Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 16 April 2026. Ketaatan kepada Allah: Tanda Kesetiaan pada Kerahiman yang Telah Dialami (Kisah Para Rasul 5:27-33). 5:27 Mereka membawa keduanya dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Imam Besar mulai menanyai mereka, 5:28 katanya: Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Namun ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami. 5:29 Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. 5:30 Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. 5:31 Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. 5:32 Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia. 5:33 Mendengar perkataan itu sangatlah tertusuk hati mereka dan mereka bermaksud membunuh rasul-rasul itu.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 5:27–33:
Pertama : Ketaatan kepada Allah sebagai Tanda Kesetiaan pada Kerahiman yang Telah Dialami. Dalam bacaan ini, para rasul dihadapkan kembali kepada Mahkamah Agama setelah sebelumnya dilepaskan secara ajaib dari penjara. Mereka ditanya mengapa tetap memberitakan nama Yesus meskipun telah dilarang dengan tegas. Jawaban Petrus sangat jelas: “Kami harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia.” Dalam terang Kerahiman Ilahi, sikap ini menunjukkan bahwa kerahiman Allah yang telah mereka alami tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi, tetapi menjadi dorongan untuk tetap setia kepada Allah. Orang yang sungguh mengalami belas kasih Tuhan tidak lagi mudah dikendalikan oleh rasa takut terhadap manusia, karena hatinya sudah dikuatkan oleh kebenaran Allah. Kerahiman Allah membentuk keberanian untuk tetap setia di masa kini. Ketaatan para rasul merupakan buah dari kesadaran bahwa hidup mereka sepenuhnya berada dalam tangan Allah yang penuh belas kasih. Pengalaman akan kerahiman Tuhan seharusnya menghasilkan hati yang tidak mudah berkompromi mengkhianati kebenaran, sekalipun ada tekanan dari dunia.
Kedua : Penolakan terhadap Kerahiman Allah sebagai Sumber Kebutaan Rohani. Bacaan ini juga menampilkan reaksi para pemimpin agama yang semakin keras: mereka marah, ingin membunuh para rasul, dan menolak kesaksian tentang Yesus. Ironisnya, di hadapan tanda-tanda karya Allah yang nyata, mereka justru semakin menutup diri. Dalam konteks Kerahiman Ilahi, sikap ini menunjukkan bahwa manusia dapat menolak kerahiman Allah bukan karena Allah tidak hadir, tetapi karena mereka menutup hati. Penolakan terhadap kerahiman membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk melihat karya Allah yang sedang berlangsung. Para rasul berbicara tentang “Allah nenek moyang kita yang telah membangkitkan Yesus,” tetapi para pemimpin justru tidak mampu menerima kebenaran itu karena hati mereka telah dikuasai oleh kepentingan dan kekuasaan. Kerahiman Allah selalu ditawarkan, tetapi tidak pernah dipaksakan. Maka pertanyaannya bukan hanya apakah Allah masih mengasihi kita, tetapi apakah hati kita masih terbuka untuk menerima kasih-Nya.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda