa orang untuk mengatakan: Kami telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah. 6:12 Dengan jalan demikian mereka mengadakan suatu gerakan di antara orang banyak serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat mereka menyergap Stefanus, menyeretnya dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama. 6:13 Lalu mereka memajukan saksi-saksi palsu yang berkata: Orang ini terus-menerus mengucapkan perkataan yang menghina tempat kudus ini dan hukum Taurat, 6:14 sebab kami telah mendengar dia mengatakan, bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merubuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita. 6:15 Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 6:8–15:
Pertama : Kesaksian Penuh Roh Kudus. Stefanus digambarkan sebagai orang yang “penuh dengan karunia dan kuasa,” melakukan tanda dan mukjizat besar di tengah bangsa. Kehadirannya menimbulkan perdebatan dengan beberapa orang, tetapi mereka tidak mampu mengalahkan hikmat dan Roh yang ada padanya. Stefanus menunjukkan bahwa kesaksian iman tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga melalui hidup yang dipenuhi Roh Kudus. Stefanus tidak hanya berbicara tentang iman, tetapi hidupnya sendiri menjadi bukti nyata dari kuasa Allah. Kesaksian Kristen yang paling kuat nampak pada hidup yang konsisten, penuh Roh, dan memancarkan kebenaran. Orang lain dapat saja menolak kata-kata kita, tetapi mereka sulit menyangkal hidup yang sungguh diubahkan oleh Allah.
Kedua : Penolakan terhadap Kebenaran Berawal dari Hati yang Tertutup. Ketika para lawan Stefanus tidak mampu melawan hikmatnya, mereka tidak berhenti di sana. Mereka justru menghasut orang, memutarbalikkan perkataan Stefanus, dan membawa dia ke hadapan Mahkamah Agama dengan tuduhan palsu. Penolakan terhadap kebenaran sering bukan disebabkan oleh kekurangan bukti, tetapi oleh hati yang sudah tertutup oleh kepentingan dan ketakutan kehilangan kuasa. Meskipun tanda-tanda kuasa Allah nyata di depan mata, mereka tetap memilih untuk menolak. Wajah Stefanus bahkan digambarkan seperti “wajah malaikat,” tanda damai dan kehadiran Allah, namun tetap tidak mengubah hati mereka. Kebenaran Allah sering ditolak bukan karena tidak jelas, tetapi karena tidak diinginkan. Teruslah menjaga hati tetap terbuka, agar tidak menolak karya Allah yang hadir dengan cara-cara yang mungkin tidak selalu sesuai dengan harapan kita.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda